Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Bab 17


__ADS_3

Kehancuran itu sudah tampak di depan mata. Dan Kegagalan juga sudah membayang di atasnya. Kata-kata Alarick untuk melepaskannya, begitu mencampakkan Sherin dalam rasa tak berharga. “Semudah itu, Mas?” Sherin menatap suaminya itu kecewa.


Alarick tak menjawab, Ia hanya melabuhkan pandangan datar. Pun tak ada bahasa yang dapat disimpulkan dari raut wajahnya. Diam memang adalah cara paling ampuh yang selalu sukses mencampakkan orang lain dalam tanda tanya besar. Seperti apa yang dirasakan oleh Sherin sekarang.


“Apa tak ada tempat sama sekali di hatimu untukku?” Tanya Sherin lebih lanjut dengan suara serak. Bukan untuk merendahkan harga dirinya, tapi demi ikatan suci pernikahan yang ia harap hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Selama ini ia sudah bertahan dalam ketidaknyaman, karena yakin suatu saat semuanya akan indah. Tapi kata-kata Alarick barusan telah memaksanya untuk menyerah.


Bagi Sherin, Percuma ia berjuang, sia-sia ia bertahan, jika pada akhirnya kata “menyerah” yang menjadi pilihan.


Ditanya demikian, Alarick juga tak mampu memberikan jawaban. Hingga Sherin mengatakan, “ gak bisa jawab ya, Mas?”


“Bukan begitu. Terlalu rumit untuk dijelaskan, Rin,” kilah Alarick.


“Apanya yang rumit, Mas. Tinggal bilang saja, bahwa kau mencintainya, menyayanginya, merindukannya, mengharapkannya melebihi apapun dan apalagi, Mas?” cecar Sherin.


“Ini bukan hanya semata-mata tentang cinta, Sherin. Tapi ini tentang rasa bersalah,” tepis Alarick. Tatapannya mengarah tepat pada bola mata Sherin, seakan ingin menunjukkan adanya kesungguhan di sana, sebagai cerminan isi hatinya. Sherin seketika terdiam, bahasa mata dari suaminya itu dapat dipahaminya dengan benar.


“Rasa bersalah?” gumam Sherin lirih, beberapa jenak kemudian.


“Rasa bersalah yang sangat besar, tapi sudah tak bisa menebusnya dengan cara apapun. Itu yang menghantui hidupku selama ini, Sherin,” ungkap Alarick dengan suara pelan.

__ADS_1


“kenapa tidak bisa menebusnya, Mas?”


“Sudah tidak bisa,” sesal Alarick begitu dalam.


Sherin menelisik wajah suaminya yang tanpa diperhatikan dengan seksama pun, di wajah itu tergambar kesedihan yang begitu mendominasi. Sherin menghela napasnya pelan. “Bagilah kesedihanmu denganku, Mas. Bagilah lukamu bersamaku. Ijinkan aku membantu!”


“Tidak, sherin,” tolak Alarick sambil menggeleng singkat. Ia bahkan segera memutar tumitnya hendak berlalu.


“Mas,” cegah Sherin dengan panggilannya. “Aku ini istrimu, aku berkewajiban untuk meringankan bebanmu. Dan isya Allah, aku akan bersabar atas hal apa yang kamu masih belum mampu. Tapi ijinkan aku untuk jadi penopang kesedihanmu, Mas.”


Alarick hanya bisa menatap istrinya itu dengan rasa bersalah yang semakin dalam. Detik berikutnya ia meraih tubuh berbalut gamis coklat tersebut dan dibawanya dalam pelukan. Alarick menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Sherin yang tertutup hijab. Kini beban rasa bersalahnya menjadi berlipat. Belum lagi rasa bersalahnya pada kisah masa lalunya yang belum selesai—atau mungkin tak akan pernah selesai—kini ditambah lagi ia telah membuat seorang yang begitu tulus seperti Sherin terhanyut dalam ketaknyamanan, karena perbuatannya.


“Tidak ada rencana menjenguk Aura hari ini?” tanya Alarick sembari melepaskan pelukan. Ia mengubah topik pembicaraan, karena tak ingin melukai Sherin terlalu dalam. Atau justru, karena tak ingin menenggelamkan diri dalam luka yang masih terpendam.


“Ya, aku ada janji sama Quinsha.” Sherin memerhatikan jam tangannya. “setengah jam lagi, dia akan menjemputku,” imbuhnya.


“Aku yang akan mengantarmu ke sana. Sekalian aku ingin bertemu dengan Damaresh,” putus Alarick.


“Mas tidak akan ke pabrik?”

__ADS_1


“Agak siangan, gak papa.”


“Baiklah. Aku akan memberitaukan Quinsha ... Mas minum dulu kopinya, aku akan bersiap." Sherin segera hendak memutar tumitnya. Tapi Alarick mencegah istrinya itu pergi dengan menahan tangannya.


"Temani aku dulu sebentar, Sherin!"


"Kemana?"


Alarick tak menjawab dan juga tak melepas tangan Sherin. Lelaki itu bangkit dan berjalan keluar menuju teras samping, dengan satu tangan memegang gelas minuman, dan tangan yang lain tak melepaskan tangan istrinya.


"Aku ingin duduk sebentar di sini, temani aku!"


Sherin mengangguk dan segera duduk di samping Alarick yang telah duduk lebih dulu. Lelaki itu memang sering meminta Sherin menemaninya seperti saat ini.


Biasanya ia akan membuka pembicaraan dengan beberapa pertanyaan ringan pada istrinya. Semua itu dilakukan agar Sherin tak merasa diabaikan. Walaupun nyatanya, pintu hatinya telah tertutup rapat, dan kuncinya telah dibuang. Tapi Alarick sadar, Sherin adalah istrinya, dan ia punya kewajiban yang tidak sedikit pada wanita yang telah ia nikahi selama lebih dua tahun itu.


Di rumah sakit.


Aura Aneshka memang telah mendapatkan kesadarannya kembali, berkat cinta yang luar biasa dari sang suami—Damaresh William—kembalinya Aura disambut suka cita oleh semuanya. Bahkan Claudya William—ibunda Damaresh—hari ini juga datang menjenguk Aura. Ia memperlakukan sang menantu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

__ADS_1


__ADS_2