Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Extra 2


__ADS_3

Air matanya luruh, menyatu dengan peluh. Rasa hatinya menggemuruh, bahagia dan terharu jadi satu, seakan layar yang sudah bersauh.


Kumandang adzan diperdengarkan oleh sang ayah baru, untuk putra yang baru datang ke dunia. Rafasya, dengan masih tetap menggunakan Scrub suithnya, atau seragam scrub, atau yang lebih dikenal dengan sebutan seragam operasi, datang ke ruangan itu, bertepatan dengan satu menit setelah sang buah hati, memperdengarkan tangisnya untuk pertama kali. Dan Quinsha, tak dapat lagi menahan jatuhnya air mata, melihat pemandangan yang tersaji di depan mata.


Kini wajah cantik yang bersimbah air mata itu dici-u-mi oleh Rafasya dengan rasa haru dan bahagia, diserta puluhan kata maaf yang terucap dengan suara seraknya.


"Udah cukup! jangan terus menerus minta maaf, kamu gak salah apa-apa sama sekali." Quinsha mengurai pelukan suaminya, menatap raut wajah tampan Rafasya yang diselimuti kabut rasa bersalah dengan tebalnya. "Aku paham, kok, Sayang. Aku ngerti. Aku justru sangat bangga dengan suamiku ini." Quinsha lalu meraih kedua tangan Rafasya dan dici-u-minya berkali-kali. "Aku bangga, karena di kedua tangan ini, Allah meletakkan amanah. Amanah sebagai perantara menyembuhkan orang-orang yang sedang sakit. Aku bangga." Quinsha kembali menciumi tangan itu kembali.


Tak peduli dengan situasi, Rafasya memeluk erat tubuh istrinya lagi dan menghujani wajah itu dengan ke-cu-pan tanpa henti.


"Interupsi, Dokter Rafasya." Tiba-tiab suara dokter Prita menyeruak di antara euforia sepasang orang tua baru ini.


"Apa?" tanya Rafasya singkat, tanpa berniat untuk mendongak. Saat ini tatapannya hanya ingin terpuaskan dengan melihat wajah sang istri.


"Anda terlalu kuat memeluk Bu Quinsha, dan itu sedikit mengganggu pekerjaan kami," sahut dokter Prita.


Astaga!


Rafasya hampir lupa, kalau sang istri masih menjalani tahapan terakhir operasi. Tentu saja, ulah Rafasya yang membuat tubuh istrinya bergerak-gerak, sangat mengganggu kinerja tim dokter yang dipimpin oleh dokter Prita.


"Maaf, Dokter Prita," ujarnya sambil tersenyum tipis.


"Kalau saja, Anda bukan kepala dan pemilik rumah sakit ini, dan juga bukan seorang dokter ahli bedah TKv, idola kami, Dokter gak akan pernah diperbolehkan menerobos masuk ruang operasi," kata dokter Prita, sedikit menunjukkan taringnya sebagai pemilik kuasa atas ruang operasi itu, saat ini.

__ADS_1


"Wahh." Dokter Rafasya bersedekap, menatap dokter Prita yang sudah menyimpan tawa dengan menipiskan bibirnya. "Sepertinya aku harus membuat peraturan baru di rumah sakit ini."


"Peraturan apa, Dok?" Dokter Prita tak urung jadi penasaran juga.


"Mengeluarkan SK, pensiun dini, Dokter Prita."


Dokter Prita langsung kaget. Pasalnya, Rafasya mengucapkan hal itu dengan raut wajah yang serius. Tapi ...


"Jangan sekarang, Sayang," sela Quinsha. "Empat tahun lagi, aku masih ingin nambah anak, dan aku ingin dokter Prita yang menangani," tambahnya.


"Ok, empat tahun lagi, kita bisa panggil dia kembali. Jadi, untuk saat ini, biar dia dinon- aktifkan dulu," ujar Rafasya. Prita nampak menahan napas.


"Tak hanya itu, Sayang," kata Quinsha lagi. "Sebelum aku masuk ruang operasi, Aura pingsan."


"Dia selalu menemaniku dari tadi, mungkin kelelahan."


"Aduhh!" Rafasya menepuk jidatnya. "Kakak sepupuku itu bisa menuntutku nanti, kalau tau istrinya pingsan karena kelelahan menemani istriku."


"Tidak akan, Sayang. Kak Aresh tak akan melakukan itu sekarang, karena dia sedang berbahagia." Quinsha mengusap-usap lengan suaminya sambil tersenyum.


"Istrinya pingsan, dan dia bahagia?" Rafasya terlihat sangat heran dengan keterangan ini.


"Iya, karena ternyata, Aura sedang mengandung anak mereka yang kedua," tutur Quinsha, yang langsung membuat senyum sumringah terpahat di wajah Rafasya. "Jadi, keinginanmu untuk memensiunkan dini dokter Prita, pasti akan sangat ditentang oleh Kak Aresh. Dokter Prita kan dokter kepercayaan keluarga. Dan kamu pasti akan kalah taring dengan kak Aresh."

__ADS_1


Ucapan Quinsha itu langsung membuat Rafasya menatap pada dokter Prita yang diam-diam tersenyum menang. "Sepertinya, Dewi Fortuna sedang berpihak pada saya, Dokter," kata dokter wanita berusia hampir empat puluh tahunan itu.


"Iya. Tapi, jika tak segera kau selesaikan tahapan akhir operasi istriku, akan aku usir Dewi Fortunamu itu sekarang juga," ancam Rafasya.


"Baik, Dok. Sebentar ya."


"Cepat! aku ingin segera memeluk erat istriku lagi," kata Rafasya seraya menahan senyum menatap Quinsha. Hingga beberapa waktu, dokter tampan itu masih ada di sana. Sampai kemudian, terdengar ketukan pintu, permohonan ijin untuk memasuki ruangan.


Salah satu anggota tim keluar, untuk melihat siapa yang datang. Lalu ia kembali masuk beberapa saat kemudian, dan langsung menghampiri Rafasya. "Dokter, ada dokter Bara, memohon bertemu dengan, Dokter, di luar," lapornya, pada Rafasya.


"Aduhh!" Rafasya segera berdiri dari duduknya.


"Kenapa?" tanya Quinsha kawatir.


"Operasi CABG kedua," jawabnya, seraya memerhatikan jam tangan.


Quinsha tersenyum. "Laksanakan, Sayang! itu tugasmu. Jangan sampai terlambat."


"Iya." Rafasya sesaat mencium istrinya, laku menghampiri bayi merah mereka yang sudah dibersihkan oleh dokter.


"Arasya Davanka William. Papa pergi dulu ya," pamitnya pada sang putra, tak lupa menyematkan ci-u-man di tangan mungil bayi merah yang belum bisa melihat apa-apa itu.


Quinsha tersenyum dengan nama indah yang telah diberikan oleh Rafasya untuk putra mereka berdua. Arasya Davanka William.

__ADS_1


__ADS_2