Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 70


__ADS_3

“Aresh, terima kasih,” Alarick menepuk pundak keponakannya itu sambil tersenyum lebar. Mereka berdua memang sudah datang dari Jakarta dari tadi malam, dan hari ini keduanya sama-sama sedang meninjau pembangunan pabrik di perkebunan.


Hanya setengah bulan dari kejadian kebakaran yang menghanguskan semuanya, dan membuat puluhan pekerja kehilangan mata pencaharian. kini Alarick tak hanya bisa membangun kembali pabriknya tapi juga langsung bisa memasarkan kembali hasil produk pabrik dalam jangkauan pasar yang lebih luas dari sebelumnya.


Dan semua itu tak lepas dari peran serta Damaresh. Entah apa yang dilakukan oleh keponakannya itu, ketika ia tiba-tiba membawa Alarick untuk ikut bergabung dengan perusahaan ritel waralaba terbesar di Indonesia, yang memiliki ratusan toko yang tersebar di seluruh nusantara.


Tanpa banyak syarat ataupun melalui sebuah proses survei yang panjang, Alarick langsung teken kontrak kerja sama dengan PT Indoprisma tersebut. Dan terhitung mulai hari ini, ia kembali bisa mendistribusikan hasil produknya lagi.


“Semua ini memang hal yang harus kulakukan, Om. Tak perlu berterima kasih,” sahut Damaresh. Mengingat semua ini terjadi karena dirinya juga.


Alarick mengangguk, namun seketika terenyak ketika sebuah ingatan melintas dalam benak. “Indoprisma itu, anak perusahaan Winata Group ya Resh?”


“Iya,” jawab Damaresh singkat.


“Bukankah Winata Group itu rekanan bisnis Pramudya Corp?”


“Benar.”


“Jadi maksudnya?” Alarick jadi menatap Damaresh penuh tanya. “Secara tak langsung kau memasukkan aku dalam lingkaran bisnis Pramudya Corp?”


“Itu tempat paling aman untuk bisnisnya Om Alarick. Setelah ini kakek tak akan menyentuh bisnis, Om lagi, karena bila itu ia lakukan, sama saja dengan merugikan bisnisnya sendiri,” urai Damaresh.


“Ku rasa, papa tak akan takut merugi demi untuk kepuasannya sendiri, Aresh.”


“Benar, tapi itu beberapa waktu lalu, ketika Pramudya masih berada di atas angin. Tapi kalau sekarang, kakek pasti masih berpikir sepuluh kali untuk melakukannya, Om.”


“Apa kondisi Pramudya Corp betul-betul sudah memprihatinkan?” tanya Alarick dengan raut wajah serius.


“Cukup memprihatinkan, tapi Edgard belum menyadarinya, sedangkan kakek saat ini, fokus mengurus Pramudya di London bersama Anthoni.”


Alarick menatap Damaresh seksama walau tidak dengan durasi waktu yang cukup lama. “Sepertinya aku tidak terlalu mengenalimu ya, Resh?”

__ADS_1


Alarik tak tahu menahu seberapa banyak koneksi yang dimiliki oleh keponakannya itu. Kenapa di tangannya semua hal terlihat begitu mudah. Ia tahu kalau Damaresh memang sangat cerdas dan teliti. Tapi apa yang diperlihatkan oleh keponakannya itu saat ini adalah lebih dari sekadar kecerdasan dan kejelian saja. Begitu menurut Alarik, sehingga ia merasa belum cukup mengenal Damaresh dengan benar.


Damaresh tertawa renyah mendengar ucapan Alarik tersebut.


“Om Al, mencurigaiku?”


“Tidak.” Alarick menggeleng tegas.


“Aku hanya tak habis pikir, bagaimana caramu melakukan semua ini. Dari mulai mengajak kerja sama dengan PT Indoprisma serta mendapatkan informasi tentang Pramudya Corp dengan detail. Kalau kau masih sebagai CEO Pramudya, aku tak akan mengherankan hal ini,” ungkap Alarick terkait pemikirannya tentang Damaresh.


“Pemilik Winata Group, masih sangat suka bicara denganku, Om. Sehingga aku bisa minta tolong padanya,” sahut Damaresh dengan santai.


“Tapi bukankah papa sudah memblacklistmu untuk bekerja di perusahaan mana pun di negara ini? Apalagi dalam perusahaan-perusahaan yang berada dalam lingkar bisnis Pramudya?”


“Iya, kakek melakukan semua itu dengan kekuasaannya, tanpa ia sadari kalau sebenarnya kekuasaannya itu terbatas. Dan aku berada diluar batas kekuasaannya itu, Om,” tandas Damaresh.


“Lalu kenapa kau tidak melawan, Aresh? Kalau kau memang bisa, Kenapa kau membiarkan dirimu ditindas oleh papa?” cecar Alarik yang semakin merasa kesal saja pada tindakan William.


Alarick langsung tersenyum dan menatap Damaresh takjub. “Kau mempelajari itu dari Aura?” tanyanya.


“Bukan. Tapi karena Arra aku mempelajarinya,” jawab Damaresh.


“Aura Aneshka, gadis itu luar biasa.” Alarick mengutarakan kekaguman pada istri keponakannya itu.


“Aura Aneshka dan Sherin Mumtaza itu hampir sama, Om. Mereka satu frame, satu pemikiran dan satu pemahaman yang sama. Kalau Om Alarick bisa kagum pada istriku, semestinya Om harus merasa lebih kagum lagi


Pada istrimu,” ucap Damaresh dengan tatapan mengarah.


Alarik tak hanya jadi terenyak mendengar sindiran telak dari keponakannya itu. Bahkan kini Terlihat lelaki itu menghindari tatapan Damaresh.


“Om, move on! Karena dengan itu kau akan bisa melihat kilau permata di sampingmu. Dan tak hanya bisa melihat kilau permata yang ada di sampingku.”

__ADS_1


Dan kini terlihat Alarick menghela napasnya samar atas ucapan Damaresh itu.


“Maaf, Om. Aku tak bermaksud menggurui ataupun ingin mengusik masa lalumu. Yang aku lihat, hanya apa yang ada di depanku saat ini. Begitu pun Om Al dengan istrimu kini.”


Tak ada kalimat apa pun yang dapat terlisan dari Alarik atas semua ucapan Damaresh itu. Ia diam dalam maya pikirnya sendiri dan terus terdiam kendati suami Aura itu telah berpamit pergi.


ALarik bukanlah seorang yang berhati batu, atau memiliki jiwa yang membeku. Setiap kalimat yang terlontar dari Claudya beberapa saat lalu, dan kini dari Damaresh itu, sudah terangkum dalam kalbu.


Jauh di relung hatinya yang paling dalam, ia akui kalau semua ucapan mereka itu benar tanpa perlu adanya sanggahan. Dan tak ada yang tahu, kalau sebenarnya Alarik sudah sering terkapar dalam bimbang. Silih berganti nama Sherin dan Kanaya ia sebutkan.


Hanya saja hingga kini, rasa bersalahnya pada Kanaya sangat melampaui. Terlebih saat putra mereka enggan di temui. Alarik tak dapat menggambarkan seberapa banyak jiwanya berkalung perih.


Tapi di saat seperti ini, kata-kata Sherin kerap ia ingat kembali. Untuk meminta hati sang putra pada Ilahi. Maka di sinilah Alarik kini, di atas sajadah, serta tengadahkan tangan dalam rentetan harap yang pasti.


Sekitar jam 9 malam, saat Alarik tengah sibuk memeriksa ulang dokumen kerja samanya dengan PT Indoprisma, terdapat panggilan di ponselnya.


Assalamualaikum, alarik.


Waalaikumussalam, Mas Rendi. Apa kabarnya?” Alarik sangat antusias saat mendapat telepon dari kakak ipar Kanaya ini.


“Baik, Rick. Maaf aku ganggu kamu malam-malam ya,”


“Gak papa, Mas. Ada apa ya, Mas?” tanya Alarik terdengar tak sabar.


“Besok, bisa datang ke rumah, Rik?”


“Datang ke rumah Mas Rendi?” ulang Alarik hanya untuk memastikan kebenaran ucapan dari Rendi yang ia dengar.


“Iya, sekitar jam 9 pagi. Bisa ya, Rik?”


“Bisa, bisa, Mas. Bisa,” jawab Alarik penuh semangat.

__ADS_1


“Ya udah. Aku tunggu besok ya, Rick” Dan setelah mendapat jawaban “iya” dari Alarik, Rendi segera mengakhiri teleponnya.


__ADS_2