
“Namanya, Rafasya Aditya Zaidan. Dia sangat tampan, mirip sepertimu, Rick,” ucap Rendi sesaat kemudian. Alarik terdiam, segera ingatannya berkelana pada waktu puluhan tahun silam. Nama Rafasya Aditya Zaidan itu pernah terucap dari bibir Kanaya, sebagai nama salah satu Qori asal Palembang yang mendapat gelar juara satu lomba MTQ di Jakarta.
Kanaya juga pernah berucap, kalau nama itu akan ia sematkan pada buah hatinya kelak, jika terlahir laki-laki. Dan ternyata, Kanaya membuktikan ucapannya. Putranya yang sangat tampan menawan ia beri nama, Rafasya Aditya Zaidan.
“Rafasya Aditya Zaidan.” Lirih, Alarik menyebut nama itu seiring titik bening yang menggelinding.
Jangan tanyakan apa yang dirasakan olehnya sekarang. Karena sudah lebih dari hanya sekedar rasa bersalah dan penyesalan. Namun, di suasana jiwanya yang tak terangkum dalam sebentuk kata untuk mengumpamakan, Alarik seakan melihat seraut wajah Kanaya yang hadir memberikan senyuman.
Apakah ini suatu pertanda, kalau ibu dari putranya itu ingin memberinya semangat, dan ikhlas akan sang buah hati untuk ia dekap?
“Mas Rendi, barusan dia bilang, kalau dia sudah tau, bahwa saya ini papa kandungnya,” ungkap Alarik. Ia baru teringat untuk mengatakan hal ini, setelah perjalanannya meniti lembaran memori sudah kembali.
“Iya, aku memang sudah memberitahukannya tentang kamu pada Rafa, sebelum ia terkenal seperti sekarang.”
“Terkenal? Apa maksudnya, Mas?” tanya Alarik heran.
“Wah iya, aku lupa memberitahukan kalau Rafa itu menekuni profesi sebagai aktor sekarang. Apa kau tak pernah melihat wajahnya di layar kaca?” tanya Rendi dengan sangat antusias.
Alarik hanya menggeleng pelan, tetap dengan tatapan tak paham.
“Sebenarnya, profesi itu hanya ia dapat secara kebetulan. Ketika awal masuk bangku kuliah, sedang ada syuting film besar di kampusnya. Saat itu, artis peran pembantu mendadak sakit. Maka Sutradara film mengadakan audisi mendadak dengan menyasar mahasiswa. Iseng-iseng, Rafa ikut audisi. Malah dia yang terpilih. Dan sejak itu dia banyak menerima tawaran main sinetron, layar lebar juga bintang iklan. Dan itu terus berlanjut sampai sekarang.”
ALarik memerhatikan dengan seksama semua penuturan Rendi. Baginya tak masalah dengan dunia yang sedang digeluti putranya saat ini. Lelaki itu justru tengah menyesali diri, jika saja dari dulu ia tak menutup diri dari dunia luar, dan acuh pada semua media informasi, mungkin sudah sejak lama ia menyadari keberadaan putranya. Karena tak sulit mengenali wajah Rafa yang sangat mirip dengan wajahnya.
Apalagi menurut penuturan Rendi barusan, sudah berapa judul film, sinetron bahkan iklan yang telah dibintangi oleh Rafasya. Sungguh di titik ini, Alarik merasa rugi karena ketinggalan informasi.
“Rafa di kenal dengan nama Rafardhan. Itu singkatan dari nama panjangnya, Rafasya Aditya Zaidan,” beber Rendi.
“Rafardhan?” gumam Alarik pelan, merasa seperti pernah mendengar.
__ADS_1
“Iya, Rafardhan Malik. Malik itu diambil dari nama kakeknya, Rahman Malik. Apa kau pernah mendengar nama Rafardhan?”
Rahman Malik itu adalah ayah Kanaya dan Risa.
ALarik perlahan mengangguk meski tidak dengan sepenuh keyakinan. “Sepertinya istriku pernah menyebut nama itu,” ujarnya pelan.
“Wahh itu bisa jadi kalau istrimu sedang mengidolakan putranya sendiri,” seloroh Rendi diiring tawa. Hal mana membuat Alarik ikut tertawa juga, melupakan sejenak segenap kerunyaman hatinya.
Detik berikutnya, Alarik mohon pamit. Tapi tentu saja ia minta restu Rendi untuk dapat menemui putranya lagi. Rendi mengantarkan Alarik ke teras depan, bertepatan dengan Risa yang baru datang.
“Loh? Alarik?” Risa menatap lelaki yang masih gagah dan tampan itu dengan tatapan kaget bukan kepalang.
“Iya, Mbak. Baru pulang ya.” Alarik menyapa dengan ramah.
“Seperti yang kau lihat.” Keramahan Alarik tidak bersambut dari Risa. Jawabannya bernada ketus, bahkan segera tatapan tajam, ia lemparkan pada suaminya.
“kenapa bisa Alarik datang ke sini, Mas?” Risa tak dapat menahan diri untuk tak bertanya pada Rendi, padahal Alarik baru memasuki mobilnya, dan mesin mobil juga masih belum dihidupkan.
“Untuk apa, Mas?” tanya Risa terlihat mulai berang.
“Untuk bertemu dengan Rafa,” jawab Rendi dengan nada santai.
“Untuk apa Alarik bertemu Rafa?” cecar Risa, ekspresi kemarahan bak mendung pekat menutupi wajahnya.
“Kenapa masih bertanya, Risa? Rafa itu ‘kan darah dagingnya Alarik.”
“Alarik sama sekali tak berhak atas diri Rafa. Rafa itu putraku,” tegas Risa.
“ya, Rafa adalah anakmu. Siapa pun tak bisa mengingkari hal itu. Tapi darah Alarik yang mengalir dalam tubuh Rafa, kita semua pun tak dapat mengingkarinya. Termasuk kamu, Risa,” cetus Rendi sambil menatap lekat istrinya.
__ADS_1
Perdebatan suami istri itu sejenak terhenti. Bukan karena Risa yang tak menemukan kata sanggahan lagi. Tapi karena Rafardhan yang melintasi keduanya hendak pergi.
“Mau kemana, Nak?” tanya Risa.
“Balik ke vila,” sahut Rafardhan dengan suara datar, ia bahkan tak menatap sedikit pun pada dua orang yang sedang bersitegang itu.
“Loh, katanya malam ini mau menginap di sini,” kata Risa mencoba menyusul langkah Rafardhan yang terus berlalu keluar dengan hanya meninggalkan gelengan.
“Lihatlah, Mas!” Risa kembali ke dekat Rendi. “Rafa marah, itu pasti karena dia tidak suka dengan kedatangan Alarik ke sini. Dia tidak ingin bertemu dengan Alarik Mas.”
“Iya dia marah dan tak suka bertemu dengan papa kandungnya. Itu karena kamu yang tak memberinya informasi yang benar tentang Alarik,” tukas Rendi.
“Mas Rendi kenapa ya, keukeh banget ingin menyatukan Rafa dengan Alarik, apa ini bukti kalau kau tak cukup menyayangi Rafa sebagai anakmu sendiri selama ini?” tuding Risa dengan mata berkilat menahan amarah.
Rendi tertawa sumbang mendengar tuduhan istrinya. “Kasih sayang ku pada Rafa yang kau pertanyakan sekarang, Risa? Nanti pun dia akan tahu kalau apa yang aku lakukan sekarang, adalah bukti bahwa aku menyayanginya.” Rendi segera berbalik badan untuk meninggalkan. Karena itu adalah cara yang paling ampuh untuk mengakhiri pertengkaran.
“Mas tunggu! Aku belum selesai!” cegah Risa. Rendi menurut, ia terdiam.
“Seharusnya bila kau punya rencana seperti ini, katakan dulu padaku! Tunggu persetujuanku!”
“Aku sudah melakukannya ‘kan Risa. Sudah berapa kali aku memberimu pengertian. Tapi kau tetap tidak pernah setuju.”
Rendi berbalik lagi dan menatap Risa. “Rafardhan sudah dewasa. Lingkup pergaulannya juga sangat luas, bagaimana jika suatu saat ia mendengar cerita yang sebenarnya tentang papanya dari orang lain? Dan cerita itu ternyata tak sama dengan apa yang sudah kau kisahkan? Apa dia tak akan kecewa pada kita? Apa dia tidak akan marah?” cecar Rendi dengan nada dalam. Dan kali ini Risa jadi terdiam.
“Sudahi kebencianmu pada Alarik, Risa. Atas semua peristiwa ini, bukan dia yang salah. Saat itu jelas-jelas dia ingin bertanggung jawab, tapi dia tak bisa melawan kekuasaan ayahnya.”
“Selama dua puluh tahun, Alarik menghukum dirinya sendiri atas kepergian Kanaya, bahkan dia juga sudah memutuskan untuk tidak akan pernah menikah selamanya. Pernikahannya sekarang dengan istrinya, bukan murni keinginan Alarik sendiri. Aku dapat info ini dari beberapa pekerja di pabriknya,” beber Rendi berdasar info yang ia dapat selama ini.
“Aku hanya tak ingin kehilangan Rafa. Aku takut nanti Alarik akan merebutnya dariku,” resah Risa dengan wajah tertunduk. Rendi menghampirinya dan segera memeluk istrinya tersebut.
__ADS_1
“Alarik bukan orang yang berpikiran picik. Dan Rafa juga sudah dewasa, hak asuhnya bukan sesuatu yang bisa diperebutkan di pengadilan.”