Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 81


__ADS_3

“Saya, Rafasya Aditya Zaidan.”


Suara itu, nama itu, membuat Alarik terhenyak, sesaat suaranya bagai tersumbat, hingga tak mampu melafazkan sebentuk kalimat. Bahkan satu kata pun tak mampu terucap.


Ekspresi dari Alarik ini, Terlewat dari perhatian Sherin dan Quinsha. Karena keduanya kembali melanjutkan cerita yang tertunda. Bahkan ketika Alarik memilih bicara di luar ruangan, Sherin hanya menoleh sekejap saja.


“Ya, Nak.” Hanya demikian kata yang bisa diucapkan oleh Alarik, setelah cukup lama terpaku dalam haru.


“Apa saya mengganggu waktunya?” terdengar tanya dari seberang sana.


“Oh tidak, Nak. Tidak sama sekali,” sahut Alarik segera.


“Bisakah kita bertemu?”


“Bisa, Bisa. Tentu saja bisa. Aku akan datang ke rumahmu sekarang,” ujar Alarik penuh dengan semangat.


“Saya sekarang ada di luar,”


“Di luar? Di mana? Aku akan segera kesana!”


“Rumah sakit TNI AU. Lanud Abdurrahman Saleh.”


Alarik sejenak terdiam mengetahui posisi Rafasya ada di sebuah rumah sakit. Tapi kemudian ia segera mengatakan, “Aku akan segera kesana.”


ALarik tak segera masuk kembali ke dalam ruangan, meski Rafasya telah mengakhiri panggilan telepon. Lelaki itu masih meraba dadanya, bersyukur dalam rasa haru dan bahagia. Meski ia tak tahu apa tujuan anaknya mengajak bertemu, tapi keinginan Rafasya untuk bertemu dengannya, bagi Alarik adalah hal yang sangat luar biasa.


“Sherin aku pamit keluar dulu ya, sebentar,” pamit Alarik pada istrinya.


“Mau kemana, Mas?”


“Ada kepentingan.” Alarik memilih untuk tak memberitahukan yang sebenarnya, karena di sana ada Quinsha juga.


“Ya, pergilah Mas! Mumpung ada Quinsha yang temani aku di sini.”


ALarik tersenyum dan berkata pada Quinsha, “temani Sherin dulu ya.”


“Ya, Pak.”

__ADS_1


********


Lelaki itu bernama Herman. Berusia sekitar 30 tahunan. Sudah cukup dewasa dinilai dari segi usia. Tapi kini ia bersimpuh dengan berderai air mata, kesedihan tiada tara tengah mengungkung jiwanya. Karena sang ayah yang kini tengah berada dalam kondisi meregang nyawa.


“Jika ada yang bisa aku lakukan, walau apapun itu, demi keselamatanmu, akan aku lakukan, Ayah,” rintihnya seraya mengusap air mata.


“Bahkan jika hal itu adalah dengan menukar nyawa,” lanjutnya lagi.


Ayah Herman bekerja sebagai tukang kebun, di rumah salah satu pejabat. Ketika hendak pulang dari pekerjaannya dengan berjalan kaki seperti biasa, ayah Herman menjadi korban tabrak lari. Dan kini kondisinya sedang kritis dan harus segera dioperasi.


Sudah jatuh, tertimpa tangga pula, demikian lebih kurang sebuah perumpamaan untuk Herman. Saat dalam perjalanan dalam kondisi yang panik, setelah mendengar berita sang ayah, Herman menabrak mobil mewah milik Rafardhan, dan harus bertanggung jawab mengurus perbaikan.


Kini ia pun dihadapkan pada sebuah kenyataan, harus segera mendapatkan biaya untuk operasi ayahnya, kalau nyawanya ingin diselamatkan.


“Saya gak bohong ‘kan Mas. Ayah saya beneran ada di rumah sakit,” ucapnya kepada Rafardhan.


Rafrdhan masih menatap lelaki yang baru dikenalnya itu dengan seksama, sebelum mengatakan, “Mas Herman, sangat menyayangi ayahnya, ya.”


“Dia penyebab saya ada di dunia ini, Mas. Se tidak beruntung apapun kehidupan saya di dunia yang hanya sebagai kuli bangunan ini. Tapi saya sangat menyukuri hidup saya. Bagi saya hidup saya ini indah. Kalau saya tidak menyayangi ayah dan ibu saya, artinya saya melupakan dua orang yang menjadi penyebab hidup saya ada.”


Jangan heran, bila kalimat—yang sederhana menurut Herman—mampu menghipnotis Rafardhan. Hatinya bukan hanya merasa tercubit, tapi juga tersindir telak. Betapa ia selama ini telah sangat membenci papanya, yang telah menjadi penyebab, adanya dia di dunia ini.


Sedangkan hidupnya puluhan kali lebih indah dari pada Herman. Tapi ia terlupa untuk mensyukurinya, hanya karena jiwa telah terikikis oleh kebencian yang begitu dalam.


Memang ihwal kebencian itu datang, karena informasi yang tidak benar. Tapi sekarang, Rafardhan telah mengetahui kebenarannya. Namun, ia malah memilih menghindar.


Dari seorang Herman ia tersadarkan. Bahwa banyak hal yang seharusnya ia lakukan tapi tak dijalankan.


Herman dengan hidupnya yang serba kekurangan, sangat menyayangi ayahnya begitu dalam. Sedangkan Rafardhan yang hidupnya bergelimpangan kemewahan, malah menganggap, kehadiran papanya tak lagi dibutuhkan.


Apakah arti seorang ayah dalam hidupnya, bisa ia tukar dengan harta benda yang ia punya?


Tidak.


“Permisi, Mas. Saya mau usaha cari uang buat biaya operasi bapak,” pamit Herman, dan lelaki itu berdiri untuk gegas pergi.


“Mau cari di mana, Mas?”

__ADS_1


“Mau cari hutangan dulu ke tempat kerja saya. Mudah-mudahan bisa,” harap Herman.


“Gak usah, Mas Herman!” cegah Rafardhan. Pemuda tampan itu segera ikut berdiri. “Saya yang akan membayar semua biaya operasi ayahmu.”


“Hah?!” Herman ternganga heran. Tak hanya mulutnya, sepasang matanya juga hampir membulat sempurna mendengar penuturan dari Rafardhan.


“A-apa sa-saya tidak salah dengar, Mas?” tanya Herman terbata. Wajar jika ia belum percaya sepenuhnya pada apa yang ia dengar.


“Mari kita temui dokter, Mas Herman. Agar ayahmu segera bisa dioperasi.”


Bukannya mengiyakan ajakan dari Rafardhan, Herman malah segera bersimpuh, bersujud syukur dengan bahu yang sesenggukan. Setelah itu ia mencium tangan Rafardhan berkali-kali dengan air mata yang berlinangan. “Ayah,” desisnya penuh haru seiring harapan yang sangat besar tersusun dalam jiwa, kalau sang ayah akan kembali lagi bersamanya.


Melihat semua sikap Herman, satu wajah tiba-tiba hadir di pelupuk mata Rafardhan. Wajah, yang darinya ia mendapatkan warisan ketampanan. Tetiba saja, rasa rindu menyerang seakan menghimpit tulang. Hingga tangannya tergerak untuk meminta nomer telepon papanya itu pada ayah Rendi.


Dengan sangat antusias serta rasa bahagia yang meluap, Rendi pun memberikan nomor telepon Alarik pada Rafardhan.


Ya. Inilah cara Allah membuka mata hati Rafardhan. Dengan tanpa diduga, ia dipertemukan dengan Herman. Seorang lelaki biasa, yang bekerja sebagai kuli bangunan. Namun, ia bisa menginspirasi seorang Rafardhan. Dan membuka kesadarannya bahwa ia masih punya orang tua kandung yang harus ia jaga dan disayang.


“Raf, jadwal penerbangan kita tinggal 45 menit lagi dari sekarang.” Adam mengingatkan Rafardhan yang baru saja keluar dari ruangan dokter bersama Herman.


“Lu, ke bandara duluan, Mas!” titah Rafardhan. “Ntar gue nyusul,” lanjutnya.


“Lu, bisa terlambat.”


“Gak papa, gue ambil penerbangan berikutnya,” putus Rafardhan.


“Giamana, sih Raf?”


“Gue mau selesaikan urusan ini dulu. Nolong orang itu gak boleh setengah-setengah ‘kan? Sana! Lu balik aja duluan, Mas!” Dan Rafardhan segera berlalu. Adam tak bisa apa-apa sekarang selain mengikuti kemauan pemuda tampan itu.


ALarik memacu mobilnya cukup kencang. Semangat yang berkobar dalam dada, membuat hasratnya sangat menggebu untuk sampai di tujuan. Dan alam juga seakan turut memberi kesempatan, dengan lajur jalan yang dilalui cukup lengang, hingga lelaki itu dapat memaju laju kuda besinya dengan kecepatan cukup maximal.


Menapaki halaman rumah sakit yang dimaksud, lelaki itu seperti ingin berlari saja ke dalam. Agar segera berjumpa dengan yang sudah menunggunya dan yang sangat diharapkan. Hingga Alarik terlupa untuk kembali menelepon Rafardhan, guna bertanya di mana tepatnya, posisi ia berada sekarang.


Bagai seorang yang tengah mecari jarum di tumpukan jerami, Alarik terus melangkah sambil menoleh kanan kiri. Napas yang memburu dan sepasang kaki yang kelelahan, tak ia peduli. Satu yang dikhayalkan dapat segera bertemu sang buah hati.


Langkah Alarik terhenti di depan ruang administrasi. Di mana terlihat seorang pemuda tampan keluar dari sana sambil membawa beberapa lembar kertas. “Raf-Rafasya!” panggilnya dengan suara tercekat.

__ADS_1


__ADS_2