
Terbiasa bangun di sepertiga malam. Meski tanpa adanya alarm yang mengingatkan. Quinsha terjaga dari tidur yang lena semalaman. Namun, terasa ada yang aneh, merasa ada yang tak biasa, gadis itu sontak membuka mata.
Seraut wajah rupawan terlihat jelas di hadapannya, bahkan dalam posisi yang hanya beberapa inchi saja. Quinsha langsung ingin teriak, jika saja ingatannya tak segera di dapat. Perlahan ia bergerak, untuk mencipta jarak agar tak terlalu merapat. Namun, tubuhnya terasa berat.
Astaga, saat ia rotasi pandangan ke bawah, tangan kiri Rafardhan tengah memeluk erat pinggangnya. Bahkan setelah kian dirasa-rasa, kepala Quinsha tidaklah berada di atas bantal, tapi di atas lengan kanan suaminya.
QUinsha terlihat menahan napas, merasakan debaran secara mendadak. Rasa cemas dan kawatir juga ikut merangsak. Wajah cantiknya yang baru bangun tidur itu jadi terlihat pucat.
Saat Quinsha berada dalam kebimbangan, dan menyusun ancang-ancang untuk melepaskan, tiba-tiba terdengar pertanyaan. “Sudah bangun?”
“Ee ...” Quinsha tersentak. Dan segera beralih tatap. Rafardhan tersenyum. Wajahnya tetap rupawan, meski baru terbangun.
“Belum subuh,” ucapnya lagi dengan sepasang mata yang sepertinya ingin terpejam kembali.
“Aku biasa bangun jam segini,” sahut Quinsha lirih. Dan menghindari tatapan Rafardhan sudah dilakoninya dari tadi.
“Shalat ya?”
QUinsha mengangguk.
“Aku belum pernah melakukan Shalat malam.” Rafardhan perlahan beringsut melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Quinsha. Gadis itu pun menggeser kepalanya berpindah ke bantal. Namun, Rafardhan tak segera menarik tangan yang sempat menjadi bantal tidur istrinya itu. Bahkan hanya memperdengarkan desisan ringan.
“Kram?” tanya Quinsha.
“Sepertinya,” sahut Rafardhan dengan senyum.
“Maaf, aku jadi merepotkan,” kata Quinsha dengan perasaan tak nyaman. Ia lalu duduk, meraih tangan Rafardhan itu pelan. Dan dipijitnya dengan lembut. “Terima kasih,” ucapnya lirih.
“Terima kasih untuk apa?” tanya Rafardhan.
__ADS_1
“Karena kamu telah membuktikan ucapan,” sahut Quinsha.
“Aku berjuang setengah mati untuk itu.” Rafardhan juga segera duduk dan menatap wajah Quinsha tanpa lepas. “Wajahmu terlihat lebih cantik waktu tidur, membuatku gak tahan untuk ...”
“Untuk apa?” tanya Quinsha cepat, karena Rafardhan yang sengaja tak meneruskan ucap.
“Untuk tak m3ng3cup bi-bir-mu,” akunya jujur. Semalam ia memang sangat ingin melakukan itu setelah puas memandangi wajah istrinya yang tertidur pulas.
Quinsha langsung terdiam, bahkan gerakan tangannya yang sedang memijit lengan suaminya itu juga ikut berhenti.
“Gak boleh ya, karena aku gak ijin lebih dulu?” tanya Rafardhan. Quinsha masih tetap diam. Sebenarnya ia tak sedang marah atau merasa kesal. Yang ada malah rasa menyesal. Karena c-i-u-m-a-n pertamanya dicuri oleh Rafardhan, dalam kondisi dirinya sedang tidak sadar.
“Ya udah, aku ijin ya sekarang.” Rafardhan meraih dagu Quinsha, diangkatnya pelan. Disapunya wajah cantik itu dengan tatapan kelembutan. Ujung jemarinya terangkat mengusap bi-bi-r bawah Quinsha yang merona berwarna merah muda.
Napas Quinsha terasa memburu, jantungnya bak tabuhan bedug yang bertalu-talu. Apalagi saat tatap mata beradu, irama jantung lebih dahsyat dari debur ombak di laut biru.
QUinsha tak menjawab, hanya sedikit beralih tatap. Oke, itu adalah sebuah bahasa isyarat, yang dipahami oleh Rafardhan dengan cepat.
Lelaki tampan itu hanya perlu menggeser wajahnya sedikit untuk bisa meraih permen manis yang seakan menggelayut di bi-bir istrinya. Dan, Ahh. Benda kenyal itu berhasil didapatkannya dan disapunya dengan ujung li-dah, sebelum dik3cupnya setiap inchi tanpa celah. Lalu dibawanya berpalun dalam l-u-m-a-t-a-n lembut dan mesra. Pelan, penuh irama, lalu perlahan iramanya berubah kian cepat dan meresap. Bak berubahnya musik slow pada musik DJ secara berkala.
Quinsha merangkul erat pinggang Rafardhan dengan kedua tangan. Sungguh sensasi sebuah c-i-u-m-a-n pertama yang tak pernah dibayangkan. Tubuhnya bahkan terasa bergetar, dan seakan hawa panas menyelimuti badan, padahal AC dalam ruangan tetap dinyalakan.
Rafardhan mengakhiri semuanya setelah beberapa jenak, untuk keduanya bisa meraup napas yang banyak. Quinsha langsung tertunduk saat Rafardhan memindai wajahnya sepenuh tatap.
“Belum pernah ya?” tanyanya.
Quinsha mengangguk. Rafardhan bisa merasa kalau itu yang pertama bagi istrinya, dari tubuhnya yang terasa tegang dan kaku, serta tak memberikan balasan atas ci-u-ma-n itu. Namun, kendati demikian Rafardhan tetap merasa senang, dapat merasakan manisnya bi-bir yang masih original.
“Terima kasih ya, sudah menjadikan aku yang pertama,” ucapnya sambil membawa tubuh Quinsha dalam dekapan hangatnya.
__ADS_1
“Aku minta maaf, sebenarnya barusan aku sudah berbohong,” ucapnya lagi seraya membelai rambut Quinsha dengan gerakan teratur.
“Soal apa?”
“Soal aku menciummu waktu tidur. Sebenarnya itu tak benar. Aku hanya sengaja mengatakan demikian, agar bisa kau ijinkan sekarang,” ungkap Rafardhan dengan menyimpan senyuman.
“Nakal,” gerutu Quinsha.
“Mau merasakan kenalanku yang lain, gak?” Rafardhan menatap wajah istrinya sambil tersenyum menggoda.
“Gak.” Quinsha langsung menggeleng.
“Kenapa?”
“Takut kebablasan,” sahut Quinsha sambil menunduk malu.
“Mang kenapa kalau kebablasan, kita ‘kan udah halal.”
“Iya, tapi aku-aku lagi halangan sekarang,” kata Quinsha sedikit terbata.
“Halangan, maksudnya?”
“Lagi datang bulan.”
“Ohw.” Rafardhan langsung tertawa dan kembali menarik tubuh Quinsha ke dalam pelukannya. “Gak papa, itu memang sudah fitrahnya perempuan. Ini juga pelajaran bagiku,” ucapnya penuh pengertian.
“Pelajaran apa?”
“Untuk belajar sabar. Mendapatkan yang halal itu memang tidak mudah. Tapi yang halal itu jauh lebih indah,” cetus Rafardhan dengan senyum terkembang, mengingat betapa manisnya bi-bir istrinya yang sudah ia rasakan barusan.
__ADS_1