
“Berapa lama lagi, Rafardhan tampan?” Adam mengombinasikan dua hal dalam ucapannya, pujian dan kekesalan. Pasalnya ia sudah menunggu hampir satu jam, tapi anak asuhnya itu belum juga datang.
Sudah Berkali ditelepon, tapi Rafardhan hanya mengatakan ‘iya, sebentar lagi’ lagi dan lagi, hanya kalimat itu lagi.
“Gue gak mau tau ya, setengah jam, lu belum dateng, gue jemput lu pakai ambulance,” ancam Adam. Rafardhan hanya diam, karena sang manager sudah memutus sambungan. Laki-laki itu melepas earphone dari telinganya dan melemparkannya ke sembarang arah.
Tatapannya kembali fokus ke jalanan yang akan dilalui, di depan sana. Meski sudah mendapat ancaman agar lebih cepat dari Adam, tapi Rafardhan justru semakin santai melajukan mobilnya. Sesekali pandangannya menoleh kanan kiri, seperti sedang mencari-cari.
Sekitar 500 meter di depan, terdapat sebuah papan nama yang bertuliskan kedai kopi. Bibir merah Rafardhan langsung membentuk senyuman, kala menemukan apa yang dicari. Diam dengan dirinya sendiri itu yang diinginkannya saat ini. Perkara setelah ini, Adam mau berpidato, atau berkhotbah, itu urusan nanti. Yang penting ia merasakan ketenangan sendiri. Sore yang gerimis dengan segelas kopi, pasti mantap sekali.
Tapi sebelum mobilnya mendarat ke halaman kedai kopi, tatapannya lebih dulu mendarat ke sebuah penampakan yang seperti sangat ia kenali.
Seorang gadis berjilbab melangkah gontai di tengah gerimis. Bukan hanya titik hujan saja yang terlihat di selembar kain berwarna soft yang menutupi kepala serta bagian atas badannya, tapi hijab lembut itu sudah seperti dituangi air dari langit saja, saking basahnya.
Rafardhan mengarahkan mobil tepat ke samping gadis itu dan berhenti setelah membunyikan klakson lebih dulu. Buru-buru ia turun dari mobil tanpa memakai masker lebih dulu—memakai masker itu sudah menjadi kebiasaannya tiap kali berada di luar tanpa pengawalan manager—karena sebagai artis terkenal, yang wajahnya sudah sangat familiar, tak menutup kemungkinan, jika di mana-mana ketemu penggemar.
“Quinsha!” panggil Rafardhan pada si gadis yang kerudungnya sudah basah kuyup itu.
Tapi si empunya nama tidak mendengar, dia terus saja melangkah dengan gontai, dan tak peduli dengan suasana sekitar.
“Quin, tunggu!” panggil Rafardhan sekali lagi, dan kali ini pemuda itu langsung berdiri menghadang langkahnya.
__ADS_1
Gadis itu terdongak, menatap siapa yang telah menghalangi jalannya. Memang benar itu Quinsha. Ia menatap lelaki di depannya itu dengan tatapan datar.
“Kamu mau kemana?” tanya Rafardhan. Quinsha menggeleng.
“Mobil kamu di mana?”
Quinsha kembali menggeleng.
“Kamu sama siapa?”
Dan lagi-lagi Quinsha hanya menggeleng saja. Seakan kepala yang tertutup hijab itu adalah robot yang sudah diprogram untuk selalu memberikan respons berupa gelengkan kepala tiap kali ada yang mengajaknya bicara.
Rafardhan menatap raut wajah Quinsha seksama. Ada yang aneh pada gadis itu. Ada sembab di bingkai matanya yang senantiasa menatap datar saja.
“kamu kenapa? Tumben kamu kehilangan kosakata saat bertemu saya?” tanya Rafardhan seraya mengusap usap wajah dan rambutnya yang sedikit basah dengan tisu.
Tak terdengar Quinsha memberikan jawaban, membuat Rafardhan menoleh pada wanita yang duduk tak jauh di sampingnya dalam mobil itu. Gadis tersebut masih memperlihatkan ekspresi yang sama seperti saat pertama.
“Hei!” Rafardhan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Quinsha. Barulah gadis itu menampakkan ekspresi kagetnya.
“Are you ok, Quin?"
__ADS_1
“Ya,” jawab Quinsha singkat dan segera mengalihkan tatap.
“Syukurlah,” ucap Rafardhan lega. Ia sempat terbersit pikiran kalau gadis yang sedang bersamanya itu sedang dalam pengaruh hipnotis, karena melihat wajahnya yang tanpa ekspresi dan tatapannya yang tak tersirat arti. Ditambah lagi Quinsha tengah berjalan kaki, di bawah gerimis lagi. Padahal setahu Rafardhan, Quinsha tiap kemana-mana selalu pakai mobil, tiap pulang dan pergi.
“Mau cerita? Saya dengarkan,” tawar Rafardhan. Hilang sudah hasratnya untuk ngopi. Ia justru merasa lebih penasaran akan apa yang sedang dialami oleh Quinsha ini.
“Tidak.” Quinsha menggeleng pelan.
“Ok, kalau gitu saya antar pulang.” Lelaki itu segera menghidupkan mesin mobilnya dan kembali menatap Quinsha sebelum roda kuda besinya itu bergulir. “Sebaiknya keringkan dulu hijab kamu, saya ada beberapa perlengkapan di belakang.” Rafardhan memberi isyarat dengan kepala ke jok mobil di belakang.
“Gak usah,” tolak Quinsha dengan suara pelan.
“Kamu sangat basah, Quin. Bisa masuk angin.”
“Gak papa,” sahut Quinsha singkat. Gadis itu berada dalam kondisi yang seakan benar-benar tak peduli dengan dirinya sekarang. Entah badai apa yang tengah menimpanya, begitu pikir Rafardhan.
Roda mobil telah bergulir membelah jalanan yang merambah petang, disela gerimis mengundang. Keheningan menghiasi sepanjang jalan, meski kini Rafardhan sudah tak sendirian. Quinsha yang tak ingin keluar dari zona nyaman dengan apa yang tengah dirasakan, hingga menafikan setiap yang ada di sekitar. Dan Rafardhan yang juga tak ingin menyelam pada kubangan air, di mana Quinsha kini tengah berenang.
Maka kebisuan yang ada, menjadi jarak yang nyata di antara keduanya, meski sedang duduk bersama.
******
__ADS_1
Pemberiathuan..
kalimat berbahasa asing. harusnya di italic ya, tapi aku mengalami sedikit masalah dengan perangkat yg ku gunakan, di bagian ketik miring.