Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 120


__ADS_3

Dokter spesialis bedah yang masih muda dan sangat tampan, selalu kata itu yang terucap dari beberapa orang yang melihat, mengenal, ataupun yang hanya sekadar berpapasan dengan sang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.


Langkah tegapnya, senyum ramahnya, dan tatap tajamnya, adalah tambahan pesona untuk sang dokter muda yang baru meraih gelar dokter spesialis tak kurang dari 3 bulan yang lalu. Dan kini ia sudah di dapok sebagai kepala salah satu rumah sakit paling bergengsi di seantero negeri.


“Dokter, ada pasien yang sudah menunggu di ruangan,” lapor seorang dokter jaga yang juga merangkap Asistan sang dokter.


Dokter muda tampan itu tampak terdiam dan tak memberikan tanggapan, tatapannya hanya mengarah pada sang asisten, dokter wanita berusia 40 tahunan itu menunduk dan segera berlalu.


Ada yang tak beres.


Dia bukan seorang dokter yang membuka jam praktek di Rumah sakit—yang adalah rumah sakit milik keluarga besarnya tersebut. Ia datang ke rumah sakit dalam rangka dua hal, tugasnya sebagai dokter kepala, dan tugasnya sebagai dokter spesialis bedah.


Tapi cerita seperti ini, memang sudah acap kali terjadi. Ada pasien yang ingin menemui secara pribadi, dengan ragam alasan dan versi, adalah bukan hal yang baru lagi. Apa lagi alasannya kalau bukan karena pesona sang dokter yang begitu menarik hati.


Dan dokter yang sepertinya memiliki stok kesabaran segudang itu, mengatasi tingkah polah mereka dengan memberikan pengertian, walau tak jarang pula ia mengambil tindakan tegas, bila dianggap sudah benar-benar melampaui batas.


Lalu, bagaimana dengan yang sekarang ini?


Ia memasuki ruangan kerjanya, sebuah ruangan yang sangat luas dan megah. Benar saja sudah terdapat seorang wanita yang duduk menunggunya di sana. Dan ia tak sendiri, melainkan di temani dua orang yang bertugas menyiapkan segala keperluan sang dokter tentunya.

__ADS_1


“Dokter.” Dua orang wanita berseragam serba putih itu segera bangkit dari duduknya. Menyungging senyum ramah dan penuh hormat, sekaligus terlihat sangat lega. Karena mereka sudah hampir satu jam menunggui sang calon pasien wanita yang memaksa masuk dan menunggu dokter di ruangannya.


“Maaf, Dok. Kami ...” salah satu dari mereka hendak melaporkan ketidak mampuannya dalam bertugas, yang tak dapat mencegah wanita itu masuk ke dalam ruangan. Padahal jelas ini sangat menyalahi aturan.


Tapi, dia tak dapat menuntaskan kalimat itu, karena sang dokter segera mengangkat sebelah tangannya. Agar ia tak melanjutkan laporan. Sedangkan tatap mata dokter tampan itu tertuju pada wanita yang sudah menunggunya, yang kini berdiri dan berbalik badan menatapnya.


“Sayang.” Segera panggilan mesra terucap dari sang dokter yang penuh pesona itu kepada wanita cantik berhijab yang menatapnya sambil mengulas senyum lembut. Kedua tangannya segera direntangkan seraya menghampiri, siap membawa wanita dalam pelukan penuh kasih.


Kedua perempuan berseragam serba putih—yang menyaksikan pemandangan itu—hanya bisa bertukar pandang dan saling melongo heran. Bagaimana tidak, kini di hadapan mereka tersaji pemandangan, sang dokter yang sangat mereka kagumi, tengah memeluk wanita cantik berhijab yang menutupi tubuh indahnya dengan baju gamis Syar’i.


“Mas, jangan terlalu erat, anakmu bisa sesak,” lirih wanita itu dengan suara manja.


“Ah iya, sayang ... maaf ya, Nak.” Sang dokter mengusap perut wanita itu dengan sayang. Rupanya di balik baju gamisnya yang lebar, tersimpan perut buncit yang cukup besar.


Seperti mendengar suara petir di siang bolong, kedua wanita itu tak dapat menyembunyikan kekagetan, mereka saling melihat satu sama lain dengan ekspresi melongo, dan kemudian saling mengangguk, tapi sepertinya tak disertai dengan kesadaran penuh. Hal itu bisa dilihat dari raut wajah mereka yang masih termangu-mangu.


Sebentar, dokter itu mengatakan kalau istrinya itu bernama Quinsha Daneen. Bukankah Quinsha adalah istrinya Rafardhan, sang artis tampan terkenal.


Pasti para pembaca sedang terheran-heran. Dan meneliti setiap bacaan dengan kerutan dalam.

__ADS_1


“Ka-kalau begitu, Ka-kami permisi, Dokter Rafasya,” ucap salah satu di antara keduanya, dengan kata-kata yang tak selancar jalan raya.


“Iya,” sahut sang dokter itu tanpa melabuhkan tatap pada keduanya.


Dokter Rafasya Aditya Zaidan, itulah nama sang dokter bedah yang sangat dikagumi banyak orang.


“Apa aku terlambat, sayang, sampai kau menyusulku kemari?” Dokter muda tampan itu kembali merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan. Dan kali ini disertai dengan usapan lembut di atas hijab sang istri yang tersenyum penuh dengan rasa senang.


“Gak, Mas. Aku sengaja datang lebih awal, karena ingin menunggumu di sini ... Dan sekaligus aku ...” Quinsha mengurai pelukan suaminya itu dan menatap wajah rupawan di depannya dengan seksama.


“Sekaligus apa, Sayang?”


“Aku ingin membuktikan desas-desus yang selama ini aku dengar. Tentang suamiku, Dokter Rafasya, yang telah menjadi dokter paling memesona di rumah sakit ini, dan ... banyak yang terpesona kepadanya.”


“Dan apa yang kau dapat dari hasil penyelidikanmu, Sayang?”


“Semua itu benar.” Quinsha menatap wajah sang suami sambil berdecak. Rafasya tersenyum sambil menoel ujung hidung Quinsha.


“Aku tak dapat menafikan pesonaku, dan tak dapat mencegah mereka untuk tak terpesona kepadaku. Tapi, aku hanya terpesona pada istriku. Sekarang dan selamanya, hanya Quinsha yang ada dalam hidupku.” Rafasya menangkup wajah istrinya dan mendaratkan kecupan di keningnya. “Kau adalah ratuku,” ucapnya dengan sepenuh cinta.

__ADS_1


“Kau selalu bisa membuatku merona.” Quinsha segera melingkarkan tangannya di pundak sang suami dengan tak dapat menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.


Bagaimana ceritanya, Rafardhan yang seorang artis, tiba-tiba banting setir, dan menjadi dokter spesialis?


__ADS_2