
"Ya, anak kamu dan Kanaya memang masih hidup. Puas kamu," tandas Risa dan segera berbalik badan untuk berlalu.
Lebih dari hanya sekedar terkejut, kaget, terpana, dan entah kata apalagi sebagai ungkapan yang tepat untuk menggambarkan ekspresi Alarick saat ini setelah mendengar apa yang diungkap oleh Risa baru saja.
“Tunggu, Mbak!” Sekali lagi ia menahan langkah Risa. Sepasang matanya nanar menatap wanita di depannya itu. “Kenapa kalian mengatakan kalau anakku sudah meninggal?”
“Itu hak kami, Rick. Hak kami sebagai keluarga Kanaya,” sahut Risa dengan nada santai tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
“Tapi dia darah dagingku, Mbak. Dan aku berhak tau,” balas Alarick dengan nada dalam. Nampak kekecewaan yang terpahat jelas di wajahnya. Tapi secara bersamaan ada secercah cahaya yang menggelayut di tatap matanya.
“Oya, mulai kapan kamu merasa punya hak pada anak Kanaya? Kamu belum lupa ‘kan pada apa yang sudah kamu dan keluargamu lakukan pada Kanaya? Belum amnesia ‘kan untuk mengingat semuanya?” sindir Risa dengan nada mencebik. Dan kalimatnya itu sukses membuat Alarick bungkam. Bahkan segala asa yang sempat tertanam, dalam hancur luruh berguguran.
Risa segera melangkah pergi. Dan kali ini, Alarik sudah tak punya kekuatan untuk menahan langkah Risa lagi. Lelaki itu hanya memandang dengan tatap yang sulit dipahami.
Langkahnya segera terayun keluar dari Apotek. Padahal obat yang dicarinya juga belum didapati. Gegas Sherin menyusul langkahnya. “kita gak jadi beli obat, Mas?” tanya Sherin pelan.
__ADS_1
Alarick hanya mengangguk singkat dan segera masuk mobilnya kembali diikuti oleh Sherin. Sepanjang perjalanan pulang hanya sepi yang merejam. Jangankan kata yang bisa diartikan, ekspresi wajah Alarik pun, juga tak menunjukkan sesuatu yang bisa dipaham.
*******
“Mas, minumlah!” Sherin meletakkan gelas berisi teh hangat itu dengan pelan di atas meja samping Alarick. Terlihat suaminya itu hanya mengangguk samar lalu kembali tenggelam dalam diam, dalam kebungkaman yang panjang, serta tak tahu kapan akan selesai.
Sherin menarik napasnya pelan, lalu secara perlahan pula ia duduk tak jauh di samping Alarick yang telah berubah menjadi patung sejak beberapa saat silam.
“Mas,” sapa Sherin dengan suara lirihnya. Sesaat wanita itu menatap jam dinding yang telah melewati titik tengah sebelum mengucapkan apa yang akan disampaikannya. “Aku tak hendak memintamu untuk bercerita padaku, karena mungkin aku bukan wadah yang tepat untuk menampung segala keluh kesahmu.” Sherin memutus ucapannya sesaat untuk menatap wajah Alarick.
“Terima kasih, Sherin,” sahut Alarick setelah Sherin mencapai titik pada kalimatnya lebih dari lima menit.
Sherin mengangguk, tangannya terulur mengusap pundak Alarick pelan. “Aku tidur dulu ya, Mas,” pamit Sherin. Bukan hanya karena kantuk yang sudah tidak bisa ditahan, tapi karena ia sadar, kalau saat ini Alarick tidak butuh teman. Ia hanya ingin menyendiri dalam diam.
“Ya, tidurlah. Dan ... maafkan aku,” pinta Alarick, entah untuk hal apa. Dan rasanya Sherin juga tidak perlu bertanya. Hanya dia yang tahu, seberapa banyak pilu yang ia rangkum dalam sendu. Hingga seakan ia menyeduhnya menjadi minuman yang direguknya setiap waktu. Memahat lelah di dalam kalbu.
__ADS_1
Sherin menganggukkan kepala, ikhlas memberikan maafnya. Meski ia juga tak cukup mengerti apa yang menjadi alasannya. Apakah atas nama cinta, atau karena ingin berburu pahala.
Sebelum bangkit dari duduknya, Sherin masih sempat berkata, “Ada satu hal, Mas yang perlu kau lakukan sekarang. Sebenarnya ini hal yang sangat gampang, tapi mungkin kau juga sudah melupakan.”
“Apa?”
“Berdoa. Pinta pada yang Punya Kuasa, apa saja yang kau inginkan untuk terjadi. Hanya Dia, yang mampu menciptakan sesuatu, yang bahkan menurutmu sudah tidak mungkin untuk terjadi.”
Alarick menundukkan wajahnya, jiwanya merasa tertampar dengan kalimat yang diucap Sherin dengan landai. Betapa ia sudah melupakan hal yang sangat besar, yang seharusnya ia lakukan.
Sherin segera beranjak keluar, membawa langkahnya ke dalam kamar, dan terus menuju ke peraduan. Satu yang menjadi tujuannya sekarang, rebahan. Meski mungkin akan sulit untuk meraih tidur yang nyaman, tapi ia juga harus mengistirahatkan dirinya dari segala beban pikiran.
Tapi sebelum ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, terasa ada satu tangan yang merengkuh pinggangnya dari belakang, dan lalu membawa tubuhnya ke dalam pelukan.
Sherin terpaku dalam bungkam. Ia tau siapa pemilik kepala yang kini menyandar di ceruk lehernya. Ia tau siapa pemilik napas hangat yang kini menyapu kulit tengkuknya. Wanita itu segera mengusap punggung tangan Alarick yang saling menumpu di atas perutnya.
__ADS_1