Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 31


__ADS_3

Sesaat hening, tak ada kata lagi yang terucap dari Alarick, pun dari Sherin. Keduanya terlarut dalam luka masing-masing. Hingga satu kalimat terucap dari Alarick pada Sherin. “Seperti ini aku, Sherin. Jangan berharap apapun dariku. Karena aku tak akan bisa memenuhi harapanmu sampai kapan pun.”


Kalimat itu membuat Sherin secara perlahan melepaskan pelukan dari tubuh Alarick. Bukan hanya karena begitu terkejut mendengarnya, tapi kekuatan Sherin seakan luruh dari tubuhnya, hingga tangan wanita cantik berhijab itu tak mampu lagi bertaut untuk terus memeluk suaminya.


Rupanya ini keputusan yang dibuat Alarick untuk hidupnya. Lelaki itu memilih untuk tetap menyendiri dengan lukanya. Dia tak mengizinkan siapa pun untuk menemaninya sampai akhir.


“Mas, tenangkan dirimu dulu!”


“Bagaimana aku bisa tenang dengan kondisi seperti ini, Sherin,” sungut Alarick dengan tatapan tajam.


“Aku belum selesai, Mas,” timpal Sherin yang membuat Alarick segera menatapnya, siap untuk mendengarkan kalimat Sherin selanjutnya.


“Tenangkan dirimu dulu, sehari dua hari, atau seminggu dua minggu. Setelah itu, temui mbak Risa atau keluarga lain dari mendiang Kanaya. Tanyakan di mana keberadaan putramu, dan temui dia!”


“Menemuinya?” gumam Alarick seakan terpana. Tak terbersit sama sekali dalam diri Alarick untuk hal tersebut. Ia lebih memilih menenggelamkan diri dalam sesal dan ratap, dari pada segera bertindak.


“Ya, Mas. Ini jawaban Allah atas segala kegelisahanmu selama ini. Kau selalu merasa tak akan pernah bisa menebus dosamu pada mendiang Kanaya. Tapi sekarang kau bisa menebusnya pada anak kalian. Cari dan temui dia! tunjukkan kalau kau ayahnya. Dan bawa dia dalam hidupmu!”


Ucapan Sherin bak suntikan vitamin yang membawa kesegaran dalam tubuh Alarick. Tatapannya terlihat hidup, dan secercah asa terpancar di sana, bersama sejumput semangat yang mulai menyala dalam jiwa.


“Dan kalau kau ijinkan, aku akan temani. Sampai kau bertemu dengan putramu dan berbahagia dengannya. Bila saat itu, kau tetap menginginkan untuk melanjutkan hidupmu bersama kenangan Kanaya saja, aku bisa mengerti, Mas. Dan aku akan pergi,” tegas Sherin tanpa keraguan lagi.


Sherin mulai menyadarinya sekarang. Lebih dari dua puluh tahun, Alarick merawat kenangan Kanaya dalam hidupnya—menjaga dan melestarikannya—mana mungkin Sherin yang hanya hadir selama lebih dari dua tahun ini mampu menggeser posisi Kanaya dalam diri Alarick, apalagi menggantikannya.


Sekali lagi, Ini mungkin jawaban Tuhan atas semua doa-doanya yang dipanjatkan. Memang tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tapi Sherin paham, kalau Allah itu memberi pada hamba-Nya apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan.


Tidak apa-apa berani melepaskan sesuatu yang sudah kita genggam, jika memang itu tidak diperuntukkan. Yang perlu dilakukan Sherin sekarang adalah belajar mengikhlaskan, dan menerima dengan jiwa yang lapang.


****************

__ADS_1


Quinsha: Apa belum ada yang bangun ya? Udah siang lho.


Itu ketikan Quinsha di grup yang sudah terkirim sejak sepuluh menit lalu, tapi belum ada yang menanggapi.


Quinsha: Hallo Nyonya muda, Nyonya besar, kalian ada di mana?


Itu juga masih chat dari Quinsha. Tapi grup private mereka bertiga masih tetap sepi. Sampai Quinsha selesai bersiap dan akan segera berangkat. Barulah terdapat chat dari Aura.


Aura: pagi-pagi dah ribut aja.


Quinsha: Eh Nyonya muda, dah bangun rupanya. Mana nih Nyonya besar. ‘Kan ada dua nyonya di grup kita sekarang. Nyonya muda Aura dan Nyonya besar Sherin.


Aura: Kapan penobatannya?


Quinsha: Besok malam jumat. Di Darul-Falah. Hadir ‘kan?


Quinsha: Disogok aja, biar cepat turun SK nya.


Aura: Disogok apa?


Quinsha: Kesukaan dia apa?


Aura: Diriku.


QUinsha: Ya udah, kasihkan!


Aura: Masih nifas. Hihihi


QUinsha: Sungguh ya, pembicaraan ini bikin aku gak paham. minfadhlik

__ADS_1


jangan bicarakan hal-hal di luar area dengan orang yang masih polos sepertiku!


Aura: Aku kasih warna ya, Sha. Biar gak polos lagi.


Sherin: Jangan berisik ya, ada yang lagi menyepi.


Aura: Ke puncak Semeru aja!


Quinsha: Atau ke dasar lautan.


Sherin: Gak usah ke puncak gunung, atau ke dasar laut. Di tengah keramaian pun tapi kalau keberadaan kita gak dianggap, itu adalah kesunyian dan kesepian yang mencekam.


QUinsha: Aku mencium aroma orang curhat di sini.


Aura: YA, aroma kembang setaman. Ada apa Tante cantik?


Sherin: Bukan curhat, tapi khotbah. Gak ada apa-apa kok. Doanya aja ya.


Quinsha, aku gak bisa temani kamu hari ini untuk ketemuan sama artis itu.


QUinsha: Ok gak papa. Yang penting kamu baik-baik aja ‘kan?


Sherin: Insya allah, selalu baik-baik saja.


Aura: Pintu hati dan pintu telinga kami selalu terbuka untukmu, Rin. Cerita aja, kami selalu ada.


Sherin: Makasih, kalian saudara terbaik untukku.


Dan obrolan via chat itu berakhir. Ketika mereka sama-sama memutuskan untuk menjalani aktivitas masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2