
Quinsha masih memerhatikan sepatu berwarna hitam dengan model yang sangat cantik dan Elegant—model, yang munafik rasanya bila dia bilang tidak suka—apalagi warnanya hitam, warna favorit Quinsha.
“Ini berapa?” tanyanya pada Rafardhan yang mulai menjalankan mobilnya kembali.
“Sepasang,” singkat Rafardhan.
“Maksud saya harganya,” kata Quinsha.
Rafardhan hanya mengedikkan bahunya santai, tak memberikan jawaban.
“Gimana saya mau bayar hutangnya nanti, kalau harganya saja saya gak tau.”
“Pakai saja! Nanti kaki kamu keburu lecet.” Rafardhan malah berkata lain.
“Ok.” Quinsha patuh, ia segera memakai sepatu itu yang memang sangat pas dan terlihat cantik membalut sepasang kakinya.
Rafardhan yang melihat hal itu juga memberikan penilaian. “Bagus.”
“Terima kasih,” sambut Quinsha.
“Maksud saya, saya punya selera yang bagus juga bisa memilihkan kamu sepatu yang pas dan cantik begitu di kakimu,” ralat Rafardhan.
“Oh.” Quinsha segera menunduk dengan rasa malu karena telah salah menanggapi ucapan Rafardhan itu. Tanpa ia sadari, lelaki di sampingnya tersebut diam-diam tersenyum sambil melirik Quinsha dengan ujung mata.
Tak seberapa lama, mobil sudah menapaki jalan yang menuju ke rumah Quinsha. “Sampai di sini saja, rumah saya sudah dekat,” kata gadis itu.
“Saya antarkan sampai ke rumah kamu.”
“Gak papa kok, sampai sini aja,” desak Quinsha.
“kenapa? Apa kamu takut suami kamu marah, kalau lihat kamu pulang sama saya?”
“Bukan itu.” Quinsha menggeleng cepat.
__ADS_1
“Lalu?”
“Saya gak siap dengar teriakan histeris tetangga saya, bila lihat kamu,” kelit Quinsha. Yang sebenarnya ia takut untuk menghadapi sesi interogasi dari ibunya, bila melihat ia pulang diantar oleh seorang pria, pakai mobil mewah lagi.
Karena tadi, Quinsha beralasan akan pulang bersama teman naik taksi.
“Saya gak akan turun, saya juga buru-buru.”
“Baiklah.” Quinsha mengangguk lega. Ia sempat kebingungan tadi, antara mau mengajak Rafardhan mampir atau tidak. Tidak diajak mampir, dirinya telah ditolong oleh pemuda itu, akan sangat tidak sopan jika ia tidak menyilakan Rafardhan untuk hanya sekedar singgah saja di rumahnya.
Tapi di satu sisi, ia juga tidak tahu harus memberi alasan apa pada ibunya, jika sampai Rafrdhan berkenan singgah.
“Itu rumah saya di depan!” tunjuk Quinsha pada sebuah rumah berpagar besi warna putih, terlihat paling megah di antara rumah-rumah yang lain. Rafardhan menghentikan mobilnya tepat di depan pintu pagar yang sedikit terbuka.
“Kamu tidak mampir?” tanya Quinsha berbasa-basi. Karena sudah jelas tadi, kalau Rafardhan bilang sedang terburu-buru. Tapi apa jadinya Quinsha, jika ternyata pemuda itu mengiyakan tawarannya.
“Belum siap,” sahut Rafardhan.
“Saya belum siap untuk diinterogasi keluarga kamu,” kata Rafardhan sambil terkekeh.
“Tau saja kamu, kalau memang itu yang bakal terjadi,” sambut Quinsha diiring tertawa renyah.
“Kamu, lebih cantik bila tertawa begitu, Quin. Dari pada menangis seperti tadi,” ungkap Rafardhan. Hal mana membuat Quinsha segera menghentikan tawanya dan terdiam untuk sesaat. Hampir saja keheningan kembali menyerang, jika Quinsha tak segera mengubah haluan pembicaraan.
“Saya tunggu klarifikasi kamu tentang berita yang sudah tersebar belakangan ini.”
“Ya,” jawab Rafardhan singkat.
“Dengan berita itu, saya benar-benar merasa tidak nyaman. Harusnya dari awal kamu sudah memberikan klarifikasi, bukan baru sekarang,” tandas Quinsha.
“Saya minta maaf.” Rafardhan hanya kembali berkata singkat.
“Terima kasih untuk semuanya. Dan maaf sudah merepotkan.” Quinsha segera hendak membuka pintu mobil, namun urung dilakukan karena ucapan Rafardhan.
__ADS_1
“Suatu saat, saya akan singgah, Quin. Setelah saya siap.”
“Siap untuk?”
“Melamar kamu.”
“Gak lucu,” sergah Quinsha.
“Saya memang bukan artis komedi,” sahut Rafardhan.
“Nah itu tau. Makanya jangan melucu!” Quinsha segera membuka pintu mobil bersamaan dengan tubuhnya yang segera beringsut turun.
“Satu hal, suami saya belum ada di rumah,” kata Quinsha sebelum menutup pintu mobil itu lagi.
“Ada di mana?” tanya Rafardhan dengan raut wajah serius.
“Masih ada dalam doa saya,” sahut Quinsha sambil tersenyum dan segera menutup pintu mobil itu. Sekilas terlihat kalau Rafardhan mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan Quinsha itu. Sedangkan gadis itu sendiri segera bergegas masuk melewati pagar rumahnya.
“Quinsha!” panggilan ibunya langsung terdengar membahana. Wanita baya yang sudah menanti kedatangan putrinya di teras rumah itu gegas menyongsong putrinya dan membawa tubuh sang gadis dalam pelukan.
Rafardhan melihat semua itu sekilas, sebelum mobil mewahnya melaju, membelah jalanan ke arah tempat tujuan berikutnya.
“Kenapa suka sekali bikin umi cemas?” sebuah teguran manis diucapkan oleh ibunya pada Quinsha.
“Maafkan, Sha. Ummi,” lirih Quinsha sambil mencium punggung tangan ibunya berkali-kali.
“Segera kabari Sherin dan Aura, kalau kamu sudah ada di rumah!”
“Sherin dan Aura ... mereka tau?”
“Iya, ummi tadi sempat tanya kamu pada mereka.”
Quinsha segera mengangguk dan gegas masuk ke rumah bersama ibunya.
__ADS_1