Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 25


__ADS_3

Merasa kalau suara itu cukup familiar, Alarick memutar kepalanya memerhatikan. Dan kini tak hanya suaranya saja, wajah perempuan yang sedang sibuk menelepon itu juga terasa sangat ia kenal. Lelaki empat puluh tahun itu melangkah mendekati, tanpa melepas tatap mengamati. Setelah mendapatkan ingatannya kembali, tentang siapa adanya wanita bergaun kuning ini, Alarick segera menyapa, bersamaan dengan perempuan itu sudah menarik lepas ponsel dari telinga.


“Mbak Risa.”


Wanita bergaun kuning itu membawa seluruh tubuhnya menoleh pada seseorang yang menyebut namanya. “Ya, siapa ya?” tatapannya mengutas tanya seraya menyapu wajah tampan Alarick di depannya.


“Alarick, Mbak.”


“Ooh. Alarick William rupanya.” Risa, wanita itu dengan cepat mendapatkan ingatannya.


“Alarick saja,” sanggah Alarick yang enggan ada nama William disematkan di belakang namanya.


Risa, wanita itu hanya tersenyum dengan tatapan mengarah pada Alarick memerhatikan dengan seksama.


“Apa kabar, Mbak?” tanya Alarick setelah sepersekian menit, Risa hanya menatapnya saja tanpa ada mengucap kata.


“Baik, kamu sendiri?”


“Seperti inilah, Mbak.”


Saat itulah kemudian, Sherin yang melihat suaminya sedang bicara dengan orang yang tak dikenal, segera menghampiri dan bertanya, “Siapa, Mas?”


“Mbak Risa,” jawab singkat Alarick bahkan tanpa menatap Sherin. “Ini, Sherin, Mbak. Istri saya.” Alarick segera mengenalkan Sherin karena tatap mata Risa yang langsung mengarah pada wanita berhijab itu dengan seksama.

__ADS_1


“Oh, ini istri kamu,” sambut Risa dan kemudian segera menjabat tangan Sherin yang sudah mengulurkan tangannya terlebih dahulu, keduanya saling menyebutkan nama.


“Sudah lama menikah dengan Alarick?” tanya Risa pada Sherin. Hal itu karena ia melihat perbedaan usia yang cukup jauh antara Alarick dengan istrinya itu.


“Belum sampek tiga tahun, Mbak,” sahut Sherin diiring senyum ramah.


“Syukurlah Rick, kamu sudah menjalani hidupmu dengan bahagia,” ucap Risa pada Alarick. Lelaki itu menanggapinya dengan sebaris senyuman tipis.


“Bagaimana kabar seluruh keluarga di sana, Mbak?” Alarick mengalihkan pertanyaan.


“Ya, semuanya baik,” sahut Risa.


“Mas Rendi, apa masih tetap kerja di Jakarta?” tanya Alarick antusias, nyata sekali dari tatap matanya kalau ia sangat senang bisa berjumpa dengan Risa. Tapi berbanding terbalik dengan Risa yang justru memperlihatkan ekspresi yang biasa saja. Bahkan terlihat datar dan ingin segera mengahiri percakapan.


“Tidak. Mas Rendi sudah kerja di Kota ini juga.”


Sherin mengalihkan pandangannya pada Risa dengan batin yang bertanya-tanya, siapa sebenarnya wanita cantik di depannya ini? Kalau dia orang dari masa lalunya Alarick, tapi kenapa suaminya itu justru memanggilnya ‘Mbak’.


“Ya, anak-anakku juga sekolah dan kuliah di kota ini juga, gak ada yang di luar kota, kecuali si sulung,” terang Risa menyambut ucapan dari Alarick.


“Si sulung Denara, ya Mbak?” Alarick bertanya lebih lanjut. Terlihat sangat bersemangat dengan cerita Risa.


“Bukan Denara. Tapi Rafa,” jelas Risa.

__ADS_1


“Rafa? Kata mas Rendi putri sulung kalian, namanya Denara?”


“YA, Benar. Rafa itu putera Kanaya,” sahut Risa sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas sandang. Sepertinya wanita itu mulai bersiap untuk pergi.


“Apa, Mbak? Putera Kanaya?” tanya Alarick dengan tercekat.


Gerakan tangan Risa langsung terhenti seketika dengan pertanyaan tersebut. Ia seperti sudah baru menyadari, kalau apa yang telah diucapkannya baru saja itu, adalah hal justru tidak boleh diketahui siapa pun.


“Alarick, maaf ya aku harus segera pergi,” pamit Risa segera tanpa menjawab apa yang ditanyakan oleh Alarick.


“Mbak tunggu! Tolong jawab pertanyaan saya dulu,” pinta Alarick sambil melangkah kian dekat. “apa benar anaknya Kanaya masih hidup?”


“Aku gak tau, Rick," jawabnya tegas.


“Saya mendengar mbak Risa menyebut hal itu barusan.”


“Mungkin kamu hanya salah dengar. Aku tak mengatakan begitu kok,” kilah Risa dan segera hendak berlalu. Tapi dengan cepat Alarick menghadang langkahnya.


“Saya mohon, Mbak. Saya berhak tau jika memang anak saya masih hidup,” harap Alarick sepenuh hati.


“Anak kamu?” kaget Risa. Dan tak hanya Risa, Sherin juga menampakkan kekagetan yang sama.


“Anak Kanaya adalah anak saya, Mbak. Mbak Risa tau itu. Dan saya berhak tau kalau memang anak saya masih hidup,” tegas Alarick dan dia tak peduli kendati beberapa pasang mata dari sesama pengunjung apotek itu jadi memerhatikan mereka.

__ADS_1


Risa, wanita itu hanya menghela napas berat, menggeleng singkat, dan gegas hendak teruskan langkah. Tapi lagi-lagi Alarick menahannya dengan ucapan memohon, "Mbak, Saya mohon. Jawab saya dengan jujur!"


“YA. Anak kamu dan Kanaya memang masih hidup. Puas kamu,” tandas Risa dan segera membalikkan badannya untuk berlalu.


__ADS_2