
Sherin terperangah mendengar penuturan Firda dan segera saling pandang dengan Alarik yang berdiri di sampingnya. “Jadi, Quinsha udah berangkat ke Bali, Tante?”
“Iya, Nak. Sejak tadi siang.”
“Sendirian saja?” Sherin terlihat menampakkan raut kawatir.
“Katanya, manajernya Rafa akan menjemputnya di Bandara,” terang Firda. Di wajahnya juga terlihat kekawatiran yang sama.
“Kami juga akan ke Bali, Tante. Dan kami ingin membawa Quinsha juga.”
“Tante gak bisa melarang Quinsha untuk pergi. Dia hanya nangis terus dari tadi,” tutur Firda dengan raut sedih. Sherin segera menghampirinya dan merangkul pundaknya.
“Kami paham dengan perasaan Quinsha, Tante, dan ... semua ini masih belum jelas ya Tan. Kita husnudzon dulu.” Sherin mencoba menenangkan ibunda Quinsha itu. Yang pastinya saat ini sudah berpikir macam-macam atas berita ini.
“Iya, Nak.” Firda Cuma mengangguk. Berbaik sangka itu memang sudah ia coba sejak semalam. Sejak pertama kali mendengar dan melihat berita itu di televisi nasional. Meski terkadang rasa marah dan kecewa juga datang, tapi tak ada apapun yang bisa ia lakukan, selain mencoba bersabar. Sampai mendapatkan berita yang benar.
“Kalau begitu kami pamit. Kami juga akan segera berangkat ke Bali,” ujar Alarik. Lelaki yang sudah tak sabar ingin segera menemui putranya itu segera bangkit.
Firda mengantar keduanya hingga masuk ke dalam mobil, teriring doa dan harapan, semoga semuanya baik-baik saja, dan tak seperti apa yang diberitakan.
*********
********
Apa yang yang bisa dilakukan oleh Quinsha sekarang—setelah hampir dua jam menunggu untuk bisa bertemu dengan Rafardhan—kini ia melihat Dari kejauhan, pemuda tampan yang sangat dirindukannya dengan melekat itu berjalan ke arahnya dengan pengawalan ketat.
__ADS_1
Gadis itu merasakan detak jantungnya berdegup sangat kuat. Rasa perih langsung menjalar dan rata menyelimuti jiwanya. Jangan tanyakan tentang tangisan. Karena sedari awal menjejakkan kakinya di halaman gedung Polda Bali, air matanya sudah berlinang dan tak terbendung lagi.
Terlebih saat keinginannya untuk bisa bertemu dengan sang suami, harus melalui beberapa proses yang panjang, hingga merasa seakan dipersulit, air matanyalah yang setia menemani dalam usahanya membangun ketegaran jiwa di atas rasa sakit.
Pun Adam, si tukang khotbah, yang terlalu kaya akan kosakata, kali ini seakan kehilangan semua tatanan bahasanya. Ia hanya bicara dengan Quinsha seperlunya saja, selebihnya ia sibuk mondar-mandir mengurus semuanya.
Bahkan terlihat sepasang matanya berkabut, kala menyadari banyak hal yang terasa sangat sulit—seperti pengacaranya yang tak segera datang, dan tak segera mendapatkan persetujuan—Adam hampir saja menangis. Bukan karena ingin menyerah, tapi tak tega pada Rafardhan yang sudah dianggapnya adik sendiri. Jika perjuangan untuk membebaskannya harus sesulit ini.
Tapi saat Rafardhan tiba ke tempat itu, Adam segera menyisih dan membuang pandangan dengan helaan napas berkali-kali. Berbeda dengan Quinsha yang justru terpaku bak patung batu. Sedangkan tatapannya memindai wajah tampan sang suami yang terlihat sangat kusut dan layu.
Begitu juga dengan Rafardhan. Langkahnya juga terhenti seketika manakala melihat wajah sang istri di depan mata. Tapi lelaki muda itu tak membiarkan waktu terlewat begitu saja, ia gegas menghampiri, tak peduli akan reaksi apa yang bakal diterimanya setelah ini. Rafardhan hanya ingin memeluk Quinsha, untuk menumpahkan segala rasa yang tak bisa diungkap dengan kata-kata.
“Maaf.” Lirih ia berucap seraya mendekap tubuh istrinya dengan sangat erat. “Maaf.” Dan sekali lagi, permintaan maaf kembali terlafaz. Sementara tak ada tanggapan apa-apa dari Quinsha, kecuali guncangan di kedua bahunya, karena menahan isakan yang mendobrak dada.
Saat tenaganya terasa kembali ada, Quinsha mengurai pelukan suaminya dan menatap wajah itu dengan sepasang mata basah. “Aku datang untuk ...” Quinsha tak dapat meneruskan kalimatnya, karena suaranya yang terasa tersumbat. Seakan tenggorokannya kian menyempit, dihantam rasa sakit.
Air mata Quinsha berlinang lagi mendengar ucapan suaminya itu. Dan untuk beberapa saat, ia tak mampu untuk berkata-kata lagi. Rafardhan kembali memeluknya dengan helaan napas berat.
“Aku memenuhi janjiku padamu, un-tuk, untuk tak percaya pada apapun yang aku lihat dan aku dengar, sebelum tau secara langsung darimu,” ucap Quinsha dengan suara terputus-putus karena derai air mata.
Rafardhan menghela napasnya kuat, terasa lega dalam dadanya. Dari ucapan Quinsha ini jelas memberitahukan kalau istrinya itu belum memvonis dirinya apapun, sebelum tau hal yang sebenarnya.
Allahu Akbar. Rafardhan bertakbir dalam diam, mengagungkan kebesaran Tuhan, yang telah menganugerahinya seorang istri cantik yang berjiwa lapang. Yang tak mudah larut dalam tuduhan, meski kini, mungkin seluruh Negeri sudah memvonisnya kotor dan keji.
“Terima kasih, Sayang ...” Rafardhan pun tercekat. Tak mampu tuntaskan ucap. Ia membuang pandangan untuk menghalau air mata yang sudah siap menerjang keluar. Saat itulah, ia baru menyadari keberadaan Adam.
__ADS_1
“Mas Adam.”
Adam segera berbalik dan memeluknya erat. “Gue gak berguna, Raf. Gue bodoh sekali. Gue gak bisa ngeluarin lu dari sini. Gue gak bisa bantuin lu. Tapi gue janji, gue akan lakuin apa aja, buat lu segera bebas, Raf. Gue tau lu gak salah,” racau Adam sambil menepuk-nepuk pundak Rafardhan.
“Makasih, Mas.” Rafardhan mengulas senyum. “lu orang pertama yang bilang gue gak salah.”
“Karena gue tau gimana, Lu Raf.”
“Makasih, Mas.” Rafardhan menepuk pundak Adam. “Dan gue minta maaf, mungkin setelah ini, gue gak akan bisa lagi mempekerjakan, Lu.”
“Gosah pikirin itu sekarang. Gue yakin, kebenaran akan terungkap, dan lu bisa balik lagi ke dunia, Lu.”
RAfardhan hanya menggeleng kecil.
“Raf, jangan putus asa. Kita bisa bersihin nama lu lagi, setelah semuanya selesai.”
“Bukan itu, Mas.” Sergah Rafardhan cepat. “Gue gak peduli orang mau nilai apa tentang gue. Gue juga gak peduli, akan bisa balik lagi atau kagak. Yang penting bagi gue sekarang, bini gue tau kebenarannya dan percaya ama gue lagi. Itu udah cukup, Mas.”
Mendengar ucapan Rafardhan itu, Quinsha segera menghambur dan memeluk tubuh suaminya itu dari belakang.
**********
*******%%%
maaf ya, kalau typo bertebaran. habis ketik langsung up, tanpa review dulu..dikejar waktu.
__ADS_1
pingin banget cerita ini segera tamat, tapi waktu ngetiknya masih lom cukup banyak..
semoga masih ada yg menunggu kelanjutannya.