Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 108


__ADS_3

Adam melongo begitu tiba di dalam ruangan. Ia memang mengayunkan langkah lebih cepat dari Rafardhan dan Quinsha, agar debar tak menentu yang dirasakan segera terjawab. Jika segera tiba di ruangan Direktur Ditres Narkoba, segala tanda tanya akan menemukan muaranya. Begitu pemikiran Adam.


Dan hasilnya sekarang, ia justru melongo seperti orang kebingungan. Karena tak ada satu pun dalam ruangan cukup besar itu yang ia kenal. Adam hanya bisa menebak kalau yang duduk di balik meja dengan segala atribut kebesaran itu adalah seorang petinggi kepolisian yang memiliki kuasa penuh atas ruangan ini. Berikut dua ajudan yang berdiri di sampingnya, kanan dan kiri. Selain itu, Adam sudah tidak tau lagi.


Saat Rafardhan dan Quinsha juga memasuki ruangan, salah seorang yang sedang duduk itu segera bangkit dan menyambutnya. “Rafasya.”


“Papa.” Rafardhan sontak terdiam dalam keterkejutan melihat ayah kandungnya itu ada di depan mata sekarang. Tapi beda dengan Alarik, yang segera bergegas dan memeluk tubuh putranya dengan erat.


Adam hanya bisa melongo, interaksi singkat Rafardhan dengan pria yang memiliki wajah sangat mirip dengannya itu, tak berhasil membuat Adam paham. Berbeda dengan Quinsha yang segera memahami semuanya. Istri Rafardhan itu langsung meneteskan air mata, perasaan lega dan senang menyapu dalam rongga dada.


“Kamu gak papa, Nak? Apa ada yang sakit, apa ada yang luka?” Setelah melepas pelukannya, Alarik menangkup wajah putranya yang kini juga menatapnya dengan sepasang mata mengembun.


“Papa, aku ...” Rafrdhan tak dapat melanjutkan ucapannya. Sedianya ia ingin menjelaskan kalau atas perkara itu semua, dirinya tak tau apa-apa. Tapi suaranya tercekat begitu saja.


“Papa tau, bagaimana anak papa. Tak perlu menjelaskan semuanya,” ucap Alarik segera.


“Makasih, Papa.” Dua lelaki berbeda generasi itu kembali larut dalam pertemuan haru. Hingga satu sapaan menginterupsi keduanya.


“Raf!”


Rafardhan melerai pelukan dan melihat pada orang yang telah memanggilnya. “Kak Aresh!”


Benar. Memang Damaresh William hadir di sana juga, bersama dengan Alarik. Mereka tak menemui Rafasya lebih dulu. Tapi dengan segala koneksi yang dipunya, mereka langsung menghadap pada kepala Direktorat Reserse Narkoba. Tentu saja tidak dengan tangan hampa. Karena sebelum menuju Polda, Aresh sudah mengutus badan inteligen khusus keluarga William untuk menyelidiki TKP dan menemukan beberapa bukti-bukti.

__ADS_1


Bagaimana cara mereka menembus garis polisi? Karena tentu saja tempat kejadian perkara sudah dipasangi garis polisi, yang tak boleh ada siapa pun yang melewati, kecuali petugas. Lalu bagaimana cara orang-orang Damaresh melewatinya, juga melewati petugas polisi yang berjaga di sana?


Saya rasa, tak perlu menjelaskan secara terperinci. Pembaca sekalian sudah paham dengan pasti, bagaimana cara kerja Damaresh William yang Jenius ini. Sehingga dari awal Rafardhan tersandung masalah seperti ini, sudah ada dari beberapa pembaca yang meminta Damaresh untuk menuntaskan semuanya.


OK, kembali ke cerita.


Baik, Rafardhan maupun Damaresh, sama-sama saling menghampiri dan bersatu dalam pelukan hangat. “Harusnya aku memelukmu dulu, saat pertama kita bertemu, Raf. Sehingga aku tak perlu memelukmu di ruangan ini,” ucap Damaresh disela tepukan lembutnya pada pundak Rafardhan.


“Alam pasti tak terima, Kak. Karena saat itu kau tak menyambutku dengan pelukan. Hingga sekarang ada kejadian seperti ini, dan kau memelukku di sini.” Rafardhan menyambut ucapan Damaresh dengan senada. Dua orang sepupu ini seperti sudah sangat paham dengan cara bicara masing-masing.


“Iya, bisa jadi.” Damaresh kembali menepuk pundak Rafardhan. “Kau baik-baik saja, Raf?”


“Aku sungguh baik-baik saja sekarang,” jawab Rafardhan penuh dengan rasa senang.


“Rafa!” Rupanya masih ada satu orang yang juga ingin memeluk Rafasya.


“Ayah!”


Rendi, juga ada di sana. Posisi duduknya yang membelakangi pintu membuat Adam tak melihat ke arahnya. Rendi dan Risa segera menyusul ke Bali setelah dikabari oleh Alarik. Tapi hanya para lelaki yang datang ke Polda. Sedangkan para istri menunggu di hotel saja.


Selesai dengan acara kangen-kangenannya, kepala Ditres Narkoba yang berpangkat Irjen pol itu segera menyampaikan keputusannya. Bahwa mulai saat ini Rafardhan Malik dinyatakan bebas bersyarat, hingga penyelidikan atas kasus ini tuntas.


Keluarga William bahkan mengajukan permohonan untuk melimpahkan kasus ini ke Polda Metro Jaya. Meski ini cukup berat dan harus melewati banyak syarat, mengingat locus dilektinya ada di Bali, tapi Ditres Narkoba Polda Bali mengabulkan permintaan itu. Karena dari beberapa syarat yang harus dipenuhi dapat dengan mudah dicukupi oleh keluarga William yang memang memiliki koneksi dan pengaruh besar di seantero negeri.

__ADS_1


************


********************


Terima kasih banyak untuk semua antusiasme pembaca sekalian, memberikan like, komen, vote dan semacamnya.


Terima kasih yang tetap setia menanti kelanjutan cerita ini.


Mohon maaf juga, kalau tak selalu bisa membalas komentar kalian satu persatu. Tapi semua aku baca. dan aku sangat senang karenanya. Dan itu semua jadi penyemangat untukku. 😊😊.


Saat ini kesibukanku di dunia nyata masih belum terurai semuanya. Tapi aku selalu sempatkan menulis, karena menulis itu adalah hobyku, juga menjadi healing dari pekerjaanku yang berjibun. Dan dukungan kalian semua menjadi kebahagiaan tersendiri dalam penatku.


Love u All 🌷🌷🌷🌷🌷


ohya, minta dukungannya ya, untuk Karya Chat story kami. Chat Story ini kolaborasiku dengan teman2 penulis di sini yang tergabung dalam grup WA CERITA TANPA KATA. Mreka adalah..aku sendiri, tentu. Penulis Jelata, Nofi Kahza, AyuWidia, dan Ria Diana.


ini dia karyanya. intip keseruan kami di sana ya.



kalian bisa cari karya ini di akun Penulis Jelata. Shearching Aja, di MT atau NT.


makasih semua...

__ADS_1


__ADS_2