Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 22


__ADS_3

“Nih, baca!” Adam meletakkan tumpukan buku di atas meja depan Rafardhan, yang sedang sibuk dengan gawainya sejak hampir lima belas menit silam.


Dengan ujung matanya, Rafardhan menatap buku-buku tersebut yang rata-rata merupakan buku-buku religi dengan judul yang bermacam-macam. Rafardhan membawa wajahnya terdongak, menatap penuh tanya pada sang manajer yang masih berdiri tak jauh di depannya itu.


“Asli. Malu banget gue ama kelakuan lu. Ampek tiga kali salah dialog gitu,” cibir Adam dengan muka ketus.


RAfardhan hanya berdecak kecil. 'Masalah itu belum kelar, rupanya'. Monolog pemuda itu dalam hati. Dan wajah rupawannya kembali ia hadapkan pada layar ponsel yang sudah jelas menurut Rafardhan itu jauh lebih menarik dari pada buku-buku yang dibawakan oleh mas Adam.


“Pertama kalinya dalam sejarah, seorang Rafardhan salah dialog sampek berkali-kali gitu.” Mas Adam melanjutkan pidatonya. Padahal pidato yang panjang kali lebar sudah ia sampaikan tadi selama dalam perjalanan pulang dari lokasi Syuting sampai tiba di vila. Rupanya pidato itu masih belum selesai, mas Adam masih menyimpan banyak kosakata dalam otaknya yang perlu ia sampaikan.

__ADS_1


“Udah telpon bini lu, Mas? Biasanya jam segini ‘kan lu telepon dia.”


Dari pada menanggapi pidato mas Adam yang menurut Rafardhan isinya tetap sama—meskipun disampaikan dengan kalimat dan cara yang berbeda—Rafardhan lebih memilih mengalihkan topik pembicaraan saja.


“Gue serius, Raf! Jangan potong omongan gue!”


“Gue juga serius, Mas,” balas Rafardhan. “gue tau HPL bini lu dah dekat, makanya gue minta lu kasih perhatian lebih ke dia,” imbuhnya. Ini sisi lain dari seorang Rafardhan yang sangat disukai oleh Adam. Dibalik sikap cuek dan cenderung seenaknya itu ada sisi perhatian dan empati yang besar terutama untuk orang-orang yang ada di dekatnya, seperti mas Adam.


“Bini gue baek, dan dia belom waktunya lahiran,” sahut Adam dengan nada suara turun beberapa oktaf. Dan wajah ketus yang ia tampilkan dari tadi juga mulai berubah secara perlahan. Mas Adam menarik kursi di depan Rafardhan dan mendaratkan bokongnya di sana.

__ADS_1


“Taruk hp lu, dan pelajari buku ini!” Mas Adam segera menyampaikan titah dengan tatapan bersungguh-sungguh. Mau tak mau, Rafardhan pun patuh.


Pemuda berwajah tampan—asli sejak dari lahir—itu meraih satu buku dan membuka-bukanya sejenak. Tak sampai lima menit ia letakkan kembali dan mengambil buku yang lain, yang juga diperlakukan sama dengan buku yang pertama, dibuka-buka sejenak dan diletakkan lagi.


Adam yang melihat kelakuan Rafardhan itu segera berdecak kesal. “Gue minta lu serius, Raf!” perintahnya tegas. “Jangan sampai besok, lu ngelakuin kesalahan yang sama,” imbuhnya.


Syuting hari ini memang selesai lebih awal, gara-gara Rafardhan yang salah dialog sampai berulang-ulang. Selaku manajer, mas Adam turun tangan. Ia menyampaikan kalau Rafardhan terlalu capek karena acara semalam, sehingga ia jadi kurang fokus sekarang. Sutradara segera memutuskan untuk melanjutkan besok saja, setelah mendengar penjelasan mas Adam.


Padahal yang sebenarnya, tidaklah demikian. Lelaki itu salah dialog, karena merasa kesulitan untuk menghapal. Apa karena bahasanya terlalu rumit dan panjang? Tidak. Tapi karena materinya yang menyiratkan tentang sebuah pemahaman agama yang dalam serta berada di luar pengetahuan Rafardhan. Hingga ia mengalami kesulitan.

__ADS_1


“Gue paham maksud lu, Mas. Tapi cara yang lu pilih, itu kurang tepat menurut gue. Ibarat kata gini ya, gue tuh lagi sakit batuk tapi lu kasih obat sakit perut. Ini tidak relevan,” protes Rafardhan. Laki-laki yang memang kurang suka baca buku itu menganggap cara Adam ini adalah penyiksaan. “Harusnya lu suruh gue, ngafalin dialog. Bukan ngasih buku kayak ginian,” lanjutnya bersamaan dengan meletakkan buku itu secara spontan.


“Gini ya.” Mas Adam membetulkan posisi duduknya. Siap-siap saja Rafardhan, setelah ini mas Adam akan kembali menyampaikan pidato panjang lebar.


__ADS_2