Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 102


__ADS_3

Meninggalkan sejenak romantisme Rafasya dan istrinya, kita tengok ke rumah Alarik William. Di saat yang bersamaan, saat dimana azan subuh akan berkumandang.


Alarik yang hendak mengambil wudhu untuk bersiap menunaikan kewajibannya kepada Tuhan, sontak menghentikan langkah saat melihat seseorang yang sepetinya juga tengah berusaha untuk bersuci dari hadas kecil sebagaimana dirinya.


Dengan sepenuh tenaga, dan susah payah juga, Akhirnya William berhasil membawa kursi roda yang didudukinya itu ke dekat kran air. Ia segera menggulung kedua lengan bajunya hingga siku. Dan selanjutnya memutar kran untuk mendapatkan aliran air yang akan membasahi wajahnya sebagai salah satu syarat bersuci.


Tapi sayang, posisinya yang terlalu dekat membuat aliran air dari kran yang cukup deras itu juga tumpah memenuhi kedua lututnya. Lelaki tua yang sudah tak utuh lagi itu susah payah berusaha menghindari, ia memutar kursi rodanya untuk mundur. Namun, karena tempat yang cukup sempit membuatnya sangat kesusahan.


Tanpa kata, Alarik segera menarik kursa roda itu ke belakang dan mematikan kran air. William terkejut melihat siapa yang telah menolongnya. Segera sebuah senyum terbit di bibirnya kala berkata, “Terima kasih, Nak.”


Alarik tersamar menghela napas. Jiwanya terasa menghangat. Pasalnya, ini kali pertama dalam seumur hidupnya, William menyebutnya dengan kata “Nak” dan itu terdengar merdu di pendengarannya. Namun, Alarik masih tetap mempertahankan mode diam sejak dari semalam.


Alarik menoleh kanan kiri untuk mencari di mana kedua asisten ayahnya itu berada. Mereka yang biasanya siaga 24 jam dalam mengurus segala keperluan sang majikan, kini tak terlihat di sekitaran William.


William yang paham dengan gelagat putra bungsunya itu segera menjelaskan. “Mereka masih tidur. Aku sengaja tak membangunkan, karena semalam mereka tidur cukup larut.”


Ini sungguh di luar kebiasaan William. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Damaresh, jika ayahnya itu sekarang sudah bisa bersikap lebih manusiawi setelah terjaga dari tidur yang panjang.


“Papa mau ambil wudhu?” satu pertanyaan terlisan begitu saja dari bibir Alarik. Pertanyaan yang tak segera terjawab oleh William karena masih tercekat dalam rasa haru, ketika dipanggil “papa” lagi oleh sang putra bungsu.


“I-iya, Nak. Pa-papa mau shalat subuh,” jawab William dalam getar suara yang terbata-bata, karena rasa bahagia yang menyelimuti jiwa.


Tak ada kata-kata apalagi dari Alarik, kecuali ia segera membantu ayahnya itu untuk memenuhi syarat sahnya Shalat yakni berwudu terlebih dahulu.


Dari kejauhan, terdengar adzan subuh berkumandang. Suara panggilan Shalat yang menggema ke seluruh penjuru. Saling bersahutan, bahkan ada yang bersamaan. Dan suara adzan itu pun menyeruak dalam pendengaran Quinsha dan Rafardhan yang hampir saja kembali terlelap dengan posisi saling berpelukan.


‘Ahh, bisakah waktu ini berhenti sesaat’ harap Rafardhan dalam hati. Ia sungguh tak ingin waktu berlalu, tak ingin melepaskan sang istri dari pelukan, bahkan tak ingin jarak kembali memisahkan. Pasalnya, sekitar satu setengah jam berselang, ia harus pergi lagi ke tanah seberang. Bali, Tanah elok nan cantik yang akan menjadi tujuan.


Setali tiga uang dengan suaminya, Quinsha juga tak ingin terlepas dari dekapan hangat Rafasya. Berharap waktu tak akan pernah terganti, agar kebersamaan tak ada yang bisa membatasi. Hingga terasa tarikan napas hangat hinggap di pucuk kepalanya, menyeruak di antara rambut sutranya. Rafardhan tengan menciumnya dengan lama. “Subuh,” ujarnya pelan.

__ADS_1


QUinsha mengangguk. Dengan rasa berat ia hendak beringsut. Tapi Rafardhan enggan melepaskan peluk, hingga gadis itu terdongak dan berucap, “Subuh.”


“Iya.” Rafardhan tersenyum dan melepaskan pelukannya. Ia segera turun dari pembaringan untuk membasuh wajah dan mengambil wudhu.


“Nitip doa,” ujar Quinsha.


“Doa apa?”


“Semoga Allah selalu menjaga suamiku untuk istrinya.” Setelah mengucapkan kalimat itu Quinsha segera hendak kabur keluar kamar. Tapi dengan cepat Rafardhan sudah menahan tangannya, dan memindai wajah cantiknya tanpa lepas.


“Apa aku sudah mencuri hatimu?”


QUinsha mengangguk.


Rafardhan kian mendekatkan tubuhnya, dan tatapannya mengarah tepat pada netra bening istrinya. “Apa kau sudah jatuh cinta padaku?” tanyanya lagi.


Rafardhan menggeleng cepat, tanpa melepaskan tatap. “Bukan itu jawaban yang aku mau.”


Quinsha terlihat menahan napas, sebelum mengutarakan jawab. “Iya.” Singkat, jelas dan padat. Yang membuat senyum menawan terbit di wajah Rafardhan yang menawan. “A-Aku tidak salah ‘kan?” tanya Quinsha dengan suara hampir tercekat.


“Bahkan ini, yang ingin aku dengar sejak lama, sejak sebelum kita menikah,” sahut Rafardhan tanpa melepaskan senyum di wajahnya. Rasanya senyuman itu memang tidak akan berlalu, sebagaimana hatinya yang berbahagia nan mengharu biru.


“Maksudnya?” Quinsha memberanikan diri menatap mata Rafardhan. Sepasang mata yang seakan samudera luas membentang, dan membuat Quinsha terhanyut dan tenggelam.


“Kamu merasa cinta padaku, itu sangat menjadi keinginanku,” jawab Rafardhan.


“Dan, kamu?” tanya Quinsha dengan detakan yang memburu. Harap-harap cemas terhadap apa yang akan menjadi jawaban suaminya itu.


“Menurutmu, apa alasanku segera memutuskan untuk menikahimu, sebelum kamu dinikahkan dengan orang lain?”

__ADS_1


“Mungkin, karena kasian padaku,” tebak Quinsha. Walau sebenarnya ia tak cukup yakin dengan tebakannya.


“Serendah itu ya, aku memandangmu. Jika karena kasian saja yang menjadi alasanku menikahimu,” cetus Rafardhan.


“La-lalu?”


“Aku merasa selalu ingin bersamamu, saat itu. Sekarang, nanti dan selamanya. Hanya kamu, tidak ada selain kamu.” Setelah mencapai titik pada kalimatnya, Rafardhan segera meraih tubuh sintal istrinya dalam dekapan. Kini kembali mereka saling berpelukan, dalam satu naungan rasa yang sama, rasa kasih dan cinta.


Author: ingatkan keduanya, agar jangan berpelukan terlalu lama. Bisa-bisa Rafardhan ketinggalan Shalat Subuhnya.


“Sayang ... jika kau mendengar ataupun melihat kabar, atau berita, tentangku. Jangan segera memutuskan bahwa itu aku, sebelum kamu mendengarnya sendiri dariku. Bisa ‘kan?. Karena kamu ‘kan tau sendiri apa profesiku.” Rafardhan mengusap lembut pipi Quinsha usai saling berpeluk di dekat mobil yang menjemput Rafardhan di depan pagar rumah.


“Insya Allah.” Quinsha anggukkan kepalanya mantap.


“Janji?” Rafardhan masih menatapnya dengan seksama.


Quinsha mengangguk sambil menyematkan senyumnya. “Janji juga padaku, sayang,” pintanya.


“Apapun yang kamu pinta, aku janji melaksanakannya,” ucap Rafardhan segera.


“Hanya satu. Berikan senyummu untuk semua orang. Tapi berikan hatimu hanya untukku seorang.”


Rafardhan tak menjawab, ia malah segera memberikan istrinya itu sebuah pelukan. “Itu pasti,” bisiknya.


Sementara dalam mobil yang sudah menjemputnya itu. “Sampai kapan, kita akan disuguhi pemandangan manis, legit kayak gini. Sumpah, pening kepala gue. Jadi pen pulang, pelukan anget ama bini,” gerutu Adam yang segera di sambut tawa renyah oleh sopirnya di depan.


“Lah lu bisa gitu, punya pelampiasan. Gimana dengan gue, yang adalah jomblo sejati ini,” sahut Sopir yang usianya di bawah Adam itu sambil mengudarakan tawa. Tak lama, Rafardhan masuk ke dalam mobil, yang segera melaju, karena pesawat untuk mereka sudah menunggu.


Satu jam, setelah Rafrdhan pergi untuk terbang ke Bali, rombongan keluarga William datang. Tapi Sayang sekali, mereka tak bisa bertemu dengan Rafardhan, tapi tetap tak mengurangi suka cita mereka semua, karena bisa bertemu dengan Quinsha dan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2