
“Di mana alamat rumah kamu?” Tanya Rafardhan. Ia tersadar untuk menanyakan itu, guna menghindari mobilnya berputar putar arah saja, tanpa tujuan yang pasti.
Tak ada jawaban. Satu detik, dua detik dan seterusnya Rafardhan tetap menunggu, tapi quinsha tetap diam membisu. Lelaki itu menggiring kepalanya menatap gadis yang duduk di sampingnya itu. Dan, astaga. Quinsha sedang membanjiri wajahnya dengan air mata.
Hati-Hati saja, bisa jadi Rafardhan akan ikut tenggelam dalam genangan air mata Quinsha yang deras membanjir seperti air bah.
Rafardhan ingin berkata sekali lagi, tapi urung karena ada telepon masuk dari Adam.
“Ngajak gelut lu, Raf?” sembur Adam langsung begitu teleponnya diangkat.
“Gue udah dekat, Mas,” sahut Rafardhan sambil melirik Quinsha dengan ujung matanya.
“Dekat mana? ... Eh jangan bilang lu lagi ama Ayunda ya, gue dengar dia juga ada di kota ini sekarang.”
“Gue deket bidadari.”
“Jangan main-main lu, Raf. Pihak agensi udah nunggu lebih satu jam. Mereka bisa ngasih job itu ke orang lain.” Suara Adam terdengar kawatir.
Tapi berbanding terbalik dengan Rafardhan yang malah tertawa ringan.
“Jangan ketawa, lu. Gue serius!”
“Gak mungkin agensi ngelakuin itu, Mas. Produsernya Cuma ingin gue, bukan artis lain. Gue udah dapat bocoran ini langsung dari sana.” Kata Rafardhan.
“Serius lu?” pertanyaan Adam dengan nada terlonjak.
“Gue lebih serius.”
“Ahaa,” tawa Adam terdengar mengudara. “ Yang gue dengar Nathan juga mengejar peran itu, Raf.”
__ADS_1
“Gue tau.”
.
“Nah kalo Lu yang terpilih, lu bisa menyaingi popularitas dia. Secara selama ini, lu ‘kan masih ada di bawah dia.”
“Tapi jangan lupa satu hal, Mas. Kalau gue lebih ganteng dari dia,” kata Rafardhan dengan percaya diri tingkat dewa.
“Narsis lu.”
“Ini fakta.”
“Ya udah, buruan lu kemari.”
“ok.”
Setelah mengakhiri berteleponan dengan mas Adam, Rafardhan kembali menoleh pada Quinsha yang masih tetap diam. Ternyata, aksi mogok bicara gadis itu tak terusik dengan ulah Rafardhan yang berisik dengan manajernya barusan.
Mobil mewah itu melaju menuju lokasi di mana Adam sudah menunggu. Tak butuh waktu lama, sekitar 15 menit saja, sudah tiba di tempat yang dituju.
“Saya keluar sebentar, Quin. Kamu jangan kemana-mana,” kata Rafardhan setelah mematikan mesin mobil, tanpa menatap Quinsha. Seperti ucapan sebelumnya, kali ini ia pun tak peduli Quinsha mau menanggapinya atau tidak, karena memang gadis itu sedang berenang sendirian dalam maya pikirannya. Sehingga keberadaan Rafardhan di sampingnya hanya seakan angin lalu saja.
Pria itu segera melepas seat beltnya dan gegas turun dari mobil. Tapi gerakannya tertahan dengan pertanyaan Quinsha, “Kita sudah sampai?”
“Ya,” jawab Rafardhan.
“Terima kasih ya, sudah mengantar saya. Saya turun dulu.” Quinsha segera hendak membuka pintu mobil dan beringsut untuk keluar.
“Badainya sangat besar ya, Quin?”
__ADS_1
Pertanyaan Rafardhan itu membuat Quinsha menghentikan gerakan dan tercengang menatap Rafardhan. “Hah? Badai apa?” tanyanya tak paham.
“Badai yang menimpamu barusan, atau tadi, atau kapan, sampai kau kehilangan separuh dari kesadaran.”
“Maksudnya?”
“Lihatlah keluar!” Rafardhan menunjuk ke luar mobil yang segera diikuti oleh arah pandangan Quinsha.
“Apa kita di depan rumah kamu sekarang?” tanya Rafardhan setelah Quinsha mengamati suasana di luar mobil dengan seksama.
“Kita di mana?” Quinsha jadi balik tanya.
“Di depan galeri ‘Citra Mustika’.”
“Saya mau pulang, kenapa malah saya dibawa kesini,” protes Quinsha dengan menatap tajam.
“Saya tanya alamat rumah kamu, kamu diam, saya tanya geogle juga gak ngasih jawaban, apa saya harus turunkan kamu di pinggir jalan?”
“Kapan kamu tanya saya?” Quinsha terlihat berpikir dalam, guna mengingat apa benar Rafardhan sudah bertanya alamat padanya.
“Tanya pada air mata kamu, Quin. Dia dengar semua pertanyaan saya,” sindir Rafrdhan. Quinsha seketika menunduk dengan rasa sesal yang menjalar.
‘Kenapa aku harus menangis, sehingga terlihat bodoh dan lemah di depan Rafardhan’ Sesal Quinsha dalam diam.
Tapi lebih menyesal lagi, ketika teringat segala hal yang membuatnya menangis hingga seakan hilang kesadaran. ‘ini terakhir kalinya aku meneteskan air mata untukmu, Arfan. Setelah ini, haram hukumnya aku menangisimu’. Tekad Quinsha dalam diam.
“Apa yang sudah terjadi sama kamu? Kenapa kesadaranmu sampai terempas begitu?” tanya Rafardhan, setelah beberapa jenak Quinsha tetap terdiam dengan kepala menunduk dalam.
“Gak papa,” jawab Quinsha dengan suara bergumam. Menunjukkan ketakyakinan dalam memberi jawaban.
__ADS_1
“Kalau mau cerita saya dengar,” kata Rafardhan yang segera membuat Quinsha menatapnya. Tapi gadis itu masih tetap diam.
“Kalau butuh bahu buat bersandar, Saya juga siap, atau kalau mau jadi pacar saya, buat kamu saya bisa.”