
Quisha sudah berkali-kali membunyikan klakson mobil, tapi mobil hitam yang parkir sembarangan itu tetap tak menunjukkan pergerakan. Bisa saja karena tak ada orangnya di dalam.
Entah siapa pemiliknya yang meninggalkan mobil begitu saja dan menghalangi jalan Quinsha.
Gadis itu terpaksa turun untuk memeriksa mobil hitam itu. Kacanya yang terlalu gelap menghalangi pandangan Quinsha yang jadi tak bisa melihat apa-apa di dalam sana. Quinsha kian mendekat, siapa tahu dengan itu pandangannya akan semakin jelas.
Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Tiba-tiba saja pintu mobil itu dibuka dari dalam, menampilkan seraut wajah tampan rupawan yang menyapanya dengan akrab diiring senyuman. “Quin.”
“Raf-Rafardhan?” Quinsha kaget dan sedikit terbata.
“Iya ini saya. Memang ada yang tampan seperti saya di komplek ini?” Rafardhan mulai menunjukkan sisi narsisnya yang selama ini hanya ia perlihatkan pada Adam saja.
“ngapain kamu di sini?”
“Nunggu kamu, Quin!”
“Nunggu saya untuk apa?”
Rafardhan keluar dari mobil hitam itu, dan memberi isyarat pada supirnya. Mobil itu segera melaju meninggalkan sang majikan berdua dengan Quinsha.
“Kenapa mobilnya disuruh pergi?” tanya Quinsha heran.
“Saya ingin numpang di mobil kamu,” jawab Rafardhan santai. Justru Quinsha jadi terlonjak keheranan.
“Jangan aneh-aneh!”
“Gak aneh kok. Biasa aja.” Pemuda tampan itu tetap menanggapi dengan santai saja, dan tak lupa mengikut sertakan senyumannya. Membuat Quinsha harus selalu membuang pandangan ke sembarang arah. Karena senyum Rafardhan tak bisa dipungkiri kalau sangat indah.
“Saya mau ke yayasan,” tutur Quinsha sambil melihat jam tangannya. Harusnya saat ini ia sudah berada dalam perjalanan. Tapi gara-gara ada mobil hitam yang parkir depan gerbang dan menghalangi jalan, membuat jadwalnya jadi tak sesuai. Dan Ternyata itu semua adalah ulah Rafardhan.
“Anggap saja saya juga mau ke sana,”
“Lagi senggang kamu ya?” Tak heran jika Quinsha bertanya demikian. Rafardhan yang hampir tak punya waktu untuk urusan pribadinya itu, kini tiba-tiba saja mau melakukan sesuatu yang tak penting, bukankah itu sungguh mengherankan.
“Kalau memang masih mau ngobrol, cari tempat duduk saja,” usul Rafardhan.
“Ah gak, saya mau ke yayasan.” Quinsha segera berbalik badan menuju ke mobilnya, dan Rafardhan mengikuti langkahnya.
“Saya belum bilang setuju kamu ikut di mobil saya,” kata Quinsha yang sejenak menghentikan langkah.
“Belum bilang. Tapi akan segera bilang,” sahut Rafardhan penuh keyakinan.
__ADS_1
“Percaya diri banget kamu,” cebik Quinsha sembari teruskan langkah.
“Kamu punya hutang sama saya.”
“Saya akan bayar,” sosor Quinsha cepat.
“Dan sekarang ‘kan masih belum bayar.”
“Ya udah cepat masuk!” titah Quinsha dengan raut kesal. Sementara Rafardhan tersenyum penuh kemenangan.
“Saya yang nyetir.” Rafardhan mendahului Quinsha masuk mobil di tempat supir.
Melihat itu, Quinsha bukannya kesal, tapi ia malah tersenyum senang. ‘Lumayan lah, berangkat mengajar disopiri Artis terkenal. Kapan lagi aku jadi berasa kayak Nyonya besar yang punya supir tampan’. Batin Quinsha penuh kebanggaan.
Gadis itu segera melenggang hendak membuka pintu penumpang di bagian belakang. Tapi ternyata pintu tak bisa dibuka karena sudah terkunci dari dalam.
“Buka pintunya! Saya mau duduk di sini,” pinta Quinsha pada Rafardhan yang sudah duduk dengan posisi nyaman di depan.
“Duduk di depan saja, Quin!”
“Gak. Saya mau duduk di sini saja,” keukeh Quinsha.
“Ya udah, saya akan tunggu kamu masuk mobil dan duduk di depan. Saya pingin lihat seberapa lama kamu bertahan kepanasan.” Rafardhan membenahi posisi duduknya agar lebih nyaman. Selanjutnya ia siap menunggu sekalipun sampai berjam-jam, sampai Quinsha berubah pikiran.
Otak Quinsha langsung berputar. Akan bagaimana kejadiannya jika sampai orang-orang itu melihat ada artis terkenal dalam mobilnya. Satu kompleks pasti akan dilanda kehebohan. Dengan sangat terpaksa, sungguh sangat terpaksa, Quinsha membuka pintu depan dan masuk.
Sengaja, ia tak menoleh sama sekali pada Rafardhan yang mungkin saat ini sedang tersenyum menang, atau justru sedang menertawainya diam-diam.
Rafardhan juga tak mengatakan apa-apa setelah Quinsha duduk. Ia langsung menghidupkan mesin dan membawa mobil itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang pagi ini sedang ramai lancar.
Keduanya sama-sama tak saling bicara. Tak sebagaimana tadi, yang sangat terlihat kalau Rafardhan sedang mengusili Quinsha. Kini pemuda itu diam saja. Diamnya itu mengundang tanya, hingga membuat Quinsha diam-diam mencuri lihat ke sampingnya.
Rafardhan tampak tenang dengan pandangan lurus ke depan. Satu tangan menyanggah keningnya, satu tangan bertumpu di atas stir. Seperti ada yang tengah dia pikir, tapi enggan berbagi dengan orang lain.
QUinsha juga tak mengusiknya, ia pun memilih tenggelam dengan arus pikirannya sendiri juga. Maka hanya keheninganlah yang bertahta saat itu di antara keduanya.
Tapi, seberapa pun jauhnya Quinsha terbang dengan kesibukan pikirannya, ia masih tersadar dengan jelas kala melihat seorang kakek hendak menyeberang jalan di depan laju mobil mereka. Tangannya melambai-lambai memberi kode, kalau ia akan lewat. “Ada kakek mau nyeberang!” tutur Quinsha memberitahukan pada Rafardhan.
Namun, lelaki di sampingnya itu, tak terlihat menurunkan kecepatan mobil yang tetap melaju pesat. Mungkin suara pemberitahuan dari Quinsha tak sampai padanya, karena pikiran yang masih berkelana.
“Raf, awas!” teriak Quinsha kemudian. Barulah Rafardhan terlonjak dan menghentikan mobil dengan mendadak.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih? Kalau nyetir jangan sambil melamun!”
“Sorry,” ucap Rafardhan lirih.
“Kita hampir saja menabrak!”
“Apa!?”
Quinsha gegas turun dan menghampiri seorang kakek yang baru saja selamat dari laju mobilnya itu. “Kakek.” Quinsha meraih tangan pak tua itu dan dibimbingnya duduk di sebuah bangku kayu.
“Kakek gak papa?” Quinsha memerhatikan si kakek dengan seksama.
“Gak papa, Neng. Kakek hanya kaget saja,” jawabnya sambil mengusap-usap dada.
“Sebentar ya, Kek.”
Gegas Quinsha menuju sebuah warung untuk membeli air mineral, gegas pula ia memberikannya pada si Kakek yang segera meminumnya dengan rakus.
“Quin, kakeknya gak papa?” tanya Rafardhan yang tetiba saja sudah berdiri di dekatnya.
“Gak papa, hanya kaget saja katanya,” jawab Quinsha dan ia lalu membungkukkan tubuh mensejajari si kakek. “Sudah lebih enakan, Kek?”
“Iya, Neng. Matur suwwun ya,” ucapnya dengan tulus. Quinsha mengangguk sambil tersenyum lembut.
“Kakek mau kemana?” tanya gadis itu lagi.
“Mau pulang, Neng.”
“Rumahnya di mana?”
“Itu di sana!” si Kakek menunjuk ke suatu arah. Tapi di arah tersebut tidak terdapat perumahan yang ada hanya beberapa toko yang berderet dan sebuah bengkel. “kakek tinggal di belakang bengkel itu. Bengkel itu punya anak kakek,” urai si kakek.
Quinsha mengangguk paham. Sementara Rafardhan hanya melihat saja interaksi antara gadis cantik berhijab itu dengan kakek tua di depannya.
“Saya antar ya, Kek?” pinta Quinsha. Ia sudah tak peduli kalau akan terlambat tiba di Nada Hikam.
“Gak usah, Neng,” tolak si kakek. “Ini sudah dekat. Kakek juga sekalian jalan-jalan,” imbuhnya.
“Baiklah, kalau gitu kami permisi ya, Kek. Maaf atas semua kejadian ini.”
Setelah mendapat anggukan dari kakek. Quinsha segera berbalik dan menemukan Rafardhan tengah tersenyum padanya. “kenapa kamu tersenyum?” sembur Quinsha. Pasalnya perasaan gadis itu mendadak tak nyaman melihat senyuman Rafardhan.
__ADS_1
“Kamu calon istri impian, Quin. Cantik dan baik hati,” puji Rafardhan.
Apalagi ini? Kenapa mengatakan hal seperti ini? Quinsha yang sudah berdebar-debar melihat senyuman Rafardhan, kini tambah berdebar lagi setelah mendengar ucapannya.