
Tiba-tiba saja, wartawan yang mengejar Rafardhan itu sudah tidak ada lagi, entah mereka menghilang di tikungan mana, perasaan jalan yang dilalui lurus-lurus saja. Tak ada tikungan atau tanjakan—karena ini memang di Mall—bukan lagi di jalanan.
Rafardhan menarik napas lega, sekali lagi ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Hanum yang sejak tadi terus bergelayut di lengannya. “Mereka sudah tidak ada,” ujarnya dan sedikit menjaga jarak dari Hanum yang seolah ingin terus mendekat. “Aku akan telepon mas Adam,” ujarnya lagi seraya mengeluarkan IPhone canggihnya.
“Pulang bareng aku aja, Raf. Aku bawa sopir,” kata Hanum.
Rafardhan menggeleng singkat dan melanjutkan niatnya untuk menelepon Adam. Tapi tiba-tiba saja, hadir ke tempat itu tiga orang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan pakaian serba hitam. “Tuan, Rafasya, bos kami ingin bertemu dengan Anda,” kata salah satunya.
Rafardhan sesaat saling tatap dengan Hanum sebelum menanggapi ucapan itu. “Siapa bos kalian?”
“Tuan Damaresh William.”
“Damaresh William?” Hanum terlonjak. Sebagai Aktris terkenal ia tau siapa pemilik nama yang disebut oleh laki-laki itu barusan. “Dia pemilik kerajaan bisnis Pramudya Corp, bahkan belakangan ini juga santer diberitakan kalau dia adalah pemilih Alpha DMC perusahaan raksasa tingkat dunia yang berpusat di Dubai,” urai Hanum pada Rafardhan yang hanya terdiam setelah mendengar nama Damaresh disebutkan.
“Mari ikuti kami, Tuan Rafasya.”
“Saya boleh ikut.” Hanum menawarkan dirinya. Pasti ia pikir bos Pramudya Corp itu ingin memakai jasa Rafardhan sebagai seorang artis dalam sebuah Event. Hanum tentu ingin kebagian peran juga, karena pasti Damaresh akan membayar jasa mereka dengan jumlah yang sangat fantastis.
“Kami hanya diperintahkan untuk mengajak Tuan Rafasya saja,” kata lelaki tinggi besar itu yang membuat gurat-gurat kecewa terlukis di wajah Hanum. Tapi segera aktris cantik itu teringat sesuatu. “Dia Rafardhan, bukan Rafasya,” kata Hanum memberitahukan.
“Rafasya Adtya Zaidan, atau Rafardhan,” tandas Rafardhan dan segera melangkah mengikuti ketiga lelaki itu meninggalkan Hanum yang masih terkagum-kagum dengan keindahan nama asli Rafardhan.
DAmaresh dan Aura sudah menunggu di sebuah kafe dalam mall itu juga. Tapi kafe tersebut tampak sepi hanya ada para pengawal Damaresh yang berjaga di depan pintu masuk. Pasti lelaki itu sudah menggelontorkan segepok uang untuk mengusir para pengunjung kafe yang semula ramai itu untuk pergi.
Aura segera berdiri dari duduknya saat melihat Rafardhan melangkah menghampiri mereka. “Rafa,” sapa Aura cepat sambil mengulas senyum. Rafardhan terlihat membalas senyum itu dengan ekspresi canggung.
“Maaf kalau cara kami memanggilmu sedikit membuat tidak nyaman,” kata Aura lagi.
__ADS_1
Rafardhan hanya menggeleng kecil, karena justru dirinya merasa tertolong oleh para pengawal Damaresh itu yang membuat para wartawan sudah tak lagi mengejarnya.
Aura memutar pandang pada suaminya yang diam saja tak menyambut ataupun menyapa Rafardhan sebagaimana dirinya juga. “Aresh, dia ini ...”
“Ya, aku dapat melihatnya,” sahut Damaresh cepat yang sedari awal sudah menatap raut wajah Rafardhan dengan seksama. Raut wajah yang sangat mirip dengan Alarik William.
“Duduklah!” Aresh mempersilahkan sepupunya itu untuk duduk. Sesaat kecanggungan terlihat mengudara, sebelum Damaresh memutus semua dengan ucapannya pada Rafardhan. “Tadinya aku tidak suka saat Arra memanggilmu dan mengejarmu ... ya tentu saja mana ada lelaki yang suka jika istrinya memanggil lelaki lain.”
“Aresh itu karena ...” Aura segera melancarkan protes mendengar ucapan suaminya itu.
“Biar saja, Arra. Aku hanya sedang mencurahkan isi hatiku pada saudara sepupuku. Jarang-jarang aku bisa bercerita tentang isi hatiku seperti ini pada orang lain,” sanggah Damaresh. Dan apa yang dikatakannya itu memang benar. Meski Kaivan adalah sahabatnya, hampir tak pernah ia menceritakan isi hatinya kalau bukan karena Kaivan yang memancingnya duluan, dengan mode sedikit memaksa tentu. Apalagi terhadap Edgard dan Anthoni, dua orang sepupunya yang lain.
“Sepertinya kau mendapatkan teman curhat sekarang ya,” seloroh Aura dengan senang hati. Karena dari hal ini jelas Damaresh memperlakukan Rafasya dengan lebih akrab dari pada sepupunya yang lain.
“Sepertinya begitu. Jika dia tak keberatan.” Damaresh menggunakan isyarat mata ke arah Rafardhan yang tak melepaskan tatapan dari wajah tampan Damaresh William—yang di beberapa hal ada kesamaan dengan wajahnya—tapi Damaresh terlihat bertampang blasteran yang didapat dari ayahnya—Airlangga—yang asli berasal dari Turki.
“Tentu saja, aku tak keberatan,” sahut Rafardhan cepat.
“Terima kasih ...”
“Aresh, panggil saja aku Aresh.”
“Terima kasih, Kak Aresh,” sambut Rafardhan.
Pertemuan dua orang sepupu ini terlihat unik bagi Aura, tak ada saling melempar senyum, saling berjabat tangan, apalagi saling berpelukan. Tapi mereka dengan cepat menemukan keakraban dan menunjukkan sinyal saling paham.
“Siapa wanita yang bersamamu tadi?” Tanya Damaresh sejurus kemudian.
__ADS_1
“Dia, Hanum. Lawan mainku di film terbaru yang sedang aku perankan.”
“Sudah mulai syuting?”
“Ya, sejak 2 minggu yang lalu.”
“Kalian terlihat sangat dekat,” tukas Damaresh. Sebenarnya hal ini pula yang ingin ditanyakan oleh Aura. Ia tak ingin kedekatan Rafardhan dengan rekan Aktrisnya itu akan menjadi berita yang kemudian sampai pada Quinsha. Aura kawatir sahabatnya itu akan terluka. Meski selama ini Quinsha masih diam saja terkait status pernikahannya dan tak pernah membicarakan apa-apa. Tapi, naluri seorang istri pasti akan tetap merasa terluka jika tahu suaminya sedang dekat dengan wanita lainnya.
“Kami hanya sedang menjalankan peran masing-masing atas permintaan dari agency,” sahut Rafardhan.
Animo para fans Rafardhan dan Hanum pada film terbaru yang sedang mereka perankan itu sangat tinggi sekali. Mereka ingin melihat dua tokoh utamanya tak hanya menjadi pasangan kekasih di dalam kisah film saja, tapi juga di dunia nyata. Tak ingin kehilangan antusiasme para penggemar yang siap menunggu film besutan sutradara terkenal itu diluncurkan—padahal proses shotingnya juga baru saja mulai—pihak produser dan Agency meminta Rafardhan dan Hanum untuk melakoni peran sebagai pasangan kekasih sungguhan di dunia nyata.
Dan langkah yang mereka tempuh adalah dengan jalan bersama di Mall terbesar ini. Walhasil, keberadaan mereka terendus oleh awak media yang segera berburu meminta mereka memberikan pernyataan terkait kedekatannya.
Sementara Rafardhan dan Hanum mengikuti skenario yang telah ditetapkan untuk bungkam dan menghindar. Biarkan saja opini akan tercipta sendiri yang akan menggiring penilaian bahwa mereka memang punya hubungan.
Tapi Damaresh punya penilaiannya tersendiri, dan hal itu ia cetuskan langsung pada Rafardhan. “Jika ada hati yang harus kau jaga. Sebaiknya kau menjaga jarak dengan lawan mainmu itu di luar proses syuting.”
Rafardhan terhenyak mendengarnya. Tiba-tiba saja wajah Quinsha terbayang dalam benak. Istri yang sudah lebih setengah bulan ia tinggalkan, dan belum sekali pun ia berkirim kabar. Begitu pun Quinsha, yang tak sedikit pun menanyakan kabar perihal suaminya.
Rafardhan dan Quinsha seperti dua orang pasangan kekasih yang sedang marahan dan sama-sama enggan untuk memulai komunikasi duluan. Rafardhan sibuk dengan pekerjaannya hingga terlupa untuk memberi kabar. Quinsha juga sibuk dengan egonya dan membiasakan diri tanpa kabar. Lama-lama Rafadhan dan Quinsha akan terlupa kalau mereka adalah sepasang.
“Terima kasih, Kak,” ucap Rafardhan sesaat kemudian. Ujung matanya melirik IPhone canggihnya di tangan. Niatnya untuk menelepon Quinsha tiba-tiba terasa sangat besar. Tapi ia biarkan mengendap dulu karena masih terlibat beberapa obrolan dengan sepupu yang baru ditemukan.
Hingga beberapa saat kemudian. “Raf, berikan aku alamatmu. Mungkin suatu saat aku akan mampir untuk minum kopi bersamamu,” pinta Damaresh.
Rafardhan mengangguk dan segera memberikan alamat Apartemennya.
__ADS_1
“Harusnya kita yang undang dia untuk datang ke mansion, Aresh,” kata Aura. Karena di sana Rafardhan akan bisa bertemu dengan saudaranya yang lain, termasuk kakek dan tantenya.
“Untuk hal itu aku perlu mendapatkan persetujuan dari Om Alarik dulu,” sahut Damaresh. Aura mengangguk paham begitu pun dengan Rafardhan. Dan selanjutnya pertemuan mereka di kafe itu berakhir, bersamaa dengan Adam yang datang untuk menjemput Raafardhan.