
Tiga pekan telah berlalu.
Jangan tanya seberapa banyak rindu. Seberat apa rindu itu membebani kalbu. Meski sering mendengar suaranya yang merdu, dan mendengar tutur indah kalimatnya yang mendayu. Meski tak jarang pula wajah saling berhadapan, mata saling berpandangan, dan senyum saling bertautan. Tapi Rindu tetap tak tertuntaskan, sebelum raga saling berdekapan.
Begini rasanya merindukan kekasih halal. Setiap detik yang terlalui terasa sangat mendebarkan. Dan penantian yang terlewati terasa indah dan menyenangkan.
Meski rindu terasa menggerogoti badan, dan seakan mengeroposkan tulang, Quinsha tetap menjalani hari-harinya dengan semangat yang menjulang. Menanti hadirnya saat pertemuan, untuk menyatukan rindu dalam limpahan kasih sayang.
“Belum berangkat, Nak?” tanya Firda saat berpapasan dengan putrinya di ruang keluarga.
“Masih ada waktu sepuluh menit lagi, Umi.” Quinsha meraih remote televisi untuk mulai menyalakannya.
__ADS_1
“Mau apa, Sha?” tanya Firda yang melihat hal itu.
“Liat Infotainment sebentar,” sahut Quinsha malu-malu. Setelah menikah dengan Rafardhan, putri Firda itu mulai suka meluangkan waktu untuk sekedar melihat berita artis di televisi. Berharap akan ada berita tentang pacar halalnya itu. Padahal ia bisa menelepon dan video call setiap waktu. Selama Rafardhan tidak sedang melakukan proses Syuting.
Tapi rupanya semua itu belum cukup bagi Quinsha. Kalau bisa setiap saat ia hanya ingin melihat wajah Rafardhan dan hanya Rafardhan saja. Apalagi sejak semalam, suami tampannya itu tidak menelepon dirinya—biasanya sehabis syuting, selelah apapun—Rafardhan selalu ada waktu untuk meneleponnya, walau hanya sebentar saja.
“Gak usah, Nak. Kamu berangkat saja ke Nada Hikam, nanti kamu telat.” Firda menghampiri putrinya itu hendak mengambil remote di tangannya.
“Sebentar saja, Ummi,” rengek Quinsha. Ia benar-benar candu melihat wajah rupawan artis yang punya nama asli Rafasya itu.
Lila dan Risma saling melempar pandang. Dan itu sudah untuk yang kesekian. Quinsha yang sedang fokus dengan buku di tangan, tak menyadari adanya interaksi saling pandang memandang antara kedua temannya itu. Hingga, Lila yang merasa tak tahan, akhirnya bertanya juga, “Mbak Quinsha, beneran udah nikah sama Rafardhan?”
__ADS_1
Quinsha terdongak, menatap keduanya datar, menghela napas tertahan. “Masih mau dibahas lagi ya, Mbak?” tanyanya dengan nada jengah. Sejak pengakuan Rafardhan beberapa waktu lalu, keesokannya saat Quinsha kembali mengajar ke Nada Hikam, dia diinterogasi untuk mendapatkan sebuah kebenaran. Dan gadis itu juga sudah menjelaskan, serta mereka semua sudah paham. Tapi kini mereka kembali mempertanyakan. Tentu saja istri Rafardhan itu merasa kesal.
“Maaf, Mbak. Jangan tersinggung.” Risma berucap pelan. “Ini berkaitan dengan berita tentang Rafardhan semalam,” lanjutnya.
Quinsha sontak terkejut. “Berita apa?
“Berita tentang Rafardhan yang ditangkap dalam sebuah kamar hotel bersama seorang ...” Risma menghentikan ucapannya begitu saja, karena Lila yang menyikut lengannya sambil memberi isyarat pada Quinsha.
Gadis itu diam terpana. Namun, segera tangannya meraih ponsel dalam tas dan mulai menscrolnya beberapa saat. Hingga ia menemukan apa yang ingin di dapat.
Berita tentang suaminya, rupanya sudah terpajang di setiap laman sosial media. Hanya Quinsha saja yang tak menyadarinya. Dan yang membuat perih hati dan jiwanya, yang kemudian menjalar pada kedua mata, adalah berita itu yang mengabarkan bahwa, Rafrdhan di tangkap dalam sebuah kamar hotel di Bali, bersama lawan mainnya, Hanum. Mereka kedapatan tengah mengonsumsi narkoba jenis sabu. Sekarang keduanya sudah di tahan, di Polda Bali.
__ADS_1
Quinsha membaca berita itu lagi dan lagi, sedangkan air matanya sudah membanjir kini, Lila dan Risma berusaha untuk menenangkan. Tapi kalimat seindah apa, dan kata-kata yang sebaik apa, yang akan bisa mendamaikan jiwa Quinsha sekarang.
Hatinya jatuh dalam luka yang dalam. Jiwanya patah dan terguncang. Dan Hanya air mata yang menyeritakan.