
Quinsha langsung diam, keceriaan yang ia perlihatkan dari awal, langsung hilang. Bahasa santun dan ramah tamah yang dipersembahkan, juga kandas tak bersisa. Quinsha sungguh tak menyangka kalau berita seperti ini yang dibawa oleh pamannya itu. Dan yang terasa sangat menyedihkan, umminya terlihat mengiyakan saja apa yang menjadi keinginan sang paman.
Sungguh di titik ini, Quinsha merasa menyesal pulang dari yayasan untuk menyambut kedatangan pamannya itu. Harusnya ia tetap melanjutkan mengajar saja, dan kalau perlu, gak usah pulang sekalian.
“Sha!”
Panggilan sang ummi, membuat langkah Quinsha berhenti.
“Kamu marah sama ummi, Nak?” tanya Firda dengan lembut.
“Gak marah, Ummi. Hanya kecewa saja. Seharusnya untuk hal sebesar ini, aku juga dilibatkan sebelum memutuskan. Aku yang akan menjalani semuanya ‘kan ummi?” Quinsha menatap wajah teduh ibu yang telah melahirkannya itu dengan penuh kekecewaan.
Firda mengangguk, ia segera menuntun tangan putri tunggalnya itu dan dibawanya duduk di sofa yang ada di depan kamar. “Ummi minta maaf, Sha. Kalau sikap ummi mengecewakan kamu. Tapi ummi sudah terikat perjanjian dengan pamanmu.”
“Perjanjian apa?”
“Ingat, ketika kamu menolak saat hendak dijodohkan dengan Rizam?”
QUinsha mengangguk. Rizam, lelaki itu sempat dipilih oleh Azman—pamannya Quinsha—sebagai calon imam untuk keponakannya itu. Azman sendiri adalah wali gadis itu setelah ditinggal ayahnya lima tahun yang lalu. Karena Azman adalah kakak ayah Quinsha.
Saat itu, Quinsha menolak rencana perjodohan itu dengan berbagai alasan. Padahal dinilai dari berbagai segi, Rizam cukup memiliki kriteria yang baik sebagai calon suami yang shalih. Saat Quinsha menolak itu, Azman terlihat menghargai keputusan keponakannya.
Tapi di balik itu, Azman membuat perjanjian dengan Firda, untuk memberi waktu 2 tahun pada Quinsha, agar memilih calon pasangannya sendiri. Dan bila lewat dari masa itu, Quinsha belum menemukan juga, Azman lah yang akan memilihkan calon suami untuk keponakannya itu.
Firda menyetujui syarat dari Azman. Dan kini, masa dua tahun sudah berlalu, Azman datang lagi untuk menepati janji. Dan Firda tak bisa menolak, ketika kakak iparnya itu memilihkan calon untuk anaknya—pilihan Azman memang tak bisa diragukan, karena ia selalu mengedepankan kriteria sholih dan paham agama untuk menjadi calon suami Quinsha.
“Tapi, Ummi ...” Quinsha tetap tak bisa terima begitu saja. Apalagi ia tak pernah tahu siapa sosok yang telah dipilih Azman untuk dirinya itu.
“Nak, di sini, paman dan ummi itu hanya berikhtiyar. Jodoh, tetap Allah yang menentukan. Kamu hanya diminta untuk taaruf atau saling mengenal. Bila memang ada jodohnya dan saling cocok, ya lanjut ke pelaminan. Bila tidak, semoga Allah sudah menyiapkan yang terbaik untukmu. Itu maksud ummi sama paman. Kami bukan bermaksud memaksa kamu. Karena, anak gadis itu tidak elok lama-lama sendiri. Apalagi usiamu sudah lebih dari cukup untuk menikah.”
Mendengar semua apa yang diuraikan oleh umminya, Quinsha menunduk. Sempat terbersit salah sangka dalam dirinya, kalau akan dipaksa menikah. Ternyata, konsepnya tidak seperti itu. Jujur, Quinsha merasa bersalah dengan dugaannya.
__ADS_1
“Seminggu lagi, paman akan datang bersama laki-laki yang dipilihkan itu,” kata Firda kemudian.
“Bagaimana jika aku menolak, Ummi?”
“Kamu, kenapa seperti sudah yakin kalau akan menolak? Apa sudah menyukai seseorang?” tanya Firda dengan senyum.
“Gak ada, Ummi.” Quinsha menggeleng tegas. “Ya, mungkin saja nanti tidak cocok, ‘kan aku boleh menolak?”
“kalau kamu mau menolak, setidaknya dengan alasan yang bisa diterima oleh paman.”
QUinsha terdiam berpikir. Ia teringat apa yang dicetuskan oleh Azman tadi tentang sosok pemuda yang dipilihkan. Dia sholih, paham agama, dosen di salah satu Universitas terkemuka di kotanya. Sudah punya usaha sendiri juga, sayang pada kedua orang tua dan adik-adiknya, serta memiliki wajah tidak mengecewakan. Tak akan malu lah, kalau disandingkan dengan artis dari negeri ginseng. Demikian kata si paman.
Lalu dari celah mana, Quinsha akan menyampaikan penolakan. Jika dari kriteria yang disebutkan oleh Azman tentang laki-laki itu, adalah kriteria imam impian. Kalau hanya sekadar mengatakan tidak suka, pamannya pasti tidak akan terima.
AHh. Kepala Quinsha terasa berdenyut nyeri. Sudah tadi ia dipusingkan dengan sikap Rafardhan, kini bertambah pusing atas berita yang dibawa oleh sang paman.
“Ummi,” panggil Quinsha cepat, setelah satu ide ia dapat.
“Paman akan membawa orang itu seminggu lagi ya, Ummi? Bagaimana jika dalam seminggu ini aku sudah mendapatkan pilihanku sendiri?”
Firda tersenyum, ia kembali menghampiri Quinsha. “Dalam seminggu ini kamu mau apa, Ndok? Mau cari calon jodoh di mana?” tanyanya sambil menahan tawa.
“Ya, siapa tahu, Ummi. Allah kalau sudah berkehendak, hanya dengan kalimat ‘kun’ saja ‘kan?”
“Iya, kalau itu yang terjadi, kamu bisa sampaikan pada paman, tapi ingat, paman pasti akan menyeleksi calon kamu itu yang sekiranya sesuai dengan standarnya. Sholih dan beriman.”
QUinsha mengangguk patah-patah. Setelahnya, tak sedikit pun ia dapat mengusir pemikiran tentang hal itu dari benaknya. Hingga waktu bergulir tanpa terasa, sebentar lagi Maghrib akan segera tiba. Quinsha tersentak, karena ia bahkan belum menyiapkan baju yang akan ia pakai nanti di acara.
Padahal Quinsha sudah berencana untuk tampil cantik dan elegant, kalau bisa akan mengalahi cantiknya penampilan pengantin perempuan. Tapi karena rencana perjodohan, semua rencana jadi berantakan.
“Sha, kamu ke acaranya Arfan sama siapa?” itu pertanyaan Sherin di telepon. Sahabatnya itu menelepon Quinsha sesaat sebelum Quinsha berangkat.
__ADS_1
“Ee, anu ...” Quinsha jadi bingung mau jawab apa.
“Apa kamu mau mangkir ya? Gak mau datang ya?” tebak Sherin terdengar sambil disertai tawa.
“Eh siapa bilang, aku akan datang kok. Ini aku udah bersiap berangkat “ jawab Quinsha seraya mematut penampilannya sekali lagi di depan cermin.
“Sama siapa kamu, Sha? jangan sendirian ya Sha!” nasihat Sherin.
“Aku gak sendirian, aku ada temannya.”
“Syukurlah. Takutnya kamu pingsan di sana, jadi ‘kan ada temanmu yang bisa menolong.” Terdengar ucapan Sherin sambil menahan tawa.
“Ih, doamu jellek banget, Rin,” gerutu Quinsha.
“Canda aja, Sha. Jadi kamu sama teman-teman di Nada Hikam ya?” lanjut tanya Sherin.
Qhinsha kembali bingung mau menjawab apa. Sudah jam segini Rafardhan belum menghubungi. Mungkin pemuda tampan itu sudah berubah pikiran. Pikir Quinsha. Jadi tak ada salahnya, jika ia mengiyakan pertanyaan Sherin. Kalau ia akan datang bersama teman-teman di Nada Hikam.
Tapi saat itulah ada chat dari Rafardhan, yang memberitahukan kalau pemuda tampan itu sudah menunggu di depan. Quinsha jadi sedikit gelagapan.
Karena Quinsha tetap diam, Sherin pun kembali menanyakan, “Sama siapa kamu, Sha?”
“Sama anak kamu. Aku jalan dulu ya, Sherin. Assalamualaikum.”
Buru-buru Quinsha menutup telepon sebelum Sherin memahami maksud ucapannya, dan sebelum diinterogasi macam-macam oleh sahabatnya itu.
******
Berdasarkan usul salah satu pembaca..ini aku tampilkan gambar omar Danil sebagai visual Rafardhan..cocok tidak ya??
__ADS_1