Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 35


__ADS_3

Mau menggambarkan rasa takjubnya dengan cara bagaimana, Lila kebingungan sendiri jadinya. Untungnya ia sadar untuk segera mengatupkan mulutnya yang terbuka—hampir membentuk huruf O sempurna—itu , dan merubahnya, menjadi senyuman yang seindah mungkin dibuatnya.


Demikian pula dengan Risma, wanita yang usianya sedikit di bawah Lila itu juga menunjukkan reaksi keterkejutan yang sama, namun dengan cara yang berbeda. Risma lebih cepat menguasai dirinya dari ekspresi terpana yang begitu lama. Ia bahkan segera menghampiri pemuda nan rupawan yang hadir di hadapannya dengan keramahan dan kelembutan tingkat dewa.


“si-silakan duduk!” kalimat yang sama diucapkan oleh Lila dan Risma, sama terbata-bata karena bahagia yang membuncah di dada.


“Terima kasih,” sahut pemuda tampan yang sesaat lalu membuka masker yang menutupi wajahnya, dan membuat Lila dan Risma benar-benar terpana dengan kehadirannya. Bahkan suara pemuda itu terdengar sangat indah, begitu pemikiran Lila dan Risma yang mendengarnya.


“Apa kehadiran saya mengganggu?” tanya pemuda tampan itu sebelum mendudukkan tubuh gagahnya di kursi yang ditunjuk Lila dan Risma.


Pasalnya Lila dan Risma masih berdiri saja dengan tatapan yang tak jauh beda sari sejak awal melihat hadirnya. Masih terpana, terpesona, dan terkagum-kagum yang belum ditemukan ukuran berapa, tingkat kekagumannya.


“Oh, tidak sama sekali. Sekarang memang sudah waktunya jam pulang,” sahut Lila yang seakan berebut dengan Risma untuk memberikan jawabannya.

__ADS_1


“Waktunya jam pulang ya?” pemuda tampan itu melihat jam tangan bermerek yang melingkari pergelangannya.


“Mak-maksudnya, sepuluh menit lagi,” ralat Lila dengan agak terbata.


“Oh.” Pemuda itu ber-oh saja sambil sedikit melempar senyum pada kedua wanita di depannya. Hanya sedikit senyum saja, tapi sudah sukses membuat Lila dan Risma saling pandang terpesona. Senyuman mahal yang dihargai dengan dolar itu, bagi keduanya terlihat jauh lebih indah dari pada di layar kaca.


“Kamu, jauh lebih tampan dari yang terlihat di layar kaca,” kata Lila memuntahkan apa yang menjadi buah pemikirannya dari semula.


“Ya, banyak yang bilang begitu,” sahut pemuda tampan itu dengan ekspresi yang datar saja. Karena, dipuji tampan, itu sudah biasa. Dikatakan menawan, itu juga biasa. Baginya, mendapatkan dua kata itu sudah bukan hal yang istimewa.


“Tidak. Terima kasih,” tolak pemuda itu yang segera membuat gurat kecewa terpahat di wajah Risma. Lila diam-diam menahan senyumnya. “Saya hanya sebentar saja,” lanjut pemuda itu.


Dan ucapannya dibuktikan dengan kembali melihat jarum jam di pergelangan tangan. Sepertinya waktu yang ia miliki sangat terbatas sekali. “Saya hanya ingin bertemu dengan Quinsha Daneen, di mana saya bisa menjumpainya?”

__ADS_1


Terlihat syok juga, Lila dan Risma ketika pemuda rupawan itu menyatakan maksud dan kedatangannya. Keduanya bahkan sampai bertukar pandang cukup lama. Hingga membuat pemuda tampan itu kembali bertanya, “Dia juga mengajar di sini ‘kan?”


“Ah iya benar,” sahut Risma. “Dia masih di kelas, tapi sebentar lagi pasti datang. Karena ‘kan memang sudah hampir waktunya jam pulang,” terangnya.


“Kalau boleh tau, ada hubungan apa dengan mbak Quinsha?” Akhirnya Lila tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya.


Pemuda yang ditanya itu menampilkan senyum, dan lagi-lagi itu senyuman memesona yang membuat kedua bu guru itu terpesona. “Itu privasi kami berdua,” jawabnya ringan saja.


Jawaban sistematis itu berpotensi mendatangkan berbagai opini dari yang mendengarnya. Seperti pula Lila dan Risma yang mulai menggulirkan tanya seraya bertukar pandangan mata.


Dengan semangat nan bergegas, Quinsha menuju ke kantor begitu jam pelajaran telah usai. Acara kumpul bersama yang digaungkan oleh Aura dalam chat baru saja menjadi mood boster nya saat ini, setelah lelah berkutat dengan mata pelajaran yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Tujuannya hanya satu, cepat meninggalkan yayasan dan segera menemui kedua sahabatnya yang sedang berkumpul di tempat Sherin Mumtaza.


Quinsha sama sekali tak menduga, apa yang telah menantinya di kantor, ia yang melangkah tertunduk begitu memasuki pintu kantor yang terbuka dan tak sempat mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, menjadi terkejut ketika Lila memberitahukan, “Mbak Quinsha, ada tamu istimewa untukmu!”

__ADS_1


Tak sempat Qhinsha menanyakan siapa tamunya, ketika tatapannya menemukan seraut wajah tampan Rafardhan Malik ada di sana. pemuda tampan itu menatap Quinsha dan melemparkan senyuman indahnya.


__ADS_2