
“Quinsha tunggu!”
Arfan bergegas menghampiri Quinsha yang menghentikan langkah setelah dua kali Arfan memanggil dari teras rumah. Kini lelaki itu berdiri tak jauh di depan Quinsha dengan napas sedikit terengah.
“Saya akan antar kamu, tunggu sebentar ya, saya keluarkan mobil dulu.” Arfan segera memutar tubuh.
“Tidak usah. Saya mau pulang sendiri,” tegas Quinsha.
Arfan menatap gadis itu lagi. “Sebentar saja kok, tunggu ya.”
“Tidak. Saya mau pulang sendiri.” Quinsha berkata dengan suara yang lebih tegas lagi.
“Ini sudah sore, akan sulit mendapatkan angkutan pada jam segini. Saya antar saja ya,” bujuk Arfan.
“kalau gak ada taksi, saya akan jalan kaki,” putus Quinsha dan segera berbalik badan lagi.
“Quinsha!” panggilan Arfan kembali mencegah langkahnya lagi. “Kamu kenapa sih? Saya yang ajak kamu ke sini, jadi saya harus mengantarkan kamu kembali.”
“Harus?”
“Ya, ini sebentuk tanggung jawab saya untuk membawa kamu kembali, Quinsha.”
“Membawa saya kembali, kamu bilang? Tapi apa kamu bisa mengembalikan perasaan saya menjadi baik-baik saja?” Quinsha menatap Arfan dengan pandangan nanar.
__ADS_1
“Maksudnya?” gumam Arfan pelan.
“Gak paham ‘kan? Sudah saya duga.” Dan Quinsha kembali hendak memutar langkah.
“Quinsha tunggu!” Arfan menatap gadis cantik itu lekat. “Kamu marah sama saya?”
“Kalau saya bilang, gak. Kamu percaya?” Quinsha menantang tatap mata Arfan, seakan menunjukkan kalau di tatapannya memang ada kemarahan.
“Maafkan saya, Sha,” pinta Arfan dengan suara merendah.
Quinsha menggeleng pelan. “Tak ada yang perlu dimaafkan. Kamu gak salah. Saya yang salah karena merasa marah,” akunya dengan suara bergetar.
“Quinsha ... saya...” Arfan memilih memutuskan kalimat begitu saja, padahal sejatinya banyak hal yang ingin diucapkannya.
Arfan terhenyak. Suaranya jadi tercekat. Sepasang matanya menatap Quinsha lekat. Jantungnya berdetak lebih kuat.
“Saya terima Takdir, karena ternyata kamu memilih nama lain. Tapi, setiap hal kecil dari sikap kamu ke saya yang bisa dikata lebih dari biasanya, Itu bikin saya salah paham. Seperti tadi, kamu ajak saya ke sini, kamu bilang mau mengenalkan saya sama keluarga kamu. Bisa kamu bayangkan, apa yang ada dalam pikiran saya ...”
QUinsha mengalihkan pandangan ke tempat lain, seiring satu titik air bening yang mengalir, jatuh menggelinding di belahan pipinya yang bening.
“Salah, saya memberitahukan semua ini sama kamu sekarang. Bukan tempatnya, dan bukan waktunya. Tapi maksud saya ... berhenti kamu bersikap peduli ke saya. Biar saya berhasil melepas nama kamu dari doa saya.”
QUinsha segera bergegas dengan langkah lebih cepat, tanpa memberikan kesempatan pada Arfan untuk menjawab.
__ADS_1
Lelaki itu sendiri tak mampu untuk mencegah. Hanya tatapannya yang mengiringi kepergian Quinsha dalam setiap langkah. Sedangkan Jiwanya berpalun diam dalam resah.
“Maafkan saya, Quinsha.” Kalimat singkat terlisan dari bibirnya. Dan selanjutnya sederet kalimat hanya terukir dalam jiwa saja.
‘Saya bukan tak tau, apa yang kamu rasa. Dan saya juga sering membawa nama kamu dalam doa saya. Tapi saya kalah pada ibunda saya, yang sudah menunjuk satu nama untuk saya. Allah lebih mengijabah doa bunda dari pada doa saya. Maafkan saya Quinsha’
Arfan tertunduk, besar niatnya untuk meminta Quinsha agar tak pergi, atau menyusulnya dan menggandeng tangan gadis itu saat ini. Tapi ada sesuatu hal besar yang menghalangi, dan itu ada dalam dirinya sendiri. Berupa ‘sadar diri’ dan ‘tau diri’ akan kenyataan yang ada saat ini.
Seorang gadis cantik berhijab putih menghampiri Arfan yang masih berdiri mematung di tengah halaman. “Kenapa mbak Quinsha gak diantar pulang ,Mas?”
“Dia gak mau,” sahut Arfan singkat.
“Tapi ini sudah sore. Bagaimana kalau dia gak dapat taksi?”
“Mungkin dia akan menelepon sopirnya.”
Zahwa mengangguk dan lalu menatap Arfan yang masih mengarahkan pandang ke pagar halaman. Di mana tubuh Quinsha menghilang. “Mas, Mas Arfan masih kepikiran ya?” tanya Zahwa pelan.
Arfan hanya menjawab dengan sebaris senyuman sambil tertunduk sesaat.
“Mas, suka pada mbak Quinsha?” tanya Zahwa lebih lanjut.
Arfan segera terdongak dan menatap Zahwa dengan pandangan lekat. “Apa maksudmu, bertanya demikian?”
__ADS_1