
“Dari mana saja kau, Al? Sampai semalaman gak pulang ke rumah?”
Alarik terdiam, antara ingin bercerita atau tidak. Tapi kemudian ia memilih untuk menjawab dengan jujur. “Aku kemarin bertemu dengan putraku, Kak.”
“Putra? Putra dari mana?” Tanya Claudya heran.
“Putraku dengan Kanaya,” sahut Alarik yang masih enggan untuk mendongakkan wajahnya.
“Kalian punya anak?” Ekspresi keheranan masih belum hilang dari raut wajah Claudya.
“Kanaya sedang hamil pada waktu itu. Saat papa memisahkan kami.”
“Iya aku ingat. Tapi kabarnya anak kalian itu meninggal.”
“Sebenarnya tidak, Kak. Dia masih hidup sampai sekarang. Dan aku juga baru tau beberapa saat yang lalu.” Alarik menghempaskan napasnya pelan, tak dapat disembunyikan betapa kesedihan sedang mewarnai wajahnya yang masih terlihat tampan.
“Lalu bagaimana ceritanya?” tanya Claudya penuh keingintahuan.
“Ceritanya pasti sudah dapat ditebak, Kak. Dia tidak suka bertemu denganku, dia enggan mengakuiku,” resah Alarik dengan mendung yang berarak kian tebal di raut wajahnya. Ada gumpalan hujan yang siap meluncur juga di pelupuk matanya.
“Dan kau menghukum dirimu sendiri karena hal itu?” tebak Claudya.
“Memang semuanya aku yang salah, Kak,” sesal Alarik dengan tak dapat lagi dihitung seberapa banyak kesedihan yang ia bendung.
“Iya, kau sudah mengakui semua yang terjadi sebagai kesalahanmu. Dan kau juga sudah tenggelam dalam rasa bersalah itu bertahun-tahun, Al. Apa semua itu cukup? Apa merasa bersalah itu cukup membuatmu merasa nyaman? Tidak ‘kan? Yang ada kau malah kian tertekan.”
Alarik terdiam, karena apa yang diucapkan oleh Claudya itu memang benar. Tak nyaman, itu adalah rasa yang disandangnya selama ini. Rasa yang telah merejam jiwanya dalam kepahitan yang panjang, nan tak berkesudahan.
“Untuk kepergian Kanaya, kau telah menghukum dirimu, lebih dari dua puluh tahun lamanya. Dan kini untuk ketaksudian anakmu, mengakuimu sebagai ayahnya, kau akan menghukum dirimu berapa lama, Alarik?”
“Itu untuk anakmu dengan Kanaya? Lalu bagaimana dengan anakmu dari Sherin? Apa seumur hidup kau hanya akan menghukum dirimu sendiri? Apa dengan menghukum diri sendiri kau bisa membalik kenyataan yang telah terjadi?” cecar Claudya dengan emosi yang sudah tersulut dalam dada.
ALarik diam. Karena memang tak ada kata yang dapat ia ucapkan. Jiwanya memang terbelenggu dalam rasa bersalah yang seakan tak menemukan tepian. Jika lautan saja ada tepinya, daratan juga ada ujungnya, tapi rasa bersalah Alarik bagai jalan yang tak berujung, dan laut yang tak bertepi. Sampai kapan?
“Kau tau, Al, kenapa aku bilang seperti ini?”
__ADS_1
ALarik hanya menggeleng kecil. Dia bagai anak kecil yang tak bisa apa-apa lagi sekarang.
“Sherin hamil. Dia mengandung anakmu sekarang,” ungkap Claudya.
Barulah Alarik terdongak kaget dan menatap seakan tak percaya.
“Sherin hamil, dan kau sibuk dengan rasa bersalah pada anak pertamamu, hingga mengabaikan anakmu yang lain. Kelak, setelah anakmu dengan Sherin dewasa, kau baru menyadari kalau telah melakukan kesalahan padanya. Saat itu, kau pun akan menghukum dirimu sendiri dengan rasa bersalah. Mau sampai kapan, Al? Apa sepanjang hidupmu hanya akan kau isi dengan menghukum diri sendiri seperti ini?”
Claudya menarik napasnya dalam-dalam bersamaan dengan titik dari kalimat yang diucapkan. Pasalnya, rasa sesak terasa menghimpit dada. Tatkala emosi turut mengepung jiwa, saat menasihati saudara satu-satunya yang masih ada di dunia.
“Sadar, Al! Karena rasa bersalahmu pada Kanaya dan anaknya, kau melakukan kesalahan yang sama pada Sherin dan anaknya. Lalu untuk apa kau tenggelam dengan rasa bersalah selama ini, jika kau masih mengulanginya lagi dan lagi?”
Mendengar rentetan kalimat dari Claudya itu, Alarik seperti dibangunkan dari mimpi. Lama ia diam membeku, tatapannya terfokus pada satu arah tertentu, tapi tatapan itu kosong tanpa makna. Menandakan kalau pikirannya sedang bekerja. Bekerja lebih cepat dari biasanya.
“Aku sebenarnya bukan orang yang pantas mengatakan semua ini kepadamu. Karena aku adalah orang yang banyak berkubang dengan kesalahan. Banyak sekali kesalahan yang telah aku lakukan. Tapi dari kesalahan itu aku belajar untuk tidak mengulanginya lagi pada siapa pun.” Claudya menarik napasnya sejenak dan mengusap satu titik air matanya yang jatuh.
“Alarik.” Claudya menepuk pundak adik bungsunya itu. “Sekarang pilihan ada di tanganmu, Al. Jika kau memang mau mendedikasikan seluruh hidupmu pada rasa bersalah yang tak berkesudahan, teruskan saja! Teruskan apa yang kau anggap benar sekarang. Hidupmu adalah milikmu. Mau kau apakan juga terserah padamu. Tapi ingat, Al. Akan ada harga yang harus kau bayar. Bila itu yang kau pilih, kau akan kehilangan Sherin dan anakmu yang sekarang.”
Dan Claudya segera bangkit meninggalkan Alarik, sekadar memberi waktu pada adiknya itu untuk memikirkan.
ALarik sendiri masih tetap terdiam, ia baru beranjak untuk menemui Sherin di dalam ruangan, sekitar dua puluh menit kemudian.
“Kamu mau apa, Sherin? Bilang aja! Nanti aku bawakan,” kata Quinsha yang bersiap hendak pulang duluan, setelah adzan ashar hampir menjelang.
“Mau apa, mang?” celetuk Aura yang sedang tiduran di sofa.
“Ya kali pingin makanan pedas, makanan kecut, mangga muda atau apa pun, terserah Sherin. Nanti aku bawakan deh,” seloroh Quinsha.
Sherin tersenyum menatapnya. “Gak mau apa-apa, Sha,” jawabnya.
“Sherin cuma mau om Al,” celetuk Aura lagi. Dan sesaat ruangan itu jadi terhias tawa renyah karena ucapan Aura itu.
“Aku Cuma mau kamu hati-hati, Sha. Kamu nyetir sendiri ‘kan? Jangan ngebut, jangan ngantuk, jangan nabrak, jangan mau pula ditabrak!” Sherin menyebutkan serangkaian wanti-wanti buat Quinsha.
“Sama satu lagi, Sha,” tambah Aura, yang membuat Quinsha kembali memutar tubuhnya untuk melihat pada istri Damaresh itu. “Kami juga mau kamu segera ngenalin calon kamu sama kami.”
__ADS_1
“Nah betul!” Sherin mengacungkan jempol tangannya.
“Maaf harus mengecewakan kalian berdua. Yang ngajak nikah belum ada. Kalau yang ngajak pacaran, ada,” sahut Quinsha dengan ekspresi menahan tawa.
“Diiyain aja, Sha!” usul Aura.
“Masa aku mau pacaran sih, Ra,” gerutu Quinsha.
“Gak papa. Jadi gini, sebelum pacaran, kalian akad nikah dulu, jadi pacarannya setelah halal, gitu,” kata Aura yang lagi-lagi mendapat anggukan persetujuan dari Sherin.
“Gak, Ah.” Quinsha menggeleng. “Dia bukan kriteria imam dunia akhirat untukku,” imbuhnya.
“Ya udah, slow aja. Jodoh akan datang dari arah yang tak disangka-sangka. Yang penting tetap husnudzon dan minta yang terbaik pada Allah,” kata Sherin diiringi senyuman lembut.
“Setuju.” Aura mengacungkan jempolnya. “Tapi siapa sih, Sha, yang ngajak kamu pacaran? Sesama guru di Nada Hikam ya?” tanyanya dengan raut wajah penuh rasa penasaran.
“Bukan,” tegas Quinsha sambil menggeleng.
“Apa jangan-jangan si artis itu, Rafardhan Malik,” tebak Aura. Quinsha seketika terdiam, ia tak ingin bohong pada kedua sahabatnya itu tapi juga tak ingin jujur memberitahukan. Karena bisa jadi tawaran Rafardhan itu hanya asal-asalan.
“Sedekat apa sih kalian?” tanya Sherin serius.
“Gak dekat, kok. Hanya saja, alam itu seakan selalu memberi kesempatan aku untuk bertemu dengannya,” cetus Quinsha, mengingat pertemuannya dengan Rafardhan yang selalu terjadi, lagi dan lagi.
“Itu namanya jodoh, Sha,” seloroh Aura.
“Gak, Ah. Aku gak mau berjodoh dengan artis.” Quinsha sampai menggeleng-geleng beberapa kali.
“Tapi tunggu, tunggu. Wajah Rafardhan itu kayak familier banget ya,” cetus Aura.
“Baru aku juga mau bilang, kayak Damaresh, gak sih.” Quinsha menatap Aura yang seperti sedang menimbang-nimbang. Berpikir dan menganalisis.
“Lebih mirip mas Alarik kalau menurutku,” celetuk Sherin.
Aura dan Quinsha saling pandang, sepertinya mereka sama dalam satu pemikiran. Sayangnya, pembicaraan tak bisa dilanjutkan, karena Alarik yang baru saja datang.
__ADS_1
Suami Sherin itu berpamit pulang sejenak tadi menjelang dhuhur, hampir bersamaan dengan Claudya, yang berpamit untuk kembali ke Jakarta. Karena lelaki itu sejak semalam, sama sekali tak memejamkan mata.
Setelah sesaat melempar senyum pada Aura dan Quinsha, Alarik menghampiri istrinya, menunduk dan mencium kening Sherin singkat seperti tadi. Jika yang menjadi fokus perhatian Aura adalah adegan romantis berdurasi sangat singkat itu, tapi fokus perhatian Quinsha justru pada wajah Alarik sendiri. Dan ia menemukan kebenaran dari ucapan Sherin di sana. Kalau wajah Rafardhan memang lebih mirip Alarik dari pada Damaresh William.