Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 64


__ADS_3

“Wana Putera itu perusahaan siluman. Itu Perusahaan fiktif, Om.”


“Apa!?” Alarik sangat kaget. Dan sesaat tak mampu berkata apa-apa.


“Aku sudah menyelidikinya, tidak ada perusahaan retail atas nama PT Wana Putera. Intinya, mereka hanya mengada-ada, mengajukan projek kerja sama, hanya untuk mengalihkan perhatianmu. Sedangkan dua orang teman mereka yang lain, sedang menjalankan aksinya,” ungkap Damaresh.


“Ja-jadi benar kalau semua ini ulahnya Papa?” Suara tanya Alarik terdengar lirih, karena hantaman yang dalam dada atas fakta yang sangat pedih.


“Iya. Kakek bertindak di siang bolong dan sengaja meninggalkan bukti. Apa, Om faham itu maksudnya?”


Alarik menggeleng. Sudah lama ia melepas nama William dari hatinya, melupakan kalau pemilik nama besar itu pernah ada. Maka, segenap tindak tanduknya sudah tak pernah ada dalam maya pikir Alarik. Dan ia pun tak pernah mengharap akan berurusan lagi dengan William.


“Itu suatu pemberitahuan darinya pada kita, agar jangan menentangnya.”


“Memang apa yang diinginkannya dari kita, Resh. Sampai dia melakukan hal sekeji ini?” tanya Alarik dengan ekspresi wajah yang pekat.


“Dia menginginkan aku, Om. Dan karena aku ada di sini, bersamamu. Kakek mencelakaimu sebagai sebuah gertakan padaku.”


Alarik membuang napasnya kasar, tatapannya menerawang, tak terbayangkan betapa kejamnya seorang William.

__ADS_1


“Beberapa waktu lalu, kakek menemuiku di Surabaya. Ia memintaku untuk kembali ke Pramudya,” tutur Damaresh.


Alarick tertawa sumbang mendengar penuturan keponakannya itu.


“Tumben, papa menjilat ludahnya sendiri,” cibirnya, sekaligus juga merasa takjub akan sikap William yang dulu hal itu adalah merupakan satu pantangan untuk dilakukan.


“Pramudya sedang guncang sekarang, terlebih setelah pengakuan Mommy di media massa. Banyak relasi bisnis yang menarik diri, dan sepertinya Edgard tak mampu menyiasati kondisi ini. Pramudya Corp di London, juga sedang butuh penanganan langsung, ada beberapa dewan direksi yang mengundurkan diri setelah aku lepas jabatan dari Pramudya,” beber Damaresh.


“Papa pasti kebakaran jenggot, dan kau satu-satunya orang yang bisa ia andalkan. Karnanya ia menekan egonya untuk menemuimu. Tapi Aresh, jika ia sudah berkeinginan dengan menurunkan gengsinya seperti itu, lalu ia tak mendapatkan apa yang diinginkannya, akibatnya pasti buruk, Aresh,” ujar Alarick mengingatkan.


Hanya ini, satu-satunya hal yang diingat oleh Alarik tentang sifat laki-laki yang sudah menyandang status sebagai ayahnya sejak lahir itu. William yang tidak boleh ditentang. William yang segala perintahnya harus dilaksanakan tanpa ada bantahan.


Alarick menghembuskan napasnya kasar. Secercah harap yang tertanam dalam hatinya, kalau kejadian ini bukan didalangi oleh William, kini hilang sudah tak berbekas. Faktanya, memang William belum berubah, meski dia sudah hampir lapuk dimakan usia.


Hal apa sebenarnya yang sangat diinginkan oleh William Pramudya pada Damaresh, sampai ia sanggup hendak mencelakakan banyak orang, ketika cucu pertamanya itu tak menuruti segala kehendaknya.


(Jawaban dari semuanya ada dalam kisah : CINTAKU TERHALANG TAHTAMU)


“Karena itu aku minta maaf, Om. Dan aku janji akan membereskan semua kekacauan ini,” ucap Damaresh dengan nada pasti. Tak dapat dipungkiri, bahwa karena dirinya lah, Alarik harus menanggung kerugian sebesar ini.

__ADS_1


Sebenarnya, saat teh kemasan pabrik ditolak oleh pasar, Aresh sudah dapat membaca kalau tindakan William tak akan hanya sebatas ini saja. Ia juga sudah mengantisipasi semuanya. Tapi kali ini, Damaresh salah perhitungan, dan kecolongan. Membuat pabrik mengalami kebakaran.


“Apa rencanamu, Aresh?” Alarich bertanya curiga, pasalnya dia tau kalau keponakannya itu sering punya gebrakan tak terduga.


“Pertama, akan aku bereskan kekacauan yang di sini dulu, Om. Dan selanjutnya—“


“Selanjutnya apa?” tanya Alarick cepat. Ia tau atas hal ini, Aresh tak akan diam saja. Tapi Alarik juga tak dapat menebak, apa yang akan dilakukan oleh putera Claudya itu.


“Om Alarick sepertinya kawatir,” tukas Damaresh.


“Terus terang iya,” sahut Alarick. Ia tak ingin Damaresh melakukan hal-hal yang di luar batas dan berakibat celaka pada dirinya sendiri maupun orang lain. Bagaimanapun yang akan dilawan oleh Aresh kali ini adalah kakeknya sendiri.


“Tenang saja, Om, sekarang aku sudah tidak punya apa-apa beda dengan dulu. Kalaupun sekarang aku mau melawan, mungkin hanya perlawanan kecil saja.”


DAmaresh mengklaim dirinya demikian karena sudah bukan lagi sebagai CEO Pramudya, yang bisa bergerak dengan mudah. Tunjuk kanan, dan tunjuk kiri tanpa susah-susah.


“Tapi kecerdasanmu itu yang tak terduga,” tukas Alarick. Damaresh memang seakan punya ribuan rencana yang tertata dalam lemari otaknya. Dan semua rencana itu dieksekusi dengan sangat cepat dan tak terduga serta tak terbaca.


“Bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan semua ini, Om,” sambut lelaki itu dengan bijak. Seiring pemahaman yang tertancap, bahwa segala sesuatu itu ada, karena memang ada yang membuatnya ada.

__ADS_1


__ADS_2