
“Rafasya.” William memandang wajah tampan yang merupakan duplikat putra bungsunya itu dengan lembut. Bibirnya mengulas senyum.
Yang dipandang hanya menatapnya dengan diam, tak bersambut senyum, bahkan tatapan Rafardhan cenderung kosong.
“Aku minta maaf, Nak. Keterlambatanmu berada di tengah-tengah kami, itu karena aku. Kau tak segera bisa bersama dengan papa kandungmu, itu juga karena aku. Dan kau pun tak pernah merasakan kasih sayang dari ibu yang melahirkanmu, semua karena aku.” William masih menarik napasnya samar, setelah mengakhiri ucapan. Senada dengan Rafardhan yang juga terlihat membuang napas pelan.
“Atas semua ketidak nyamanan yang kau rasakan, aku, adalah orang yang harus bertanggung jawab atas semua itu. Aku minta maaf ... aku tau kalau aku tidak layak meminta maaf, tapi aku harus minta maaf,” lanjut William. Dari suaranya, dan cara pengucapannya, sepertinya ia sedang berusaha membangun ketegaran, di atas jiwanya yang terpuruk dalam kesedihan.
Hasratnya begitu besar, untuk hidup damai dan berdampingan dengan semua anak keturunannya. Tapi di satu sisi, ia juga sadar, kalau sudah terlalu banyak kesalahan yang telah ia lakukan, terutama dalam kehidupan Rafasya, beserta kedua orang tuanya.
Karenanya, ia hanya bertekad untuk meminta maaf, jika pada akhirnya, Rafasya enggan memaafkan apalagi mengakui dirinya sebagai seorang kakek, William sudah siap menerima sebagai satu konsekuensi yang harus ia jalani.
Seyogyanya, setiap manusia tak bisa dengan serta merta sembarangan bersikap dan bertindak, sekali pun ia punya kuasa untuk bisa melakukan segalanya. Karena di balik setiap tindakan kita, akan ada akibat yang harus kita bayar, baik dari sisi kemanusiaan, moral, apalagi di hadapan Sang Pemilik kehidupan. Semua ada pertanggungan jawabnya.
__ADS_1
Rafardhan tak mengatakan apa pun, atas permintaan maaf William padanya. Ia hanya sedikit membuang pandangan ke lain arah, dengan diikuti helaan napas beratnya. Pernah, bahkan sering terbersit tanya dalam pikirannya, akan bagaimana sikapnya nanti, jika bertemu dengan ayah dari papanya itu. Lelaki tampan itu bahkan sempat berharap, agar William tetap membenci dan tak menerimanya, sebagaimana dia dulu tak menerima keberadaan Kanaya. Dengan hal itu, Rafardhan tak perlu bingung untuk menentukan sikapnya bakal bagaimana.
Kehadiran William saat ini di sana, dan di tengah kasus yang sedang di hadapinya, sama sekali tak pernah terbersit dalam maya pikir Rafardhan. Apalagi sampai lelaki tua yang menyandang status sebagai kakeknya itu meminta maaf padanya, di depan umum seperti ini. Rafardhan sungguh tak pernah menduganya sama sekali.
Bukan tidak mungkin, jika momen permintaan maaf William itu terekam oleh kamera salah satu awak media yang belum pergi terlalu jauh dari sana. Setelah barusan ia sendiri yang mengumumkan identitas Rafardhan yang sebenarnya, sebagian bagian dari keluarga William Pramudya.
Mampukah hati kecil Rafardhan menyangkal, kalau permintaan maaf William padanya itu hanya sebuah kepalsuan? Atau Hanya sekedar ingin mendapatkan image baik saja?
Justru ketegasan William yang mengakui status Rafardhan sebagai cucunya di hadapan semua pemburu warta, adalah merupakan batu loncatan bagi pemuda itu untuk membersihkan nama baiknya yang pasti sudah tercoreng saat ini.
William mengahiri ucapannya dengan senyuman. Senyum yang terlihat oleh Rafardhan. Karena pemuda itu tengah melihat pada William saat ini.
“Terima kasih,” ucap Rafardhan dengan suara lirih tapi cukup jelas terdengar. “Kakek,” imbuhnya lagi dengan nada yang kaku.
__ADS_1
Satu panggilan singkat, terucap dari pemuda tampan itu pada William. Panggilan singkat yang mampu menghadirkan senyum dari mereka semua yang menjadi saksi adanya interaksi pertama, antara Rafardhan dengan kakeknya.
William menggulirkan kursi rodanya ke depan, semakin mendekat ke arah Rafardhan. Kedua tangannya lalu merentang lebar berharap dapat memeluk cucu yang dulu sempat ia buang. Cucu yang kini sudah tumbuh besar, menjelma jadi seorang pemuda tampan rupawan.
Bagi yang sudah tahu seberapa besar kemampuan seorang Damaresh memecahkan masalah yang tengah dihadapi—dalam perjalanannya mempertahankan rumah tangga dengan Aura Aneshka—tentu menganggap kalau masalah yang tengah dihadapi Rafardhan saat ini, tidaklah seberapa bagi seorang Damaresh. Tapi tentu cukup berat bagi seorang Rafardhan. Karena mereka beda profesi dan beda kemampuan.
Bukankah setiap manusia pasti diuji dengan segala bentuk ujian yang tidak sama, dan disesuaikan dengan kemampuan yang menjalani ujian itu. Dalam ujian hidup yang diterima oleh Rafardhan ini, penulis ingin menjadikannya sebagai momentum berkumpulnya Rafardhan dengan seluruh keluarga besar William, terutama William Pramudya sendiri, yakni tokoh utama yang menolak kehadiran Rafardhan di dunia ini.
Karena dalam setiap ujian, pasti ada keberkahan. Dalam setiap kesusahan, pasti ada kemudahan. Maka percayalah, di balik rasa pahit yang harus kita cecap, ada rasa manis yang sudah siap kita lahap.
Semoga kisah Rafardhan ini tak hanya menjadi sebuah bacaan di kala senggang. Tapi ada satu hikmah kehidupan yang bisa dijadikan pelajaran.
Eiitss, jangan berpikiran kalau kisah ini sudah tamat. Sebentar lagi. Karena masih ada aktor jahat dengan segala manipulasi kejahatannya yang harus terungkap.
__ADS_1
Sampai jumpa di bab selanjutnya.