Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 118


__ADS_3

“Selisih umur anak kita nanti, sekitar dua bulan ya.”


“Ya, mudah-mudahan sama-sama laki-laki ya, biar ada teman main.”


“Laki-laki dan perempuan sama sih, yang penting shalih dan shaliha.”


“Insya Allah, aminn.”


Aura dan Sherin terus terlibat perbincangan akrab seraya menyiapkan sarapan untuk suami masing-masing. Meski sudah ada Art yang bahkan jumlahnya sangat banyak di Mansion ini, tapi bagi kedua wanita yang berasal dari latar pendidikan yang sama itu, menyiapkan keperluan suami adalah bernilai ibadah. Jadi mereka tak ingin melewatkannya jika memang waktu dan kesempatan masih ada.


“Tuh!” Aura memberi isyarat dengan ujung mata pada Sherin, seraya melempar pandangan ke arah tangga. Sherin pun mengikuti arah tatapan Aura dan segera tersenyum melihat pemandangan yang tersaji di sana.


Quinsha dan Rafardhan berjalan menuruni tangga dengan bergenggam tangan, saling berbincang dan saling melemparkan senyuman. “Kata Kak Clau. Di Mansion ini, pasangan paling romantis adalah kamu dan Aresh. Tapi mungkin sekarang kedudukan kalian akan digeser oleh Rafa dan Quin.”


“Gak papa, aku ikhlas ... tapi apa benar mommy bilang seperti itu?” tanya Aura sedikit terlonjak.


“Ya,” jawab Sherin disertai anggukan.


“Menurutku semua pasangan di sini sekarang sudah manis dan hangat, setiap saat aku melihat tawa dan senyuman. Dari Anthoni dan istrinya. Dari Edgard dan istrinya. Juga mommy dan daddy. Subhanallah,” cetus Aura dengan binar wajah bahagia.


“Dan kamu, adalah perintis jalan, Aura. Jalan bagi keluarga ini untuk menemukan cinta di setiap masing-masing hati.”


“Alhamdulillah,” ucap Aura penuh rasa syukur.


“kalian sedang apa?” Quinsha sudah sampai di hadapan keduanya dan langsung bertanya.


“Lagi menebak-nebak, semalam pasangan pengantin baru, sedang apa,” sahut Sherin.


Quinsha tersenyum sambil mengedikkan bahu. “Yang sudah pernah jadi pengantin baru, pasti sudah tau. Jadi tak perlu kuberitahu ‘kan?” retoris Quinsha sambil memulas senyum di wajahnya.


“Alhamdulillah,” sambut Sherin.

__ADS_1


“Wahh sepertinya anak dalam kandunganmu, tak lama lagi bakal punya keponakan, Rin,” seloroh Aura.


“Gak papa, aku bahagia kok,” sahut Sherin.


“Mana ada langsung jadi. Ngaduknya baru sekali,” gumam Quinsha yang langsung disambut tawa oleh Aura.


“Ya udah, buruan ngaduk lagi. Biar cepat jadi,” kata Sherin sambil tertawa renyah.


“Ih mama mertua.” Quinsha jadi terkekeh menatap sahabat yang kini menjadi mertuanya itu.


Seluruh keluarga berkumpul dan sarapan bersama. Diselingi aneka perbincangan yang kian merekatkan suasana kekeluargaan. Semua ikut andil dalam merekatkan ikatan. Tak ada yang terdiam dalam memangku beban. Tak ada yang hanya menyimak sedang pikiran terbelenggu dalam galau. Semua menempati posisi masing-masing, dan peranan masing-masing. Hingga suasana kekeluargaan begitu hidup dalam kebersamaan. Tak ada nomor satu, nomor dua dan seterusnya. Yang ada adalah bersatu dalam ikatan keluarga yang penuh cinta.


“Pak.” Salah seorang asisten menghampiri Damaresh dan sedikit membungkukkan badan. Kehadirannya pun segera mendapatkan perhatian dari lelaki tampan tersebut, begitu juga dengan segenap keluarga yang lain.


Seusai sarapan, seluruh keluarga memang meneruskan perbincangan di ruang santai. Mereka sengaja sediakan waktu sesaat untuk berkumpul, sebelum sama-sama menekuni pekerjaan masing-masing.


“Ada apa?”


“Suruh langsung masuk saja!”


“Baik, Pak.” Lelaki berbadan tegap itu segera berlalu. Perbincangan yang sempat terhenti, kini berlanjut kembali. Sebuah topik kecil yang dibahas, dibingkai dalam obrolan santai dan hangat. Semakin menguarkan tali kekeluargaan yang kian erat.


Hingga kembali pembicaraan terjeda dengan kehadiran Stefan yang tersenyum ramah pada semuanya. Selanjutnya ia mendekati Damaresh saja. “Kau sudah datang?” Tak sebagaimana sikap Damaresh pada seluruh keluarga yang terlihat hangat, terhadap bawahannya, ia menunjukkan sikap penuh wibawa yang begitu kuat.


“Iya, Pak. Saya langsung kemari,” sahut Stefan.


“Kau tak menemui Clara lebih dulu?” pertanyaan Damaresh itu bernada teguran.


Stefan langsung terdiam. Ia memang langsung menuju Mansion Pramudya sebelum menemui istrinya, karena ada hal penting yang harus segera ia laporkan pada atasannya.


“Apa yang ingin kau sampaikan? Setelah itu cepatlah pulang!” titah Damaresh.

__ADS_1


“Baik, Pak.” Stefan segera menyerahkan Tab pada Damaresh. Lelaki itu segera memerhatikan dengan seksama, namun hanya sesaat saja. Karena kemudian ia menyerahkan kembali tab itu pada Stefan sambil memberi sebuah isyarat. “mereka juga perlu tau semuanya,” ucapnya singkat.


“Baik, Pak.” Stefan patuh dan segera menjalankan perintah tanpa banyak tanya. Suami Clara itu menuju LCD lebar yang tersedia dalam ruangan. Mengotak-atik sebentar, dan sesaat kemudian sebuah tayangan berita pun ditampilkan.


Berita terkini.


Pelaku sebenarnya yang telah menjebak artis Rafardhan Malik, dengan kasus narkoba, menyerahkan diri ke Polda Metro jaya, pagi ini.


Pelaku yang terdiri dari dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan itu, menyatakan bahwa mereka membuat pengakuan ini secara sadar dan tanpa adanya tekanan dari pihak mana pun. Berikut cuplikan wawancaranya dengan dua orang yang kini berstatus sebagai tersangka, di hadapan awak media.


Kemudian di layar tampak kini sepasang manusia yang sama-sama menunduk selindungkan muka dari sorot kamera. Tapi Rafardhan mampu mengenali keduanya dengan sangat sempurna. “Ayunda, Nataniel?”


“Kau mengenali mereka?” tanya William pada cucunya itu.


“Iya. Ayunda itu seorang model, dan Nataniel, aktor,” jawab Rafardhan lirih. Selanjutnya lelaki berparas tampan itu diam, tapi terlihat keningnya berkerut dalam.


“Apa yang kau pikir, Raf?” tanya Damaresh ke arahnya.


“Aku bukan tidak punya dugaan pada mereka, Kak. Tapi aku tak menyangka jika mereka malah mengakui sendiri perbuatannya dengan suka rela. Rasanya ini bukan tabiat mereka.” Rafardhan menggeleng pelan, seperti hendak mengingkari kenyataan. Baginya apa yang dilakukan oleh kedua orang itu seakan tak masuk akal.


“Stefan, bisa kau jelaskan semuanya pada Rafasya?” lontar Damaresh pada Stefan.


“Baik, Pak.


Memang seperti yang diucapkan oleh Rafardhan, Meski sudah nyata melakukan kesalahan, dan bukti juga sudah di tangan, Ayunda dan Niel menolak keinginan Stefan untuk membuat pernyataan, bahwa mereka lah dalang dari semua kejadian yang menimpa Rafardhan.


Mereka baru diam dan bungkam, bahkan berubah jadi penurut seperti kerbau yang dicocok hidungnya, mana kala Stefan dengan sangat lancar membeberkan jejak kejahatan mereka yang lain.


FLashback On.


“Ayunda.” Stefan mengambil langkah pelan mengitari tiga orang yang kini menatapnya dengan seksama..

__ADS_1


(Next Episode)


__ADS_2