
“Ya, hallo! Siapa?” Akhirnya Adam memutuskan mengangkat telepon yang sudah meraung-raung untuk ketiga kalinya. Jadilah kini ia harus memiringkan kepalanya sekian derajat untuk menjepit ponselnya itu di antara telinga dan pundak. Sedangkan jemarinya tetap berselancar lincah di atas layar tab.
Rafardhan yang baru selesai mandi hanya melihat sekilas saja hal itu, karena posisi Adam seperti itu bukan lagi hal baru. Multitasking banget. Batinnya.
“Bicara yang jelas, Mbak! Kami sangat sibuk!” Adam menginterupsi peneleponnya di seberang sana, yang pastinya belum tahu bagaimana cara komunikasi Adam yang singkat, jelas dan padat.
Menerima telepon dari seseorang yang mencari Rafardhan bukan hal baru bagi Adam. Dari yang mengaku sebagai temannya, pacar ataupun mantan, sampai yang mengaku sebagai istri siri Rafardhan. Semua diladeni oleh Adam dengan caranya. Tak jarang pula hal itu menjadi hiburan tersendiri bagi Adam di sela kesibukannya mengurusi Rafardhan yang sedikit pembangkang.
Padahal yang meneleponnya saat ini hanya mengucapkan salam, lalu bertanya apakah teleponnya ini mengganggu waktu Adam atau tidak. Bukankah itu sebuah cara komunikasi yang ramah dan sopan? Tapi Adam justru menginterupsi agar sang penelepon segera menyampaikan kepentingannya tanpa basa-basi.
Saya Quinsha Danen, ingin mengembalikan dompet Rafardhan yang tertinggal di mobil saya.
Itu suara si penelepon yang sukses membuat tarian jemari Adam di atas Ipad itu berhenti. Bukan karena suara wanita yang bicara di seberang itu terdengar datar, dan lancar, serta dalam satu tarikan napas. Tapi karena menyebutkan ‘dompet’ itu yang berhasil merampas perhatian Adam.
“Benarkah?” Tapi Adam tak serta merta percaya, ia masih menanggapi ucapan perempuan di seberang sana dengan santai.
Saya kirim fotonya, silakan diperiksa dulu! Dan sambungan telepon diputus sepihak dari sana.
“Hah?” kaget juga Adam dengan cara si penelepon ini. Namun, sesaat kemudian dahinya segera berkerut melihat foto sebuah dompet yang terkirim di layar ponselnya.
“Ini beneran dompet lu, Raf?” Adam memperlihatkan foto dompet tersebut pada Rafardhan yang melihatnya sejenak dan mengangguk singkat.
__ADS_1
“Ok.” Adam segera menghubungi penelepon itu lagi. “ya benar itu milik Rafardhan. Mbak bisa antarkan langsung ke alamat kami. Nanti asisten kami yang akan terima. Maaf tak bisa menemui, karena hari ini jadwal kami penuh.” Mas Adam langsung menyampaikan maksudnya dengan runtut dan jelas begitu terdengar ucapan ‘Hallo’ dari seberang sana. Sepertinya ia berniat membalas cara bicara si penelepon barusan yang lancar tanpa titik koma.
Beruntung Adam tidak tersandung dalam setiap kata yang diucapkan dengan hampir tiada jeda.
Akan lebih baik jika saya menyerahkan sendiri pada yang punya. Kabari saja kapan Anda bisa. Untuk hari ini, saya juga sibuk. Assalamualaikum.
Demikian jawaban Quinsha dan kembali ia mematikan teleponnya lebih dulu.
“Wah!” Adam berseru takjub. Sepanjang sejarah dalam hidupnya sebagai manajer artis, baru sekarang ini, teleponnya diputus lebih dulu oleh seseorang yang punya kepentingan terhadap artisnya. “Siapa sih, ni cewek?” gerutu Adam yang merasa harga dirinya turun tiga undakan. Tapi kemudian, “ Waalaikum salam.” Lelaki itu masih teringat untuk menjawab salam, kendati masih merasa kesal.
"Baru ketibanan peristiwa langka ya, Mas. itu layak dimasukkan rekor muri, dicatat dalam sejarah," cibir Rafardhan sambil cengengesan.
“Dia cewek yang ada di fhoto,” ucap Rafardhan.
“Fhoto apa?”
“Fhoto gue di tabloid.” Lelaki itu memberi isyarat dengan alisnya pada gulungan tabloid di atas meja.
“Kok lu bisa tau?”
“Gue ngerasa kalau dompet itu ketinggalan di mobilnya.”
__ADS_1
“Kalau lu tau dompet lu ada ama itu cewek, napa gak lu ambil? Dari pada gue harus repot ngurus kartu kredit lu ke bank dan kepolisian,” sembur Adam segera sambil mengacungkan kepalan tangannya pada Rafardhan dengan raut muka ditekuk dengan sekian tekukan.
“Lah gue musti nyari tu cewek di mana, Mas? Di seluruh kota Malang dan sekitarnya?” Rafardhan balik melempar tanya. Dan benar juga apa yang dia katakan.
Akan menghabiskan waktu berapa lama untuk mencari alamat seseorang yang namanya saja tidak dia ketahui.
Salahnya sendiri kenapa waktu itu tidak mengajak kenalan.
“Apa lu masih butuh tu dompet? Semua kartu lu yang di sana ‘kan dah diurus?”
Rafardhan menggeleng singkat. Maklumlah, seorang artis yang penghasilannya tentu sudah selangit. Barang yang hilang sekalipun berharga atau bernilai, sudah tidak dibutuhkan.
“Selain kartu, apa lagi isi dompet lu?”
“Ada uang tunai.”
“Berapa?”
Rafardhan menggeleng, dan berkata santai, “gue gak ngitung.”
“Ya udah lah. Yang penting gak nyampek semilyar juga,” ujar mas Adam.
__ADS_1