Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 93


__ADS_3

“Masih hidup lu?” Pertanyaan Adam langsung menggelegar, hanya sedetik saja dari Rafardhan yang mengangkat teleponnya.


Pemuda tampan itu bahkan harus menjauhkan ponsel mahalnya dari pendengaran, karena suara Adam yang membuat sakit gendang telinganya.


“Mang lu pikir lagi menelepon ke alam kubur, Mas,” gerutu Rafardhan.


“Raf, asli, gue gak suka dengan cara lu ini. Punya hutang apa lu ke gue? sampek lu mau kabur dari gue.” Adam terdengar sangat kesal. Dan hanya dengan memarahi Rafardhan, rasa kesal itu masih tetap tak terbayar.


Pasalnya, dari tadi siang sudah puluhan kali, Adam menghubungi Rafrdhan tapi selalu berakhir dengan kekecewaan karena pemuda tampan itu menon aktifkan ponsel. Hampir saja Adam membanting ponselnya sendiri karena kelewat kesal, kalau saja tidak teringat bahwa ia mesti keluar dana, untuk beli ponsel lagi.


Ternyata, semarah apa pun Adam, ia masih ingat, kalau mencari uang itu gak gampang.


“Maafin gue, Mas. Hanya memang ada hal yang sangat penting, yang musti gue lakuin di sini,” ucap Rafrdhan.


“Ok, gue gak mo campuri urusan pribadi, lu, Raf. Tapi setidaknya, kasih gue pengertian, biar gue bisa tau harus ngehandle acara lu dengan cara gimana. Asli, dari tadi, gue bingung banget tiap kali ada yang nanyain lu.” Adam mulai merendahkan suaranya. Rencana untuk marah besar-besaran dan memboikot kelembutan tutur kata dari Rafardhan, kini jadi berantakan karena permintaan maaf dari si pemuda tampan.


“Sory, Mas.” Rafardhan berkata singkat. Ia paham bagaimana repotnya Adam mengurusi jadwal yang telah ditinggalkan begitu saja oleh Rafardhan.


“Tapi untuk acara besok, kalau lu mangkir lagi, gue angkat tangan, Raf.”


“Besok, gue usahain datang, Mas,” putus Rafardhan diiring hembusan Napas pelan. Seiring pertanyaan yang bercokol di kepalanya, apa mungkin ia bisa kembali besok ke Jakarta.


Setelah mengakhiri berteleponan dengan Adam, dan menyisih dari posisi berdiri dengan nyaman di depan jendela kamar itu, netra Rafardhan menangkap siluet gadis cantik yang berdiri di ambang pintu. Keraguan terpancar dari tatapannya, antara meneruskan langkah atau berbalik arah.


Rafardhan melemparkan senyum singkat padanya. Senyum yang membuat Quinsha memutuskan untuk teruskan langkah. “Saya mau bicara,” ujarnya datar.


Rafardhan mengangguk dan segera duduk. Atmosfer kecanggungan terasa begitu kuat menyelimuti ruangan. Bahkan Quinsha juga tak segera memulai pembicaraan, meski kini keduanya sudah duduk berhadapan.


“Saya rasa, saya perlu mengucap terima kasih, karena kamu sudah menyelamatkan saya dari tekanan paman. Ya, walaupun cara yang kamu pilih juga cukup membuat saya tertekan ...” Quinsha memutus ucapannya sejenak untuk meraup napas. Entahlah, kenapa sekarang berbicara dengan Rafardhan menjadi tak selepas dan seleluasa tadi siang. Bahkan untuk segera sampai pada titik maksud pembicaraan saja, terasa seperti menapaki jalan mendaki yang panjang.


Sedangkan Rafardhan, terlihat sangat manis sekarang. Dia tak menginterupsi ucapan Quinsha ataupun mengintervensinya seperti yang sudah biasa ia lakukan. Lelaki tampan itu tetap menunggu dengan sabar, sampai gadis cantik yang kini telah berstatus sebagai istrinya itu, menuntaskan ucapan.

__ADS_1


“Tapi kamu, jangan merasa berbeban dengan ikatan ini. Kapan pun kamu mau, kamu bisa mengahiri. Dan saya, juga gak akan membebani kamu dengan status kita sekarang, karena saya juga tak akan bisa menjalankan semua ini sebagaimana mestinya.” Akhirnya Quinsha sampai juga pada titik kalimat yang sudah ia niatkan.


Lantunan kata yang sudah dirangkai sedemikian rupa, ketika selesai akad nikah satu jam yang lalu. Dan setelah semua orang berpamit meninggalkan kediamannya, Quinsha segera mencari celah untuk bicara pada Rafardhan untuk menyampaikan apa yang telah menjadi isi kepalanya dan sekaligus keputusannya.


Rafardhan menatap gadis di depannya sambil mengulum senyum. Dalam hati ia sedang mengagumi wanita yang telah menjadi istrinya itu, karena kepiawaiannya merangkai kata. Bukankah lebih mudah jika maksud ucapannya itu, disampaikan dengan bahasa yang lebih lugas saja. “Saya tidak siap menjalankan pernikahan ini sebagaimana mestinya” Hal itu bukan yang menjadi maksud ucapan Quinsha. Tapi disampaikan dengan tatanan bahasa yang lembut dan mengandung makna terselubung.


“Malam ini, saya tidur di mana, Quin?” Rafardhan mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaannya.


Quinsha tak segera menjawab, ia hanya melepaskan pandang kepada Rafardhan dengan seksama. Pemuda tampan itu paham arti tatapan istri mendadaknya tersebut, karenanya ia segera berkata, “ Saya paham semua maksud kamu. Karena itu saya bertanya. Malam ini saya tidur di mana? Di rumah ini atau di hotel saja.”


“Di sini saja,” sahut Quinsha.


“Di kamar ini?”


“Tidak.” Quinsha menggeleng dengan cepat. “Di kamar tamu. Tapi tunggu sampai paman istirahat,” lanjutnya.


“Maksud kamu, saya akan tidur di kamar tamu bersama pamanmu?”


“Bukan begitu. Kamu pergi ke kamar tamu setelah paman tidur. Di rumah ini, paman memang ada kamarnya tersendiri, hal itu berlaku sejak aba masih ada.”


Sedangkan antara Rafardhan dan Quinsha tak membuat perjanjian apa-apa sama sekali. Hanya saja secara simbolik, Quinsha menyampaikan kalau dirinya belum siap untuk menjalani kehidupan sebagai istri Rafardhan. Dan hal tersebut tak mendapat tanggapan apa-apa dari lelaki muda tampan itu.


Apa memang sudah ada perjanjian antara Quinsha dan Aura, sehingga mereka sama-sama mengalami kisah malam pertama yang miris? Tentu saja tidak. Karena Quinsha malah tidak pernah tahu kisah malam pertama Aura itu, karena sahabatnya tersebut tidak pernah menceritakan apa-apa. Pun dengan Quinsha, yang juga berniat untuk tak akan menceritakan kisah malam pertamanya ini pada Aura apalagi Sherin. Terlebih saat ini Aura sudah kembali tinggal di Jakarta, setelah Damaresh berhasil menggulung kesombongan William dengan menjatuhkan Pramudya Corp. Dan saat ini pula, pencetus tirani dalam keluarga Pramudya itu sedang mengalami stroke.


Quinsha tersentak dari tidurnya, setelah alarm yang ia pasang menjerit dengan sekeras-kerasnya. Gadis itu segera mencari ponsel yang menjadi sumber bunyi itu tapi tak dijumpai. Entah di mana ia meletakkan ponselnya semalam, sebelum ia terkapar kelelahan setelah pemikirannya puas berjalan-jalan dan enggan pulang.


“Ini ponselmu. Matikan alarmnya!”


QUinsha kaget dengan ucapan itu. Lebih kaget lagi setelah melihat seorang pemuda tampan berdiri di dekatnya, sambil mengulurkan ponsel di tangan.


Bukannya segera menerima ponselnya, Quinsha malah menoleh kanan kiri, “ kok aku bisa tidur di sini?” tanyanya heran.

__ADS_1


Pasalnya semalam, ia tertidur di kursi dekat jendela, karena Rafardhan yang tertidur di ranjangnya, saat menunggu untuk berpindah ke kamar tamu. Tapi sekarang malah Quinsha yang tertidur di ranjang itu, bahkan hijab yang menutup kepalanya sudah tak ada lagi di tempatnya. Padahal jelas ia ingat, kalau semalam ia tidur tanpa melepas hijab.


“Siapa yang memindahkan saya ke sini?” tanya Quinsha heran.


“Paman,” sahut Rafardhan. Sedangkan tangannya mengotak atik ponsel Quinsha itu untuk mematikan alarmnya.


“Paman?” tanya Quinsha heran.


RAfardhan mengangguk seraya meletakkan ponsel Quinsha di atas nakas. “Gak mungkin,” gumam Quinsha.


“Berarti kamu terbang sendiri,” ucap pemuda tampan itu seraya berbalik badan dan menghempaskan tubuhnya di kursi.


“Itu lebih gak mungkin lagi,” kata Quinsha.


“Lalu apa menurutmu, yang lebih memungkinkan?”


Quinsha tak menjawab, tatapannya hanya menyapu wajah tampan Rafardhan yang juga tengah menatapnya. Hanya ada mereka berdua di dalam kamar. Tentu saja Quinsha paham, kalau suami mendadaknya itu yang telah mengangkatnya ke pembaringan. Karena Quinsha terdiam, Rafardhan mengulum senyuman.


“Kenapa kamu tersenyum?” selidik Quinsha.


“Kamu cantik Quin. Dengan ataupun tanpa hijab, kamu tetap cantik. Apalagi bila kamu sedang tidur,” kata Rafardhan tanpa melepas senyuman.


Hal itu membuat kecurigaan Quinsha mencuat ke permukaan. “kamu ngapain saya waktu tidur?”


“Gak ngapa-ngapain,” sahut Rafardhan santai.


“Saya gak percaya.”


“Kalau pun saya mau ngapa-ngapain kamu, apa ada yang berhak untuk melarang?”


Teng teng teng...Quinsha jadi terdiam.

__ADS_1


*********


CTB belum tamat ya, ini bagian dari part, bukan extra part. karena masih ada hal belum tuntas di sini. kemarin 2 hari gak up, karena sangat sibuk..mohon maaf ya, buat semua yang sudah menanti.


__ADS_2