
Malam sebelum kejadian.
“Lu, butuh apalagi, Raf?” Adam sudah menyerah untuk bisa melangkah sejajar di Samping Rafardhan, yang langkahnya terlalu cepat dan bergegas. Lelaki itu merasa sangat capek, seakan tenaganya terkuras. Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan waktu 02 tepat. Sudah dini hari.
Rafardhan hanya menggeleng singkat. Ia merasa tak butuh apa-apa lagi sekarang selain segera sampai di kamar hotel tempatnya menginap. Lalu mandi dan tertidur lelap. Sebenarnya sangat besar niatnya untuk menelepon istrinya. Tapi ini sudah dini hari. Rafardhan sungguh tak tega mengusik tidur sang istri. Bahkan bibirnya segera tersenyum manis, teringat betapa cantiknya wajah Quinsha yang terlelap di alam mimpi. Sungguh ia tak ingin mengusik, meski rindu terasa menghimpit.
“Napa lu gak jawab, Raf?” tanya Adam yang masih mengekorinya di belakang. Padahal, Rafardhan sudah menjawab pertanyaannya dengan menggeleng. Tapi terluput dari penglihatan Adam. “Gue akan nyiapin kebutuhan lu sekarang. Kalau gua udah masuk ke kamar, jangan harap lu bisa ganggu gua lagi,” ucapnya lagi disisipi dengan ancaman.
“Tidur aja, Mas. Gue juga mo tidur,” sahut Rafardhan, dan jadi kian mempercepat langkah, tatkala menapaki koridor yang menuju ke kamarnya.
“Ok.” Adam ingin bersorak saja sekarang atas jawaban Rafardhan. Bayang-bayang untuk segera rebahan di atas kasur empuk, sepertinya akan segera menjadi kenyataan. Bahkan ia menyalip langkah artis tampan itu dan segera masuk ke kamar, yang bersebelahan dengan kamar Rafardhan.
Syuting hari ini begitu panjang dan sangat melelahkan. Dan hampir jam 02 dini hari baru selesai. Semua jadi berebut meninggalkan lokasi, karena sudah sangat ingin istirahat dan mandi. Seperti apa yang dilakukan Rafardhan saat ini.
Tapi pemuda itu justru tak segera terlelap, meski sudah mengatupkan mata rapat-rapat. Akhirnya ia memilih untuk memesan minuman hangat. Tapi sayang sungguh sayang, layanan kamar tidak tanggap. Permintaanya tak ada yang menjawab.
__ADS_1
‘Aneh, slogannya aja menyediakan layanan 24 jam. Nyatanya, jam segini sudah tak ada pelayanan’ gerutu Rafardhan dalam hati. Ia terpaksa harus keluar kamar untuk menuju kafe yang ada di lantai satu.
Saat melintasi koridor yang menuju ke lift, di depan sebuah kamar terdengar jeritan seorang perempuan. Langkah Rafardhan seketika berhenti. Guna menajamkan pendengaran. Tapi hanya keheningan yang terjadi kemudian. Lelaki ganteng itu kembali teruskan langkah. Namun, baru 2 langkah jeritan itu kembali terdengar. Dan suaranya berasal tepat dari kamar yang pintunya tertutup di depannya.
“57, kamar 57 ini kan yang ditempati Hanum,” monolog Rafardhan. Ia ingat tiap kali pulang bersama dari lokasi syuting, mereka berpisah di koridor ini bersama asisten masing-masing. Lalu jika benar itu kamar Hanum, apa yang sedang terjadi pada aktris cantik itu, mengapa ia menjerit tengah malam begini.
Timbul niat Rafardhan untuk memastikan, tapi belum sampai mengetuk pintu kamar, seseorang lebih dahulu telah membukanya dari dalam dan menampilkan wajah Hanum yang sedikit berantakan. “Rafa.” Ia terlonjak menadapati pria tampan itu ada di depan kamar.
Dengan serta merta Hanum segera menghambur dan memeluk tubuh Rafardhan. “Raf, tolong aku, aku takut,” ujarnya dengan napas memburu.
“Jangan begini, Hanum.” Rafardhan berusaha melepaskan pelukan wanita itu.
“Iya, aku akan bantu sebisaku, ceritakan dulu kamu kenapa!”
“Aku mimpi buruk, Raf. Sangat menakutkan. Aku gak mau tidur di kamar ini lagi.”
__ADS_1
“Kau bisa bertukar kamar dengan asistenmu,” usul Rafardhan. Hanum menggeleng keras.
“Aku dan dia udah sering tukeran kamar. Dan hasilnya sama aja, kita sering dihantui mimpi menakutkan.” Hanum bergidik ngeri. Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan sekali. “Besok aku usul minta pindah hotel saja,” lanjutnya.
RAfardhan mengangguk. Hal-hal berbau mistik tentang hotel yang mereka tempati memang sudah ia dengar beberapa kali. Tapi sejauh ini, Rafardhan belum bisa percaya sepenuhnya. Karena ia justru tak pernah mengalami gangguan apa-apa. Tak sebagaimana cerita beberapa kru yang lain.
“Aku mau tidur di kamarmu aja, Raf,” kata Hanum kemudian.
“Apa?”
“Kita tukeran kamar.”
*****
******
__ADS_1
Lnjut besok ya..dah ngantuk banget ini. tadi seharian ada acara keluarga. baru sempat ngetik malam-malam. itupun gak lancar jaya..
terima kasih untuk semuanya yang ternyata masih setia nungguin kelanjutan ceritanya...love u all