
Sherin menghentikan langkah, sepasang matanya menatap tanpa kedip apa yang terjadi di depan mata. Hilir mudik truk pengangkut barang keluar dari pabrik. Terhitung sejak Sherin berdiri di sana, sudah 4 truk yang keluar mengangkut barang, untuk masing-masing tujuan.
Istri Alarik itu menyunggingkan senyum bahagia. Karena itu adalah pertanda kalau masalah pendistribusian barang yang sempat dikembalikan, kini sudah mendapatkan jalan keluar.
Gegas ia masuk ke area pabrik, dan langsung menuju ke bangunan kantor. Satu tujuan Sherin, yaitu menemui suaminya sambil membawa paper bag berisi menu makan siang. Karena tadi pagi, Alarik buru-buru pergi bahkan tanpa sempat sarapan pagi.
Setiap yang berpapasan dengannya pasti memberikan senyum dan sapa ramah. Karena semua sudah tahu, kalau wanita berhijab ungu itu, adalah istri majikan mereka.
Tapi, senyum dan sapa ramah itu, tak didapati Sherin di dalam kantor suaminya. Alarik hanya melihat sekilas kedatangannya, sebelum kembali menekuni beberapa berkas yang tengah ia baca.
“Aku bawakan makan siang, Mas,” tutur Sherin seraya meletakkan paper bag di atas meja tak jauh dari Alarik duduk.
“Iya, Rin. Makasih,” sahut Alarik tanpa menoleh.
“Makan dulu, Mas. Ini sudah waktunya jam makan siang ‘kan?”
ALarik mengangguk. “Sebentar lagi,” ujarnya.
Sherin pun duduk menunggu di sofa, tak ingin memaksa Alarik yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Sampai, sekitar lima belas menit kemudian, Alarik menghampirinya.
“Kita makan siang bersama, Rin,” pintanya pada Sherin yang sedang menyiapkan menu makanan yang dibawanya itu.
“Aku sudah barusan, di rumah. Mas makan saja, aku temani.”
Selanjutnya Sherin duduk saja tak jauh di depan Alarik yang menyantap menu makannya dengan cukup lahap.
__ADS_1
“Kita sudah bisa mendistribusikan barang seperti biasa ya, Mas.” Sherin membuka obrolan setelah Alarik menuntaskan makan.
“Ya,” jawab Alarik singkat.
Hanya butuh waktu dua hari, dari waktu tiga hari yang dipinta Damaresh pada Alarik untuk menyelesaikan masalah ini. Tadi pagi-pagi sekali, suami Aura itu sudah menghubungi Alarik dan menyebutkan beberapa toko retail yang akan menjadi rekanan kerja pabrik sekarang. Dan rekan kerja yang baru itu, membutuhkan kiriman barang dengan segera.
Lelaki tampan yang telah meletakkan jabatannya sebagai CEO Pramudya Corp itu memang punya otak bisnis yang jeli, mampu melakukan terobosan baru yang tak terbaca, dan lihai dalam memecahkan permasalahan yang ada, tanpa membutuhkan waktu lama.
Pramudya Corp pasti sangat kehilangan sosok pemimpin yang bertangan dingin seperti Damaresh, kala lelaki itu memilih mengundurkan diri.
“Aku sangat senang, Mas, dengan semua ini. Setidaknya satu masalah telah teratasi,” ungkap Sherin, memberitahukan rasa suka citanya atas semua ini.
Alarik mengangguk saja sambil menyesap minumannya. Suka cita yang dirasakan oleh Sherin, tak terlihat di wajah lelaki itu. Wajah Alarik tetap datar seperti biasanya. Bahkan juga tak ada kata yang ia ucapkan sebagai bentuk apresiasi pada Sherin, yang telah ikut merasakan suka dan duka tentang pekerjaannya mengurus pabrik.
“Berlebihan kenapa?”
“Aku sangat senang dengan semua ini, tapi, kamu tidak.”
“Aku senang Rin. Masalah di pabrik sudah selesai,” kata Alarik, bibirnya sedikit menyungging senyum tipis tapi hanya sekilas.
“Yang aku lihat tidak begitu, Mas. Kau terlihat biasa saja,” nilai Sherin sambil menatap lekat wajah suaminya.
Alarik menghela napas berat. “Kau tau ‘kan? Masih ada hal yang sangat memberatkan aku,” tuturnya dengan suara pelan.
“perihal putramu, atau ibunya?” tanya Sherin pelan.
__ADS_1
“Keduanya,” sahut Alarik tanpa ragu.
“Keduanya, ya, Mas?” Sherin mengulang ucapan Alarik dengan suara lirih, seiring perasaannya yang seketika berkalung perih.
“Ya, tak ada yang lebih membebani pikiranku, selain tentang mereka,” resah Alarik dengan tatapan kosong yang menembus ruangan hampa.
Sherin mendengarkan itu dengan seksama, bersamaan dengan dirinya yang merasa dipinggirkan keberadaannya oleh Alarik. Memang faktanya, siapalah Sherin bila dibandingkan dengan Kanaya?
Wanita itu pun sangat menyadari posisinya. Tapi ia juga tak bisa menyingkirkan rasa perih dalam dada, setiap kali Alarik mengingatkan tentang posisi itu—dengan ucapannya—walau pun tanpa disengaja.
“Ya, Mas. Aku tau, Kanaya dan putranya adalah duniamu. Tak ada yang lebih utama dalam hidupmu dibandingkan mereka,” ucap Sherin sambil bersorak dalam hati.
Menyoraki dirinya sendiri yang tak pernah punya tempat dalam hati suaminya, hingga kini.
Apa yang bisa dilakukan oleh seorang Sherin sekarang? Ketika dihadapkan dengan kenyataan harus bersaing dengan orang yang sudah meninggal.
Jika saja Kanaya masih hidup, mungkin Sherin bisa meniru gayanya, penampilannya, dan segala hal tentang Kanaya demi untuk merebut cinta suaminya. Walaupun untuk itu, dalam tanda kutip, dia harus berubah menjadi orang lain, bukan dirinya sendiri.
Tapi faktanya, Kanaya sudah tiada. Dan kenangannya senantiasa hidup dalam diri Alarik, dan itu mungkin untuk selamanya.
Maka, adakah yang lebih tepat, yang bisa dilakukan oleh Sherin sekarang, selain mundur pelan-pelan?
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Haruskah, Alarik dan Sherin berakhir dengan perceraian??
__ADS_1