
Yang paling tidak disukai oleh Quinsha ketika datang ke yayasan, adalah bertemu dengan Bayhaki Arfan. Setidaknya, perasaan ini berlaku sejak beberapa hari yang lalu. Sejak fakta yang sudah ia ketahui tentang lelaki itu.
Sebelumnya, Bayhaki Arfan adalah salah satu alasan Quinsha senantiasa bersemangat tiap kali datang untuk mengajar. Walaupun mereka jarang bertegur sapa, hanya saling bertukar senyum singkat kala berpapasan. Tapi itu sudah cukup menjadi mood buster yang luar biasa bagi seorang Quinsha Daneen.
Kini, semuanya sudah berubah. Walaupun perubahan tersebut masih sebatas tekad yang tertanam dalam diri Quinsha. Karena kalau dalam hati yang sebenarnya, tak mudah baginya untuk mengubah haluan cinta, tak semudah mengucap tekad dalam sebentuk kata.
Tapi hari ini apa yang terjadi? Bayhaki Arfan yang menempati urutan teratas dari deretan nama yang ingin dihindari, justru datang menemuinya. “Assalamualaikum, Quinsha Daneen,” sapa lelaki tampan yang berdiri di seberang meja kerja Quinsha itu.
“Wa-waalaikum salam,” sahut Quinsha dengan sedikit gugup. Gugup karena ia sama sekali tak menyangka kalau Arfan sengaja datang menyapanya. Beberapa menit lalu, ketika ia melihat lelaki itu bicara dengan sesama rekan guru putra di depan pintu kantor, Quinsha segera menyibukkan dirinya dengan buku-buku tugas murid. Dan ia menulikan telinganya dari segenap rekan-rekan guru lain yang menyapa Arfan. Berpura-pura tak peduli, itu sikap yang dipilih. Ternyata malah Arfan telah berdiri di hadapannya kini.
Arfan dan Quinsha memang mengajar di satu yayasan yang sama, tapi di instansi yang berbeda. Arfan di MA, sedangkan Quinsha di Mts. Jadi keduanya tidak berada dalam satu kantor yang sama.
“Saya mengganggu ya?” tanya Arfan, demi di lihatnya Quinsha hanya diam saja setelah menjawab ucapan salamnya.
“Ah tidak. Apa Akhi ada kepentingan dengan saya?” Quinsha segera bertanya sopan, sepertinya dia mulai bisa menguasai diri sekarang. Tapi jangan tanya seberapa banyak debaran yang dirasakan. Seberapa cepat dan seberapa keras, untung saja orang lain tak kan bisa mendengar.
“Ya, saya ingin menyampaikan sesuatu pada, Ukhty,” jawab Arfan—Akhi-Ukhty itu adalah panggilan keduanya dari sejak di pesantren Darul-Falah.
__ADS_1
“Silakan duduk!” tunjuk Quinsha dengan ibu jari ke arah kursi di depannya.
“Saya hanya ingin menyampaikan ini, Quinsha,” kata Arfan sambil menyodorkan sebuah undangan. Lelaki itu sengaja mengganti sebutan ‘ukhty’ menjadi nama saja, supaya tidak terkesan kaku.
QUinsha menerima undangan berupa kertas putih sederhana itu dan membaca kop depannya. Bukan surat undangan pernikahan Arfan, tapi undangan reuni dari pesantren Darul-Falah. “saya bisa titip padamu juga, undangan buat Sherin Mumtaza?” tanya Arfan kemudian.
Quinsha mengangguk singkat. “Semua undangan untuk sekretariat kota Malang, Akhi yang pegang?” wanita itu sengaja tak merubah panggilannya, sebagaimana Arfan terhadapnya, Karena ia tak ingin terkesan lebih akrab dengan lelaki itu sekarang.
“Tidak semuanya. Tapi di bagi pada tiga orang,” jawab Arfan sambil meyodorkan undangan atas nama Sherin Mumtaza. “Untuk Aura Aneshka juga ada pada saya. Tapi dia tidak tinggal di kota ini ‘kan ya?”
“Dia ada di kota ini juga,” sahut Quinsha cepat.
“Kalau begitu, undangan untuk Aura akan saya pinta pada teman saya. Bisa dititip pada kamu juga ‘kan?”
“Bisa.”
Arfan mengangguk dengan senyum. Semua kepentingannya sudah selesai. Quinsha berharap lelaki itu segera undur diri dari hadapannya. Tapi Arfan justru masih menatap wanita di depannya itu, seakan ada hal yang belum dituntaskan. “Saya boleh tanya sesuatu?”
__ADS_1
“Mau tanya apa?” Quinsha balik tanya dengan cepat. Di titik ini debarannya kembali menguat. Ia sudah bisa menebak—dari bahasa tubuh Arfan—kalau apa yang akan dibicarakan adalah hal yang privasi.
“Kamu kenal ya dengan artis muda yang sangat terkenal sekarang? Rafardhan Malik?”
“Oh.” Quinsha tersembunyi menghela Napas bersama rasa lega dalam dada karena pertanyaan Arfan tak seperti yang disangka. (Memang kamu menyangka apa, Quinsha)
“Hanya tau saja,” jawab Quinsha singkat.
“Ngefans ya?” tanya Arfan disertai seulas senyuman. Quinsha menggeleng dan segera melempar pandang ke sembarang arah. Pasalnya senyuman sekilas dari Arfan seakan kilat yang menghantam jantungnya, dan menghasilkan debaran kuat kembali. ‘Sedemikian kuat kah pesonanya di hatiku’? Keluh Quinsha di dalam hati.
“Maaf ya, Quinsha. Saya bukannya ingin mencampuri urusan pribadi kamu. Saya hanya bertabayyun saja, tentang sebuah foto yang saya lihat,” kata Arfan demi dilihatnya Quinsha enggan untuk menjawab.
“Foto apa?”
“Foto kamu.”
“Foto saya?” Quinsha sedikit mengerutkan keningnya. “Di mana Akhi melihat foto saya?”
__ADS_1
“Jadi kamu gak tau, ya?” Arfan malah balik tanya. Quinsha menggeleng. Tatapannya menyiratkan ketidaktahuan. “Kamu tidak tau, foto kamu sama artis itu di sebuah tabloid?”