Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 94


__ADS_3

“Assalamualaikum, menantu,” sapa Sherin dari kejauhan. Quinsha yang sudah antusias menyambut kedatangan sahabatnya itu, tiba-tiba hentikan langkah karena mendengar ucapan Sherin. Entahlah, kenapa kata “menantu” yang dicetuskan oleh istri Alarik itu membuatnya kaget dan seakan tak mampu bergerak.


“Apa ada yang salah dengan ucapanku?” Sherin menanyakan itu pelan setelah kini ia duduk di samping Quinsha. Sahabatnya itu hanya menggeleng singkat disertai helaan napas.


“Dia pamit dengan benar padamu sebelum pergi?” tanya Sherin lagi. Quinsha tak segera menjawab, ia hanya menatap Sherin sesaat. “Aku disuruh mas Al untuk menanyakan hal ini padamu,” lanjut Sherin dengan raut wajah bersungguh-sungguh.


“Memang aku yang memintanya segera pergi,” kata Quinsha.


“Kenapa?”


“Karena managernya itu terus-terusan menelepon. Katanya ada pekerjaan jam sepuluh hari ini yang tak bisa ditunda,” terang Quinsha.


“Dan sekarang kau sedang termenung di sini mengingat kepergiannya,” goda Sherin.


“Apaan sih.” Quinsha membuang pandangan ke lain arah. Membiarkan Sherin sesaat dengan tawa renyahnya.


“Cerita padaku, Sha. Bagaimana caramu melepas kepergian suamimu ke Jakarta! Apa ada drama air mata?"


“Sherin plis, ini bukan kisah sinetron.” Quinsha melayangkan tatapan tak nyaman pada sang sahabat. Seiring rasa tak nyaman yang mulai hinggap. Tapi justru dengan sendirinya semua ingatan terputar dalam benak. Momen di mana ia menyuruh Rafardhan kembali ke Jakarta tadi pagi.


Flash back on


Ini untuk kali yang ketiga, Quinsha mendengar Rafardhan ditelepon oleh Adam dan membahas perkara pekerjaan. Tapi gadis cantik itu tak surutkan langkah, ia melangkah ke arah Rafardhan dan meletakkan minuman hangat yang dibawanya di atas meja tepat di depan pemuda tampan itu.


Rafardhan merotasi pandangan dari segelas minuman pada wajah Quinsha.


“Ini untukku?”


“Memangnya ada yang lain selain kamu?” retoris Quinsha menjawab tanya suaminya.


“Iya, aku tau. Kalau kini aku satu-satunya dalam hidupmu.” Rafardhan menanggapi dengan ucapan puitis.

__ADS_1


Quinsha berdecak sambil melempar pandangan ke luar jendela kamar yang terbuka. “kembalilah ke Jakarta!” ujarnya kemudian.


Rafardhan tak segera menjawab ia meraih minuman yang disuguhkan oleh istrinya itu dan menyesapnya sesaat. “Aku diusir nih?” tanyanya kemudian.


“Bisa jadi,” sahut Quinsha. Dan ia segera duduk tak jauh di samping Rafardhan. “Banyak pekerjan di Jakarta hari ini ‘kan? Dan itu tak bisa ditunda?”


Rafardhan hanya mengangguk.


“Kembalilah ke Jakarta! Aku yang akan menjelaskan pada ummi dan paman.”


“Aku memang harus kembali. Tapi ...” Rafardhan menggantung kalimatnya begitu saja.


Caranya itu sukses memantik tanya dari Quinsha. “Tapi apa?”


“Aku kawatir jika aku di Jakarta dan kamu di sini, aku akan rindu padamu. Atau kamu yang rindu padaku,” cetus Rafrdhan.


Cukup kaget juga Quinsha mendengar ucapannya. Tapi untuk saat ini ego gadis itu masih lebih tinggi dari gunung Himalaya. Sehingga ia langsung berkata, “Belum tentu juga, aku akan rindu padamu, apalagi sebaliknya.”


“Deal,” sambut Quinsha. Sepasang suami istri baru itu rupanya sedang bertaruh, apakah dengan jarak yang jauh, akan ada rindu yang berlabuh. Mereka lupa bahwa takdirnya telah ada di ujung jari sang penulis kisah.


“Quinsha, Nak Rafa.” Terdengar panggilan dari Firda di luar kamar yang pintunya terbuka.


“Iya, Ummi,” sahut Quinsha bersamaan dengan sosok sang ummi yang berdiri di tengah pintu, sambil melempar senyum pada Quinsha dan sang menantu.


“Ayo sarapan dulu, Nak. Sudah ditunggu paman di meja makan,” ajaknya.


Seusai sarapan itulah, saat semuanya belum beranjak dari meja makan, Quinsha memberitahukan pada ummi dan pamannya kalau Rafardhan harus kembali ke Jakarta, karena pekerjaannya yang tak bisa ditunda.


Di luar dugaan, ternyata Azman dan Firda sama-sama paham, mereka bahkan bergantian memberi wejangan terkait akhlak suami istri ketika berjauhan.


Rafardhan tetap menunggu dengan santai, meski mobil jemputannya sudah telat hampir setengah jam. Pemuda itu sesekali memainkan ponselnya dengan raut wajah tenang. Kegelisahan justru terpancar dari raut wajah Quinsha yang duduk tak jauh di dekatnya. Sesekali ia melihat ke halaman yang pagarnya dibiarkan terbuka, dan sesekali melirik pada Rafardhan dengan ujung matanya.

__ADS_1


“Aku aja ya, yang antarkan kamu ke Bandara.” Akhirnya Quinsha menawarkan diri, setelah sekian lama pemikiran itu hanya tercetus di kepala.


“Aku dari tadi juga berpikir begitu,” ucap Rafardhan.


“Nah, Ayo!” Quinsha segera berdiri.


“Tapi aku gak mau kalau kamu yang antarkan aku ke Bandara,” kata Rafardhan lagi.


“kenapa?” tanya Quinsha heran.


“Aku takut khilaf dan memelukmu sebelum pergi.”


Quinsha jadi speachless mendengarnya, padahal aslinya ia merasa sangsi kalau ucapan itu bersungguh-sungguh atau Rafardhan hanya sedang mengajaknya bercanda. Untunglah kemudian terdengar suara klakson mobil yang menandakan kalau jemputan Rafardhan sudah datang.


“Quin, aku pergi dulu. Jaga diri kamu baik-baik ya,” ucap Rafardhan segera, sebelum bergegas menghampiri mobil yang telah menjemputnya.


Quinsha mengangguk. Ada satu kalimat yang ingin ia ucap, tapi malah dibiarkan saja mengendap. Hanya tatapannya yang saling beradu dengan Rafardhan sejenak. Sebelum Quinsha membuang pandang ke sembarang arah.


“Kalau kamu kalah dalam taruhan kita, beritahu aku! Dan kalau aku yang kalah, aku akan datang kepadamu,” ucap pemuda ganteng itu lagi. Dan lagi-lagi ucapannya ini membuat Quinsha jadi terdiam tanpa kata. Saat Rafardhan telah bergegas menuju mobil jemputannya, satu kalimat di ucapkan Quinsha dalam hati. ‘hati-hati Rafa’


Flascback of.


“Tidak, tidak ada drama air mata saat ia berpamit pergi,” ucap Quinsha pada Sherin, setelah segenap ingatan tentang kepergian Rafardhan itu berlalu dari dalam benaknya.


*********


minal aidin walfaizin ya..semuanya.


mohon maaf lahir dan batin.


insya Allah setelah ini, Rafa akan rutin hadir. maaf untuk beberapa hari kemarin, yang gak bisa datang tiap hari. gak sempat balas komentarnya juga .tapi yg jelas..aku senang dan jadi kian bersemangat dgn komen dari kalian semua..

__ADS_1


__ADS_2