Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Bab 5


__ADS_3

Untuk kepentingan shoting web serial yang sedang dibintanginya, Rafardhan berada di kota Malang untuk beberapa waktu. Di sana, Dia difasilitasi sebuah vila mewah lengkap dengan dua orang pelayan untuk menyiapkan segala keperluannya.


“Apa sih mau lu, Raf? Asli, kalau bukan karena mikirin bini gue bakal lahiran tanpa didampingi suami, gue mau patahin leher lu dengan sekali plintir aja rasanya.” Bukannya mengucapkan selamat pagi atau kalimat manis sekedar basa-basi, mas Adam langsung menyemburkan larva panasnya, selayaknya gunung berapi yang lagi erupsi.


Rafardhan hanya menoleh sekejap pada sang manajer, lalu menaikkan satu kakinya ke atas kursi, menyusul sebelah kaki yang sudah bertengger di sana lebih dahulu. Posisi yang lebih santai di dapatinya sekarang. Dan kini ia siap mendengarkan semua ocehan mas Adam.


“Lu dengar gue, gak?” mas Adam jadi berang dengan kelakuan artisnya ini.


“Apalagi Mas? Ok gue ngaku. Dalam fotoshoot kemarin gue mang telat hampir setengah jam. Tapi acara itu tetap berjalan, dan aman.” Rafardhan mengedikkan bahunya santai. Tangan lelaki muda itu segera meraih Earphone yang sempat terlepas dari genggaman, gara-gara semburan Mas Adam yang hampir saja membuat barang-barang di dekatnya beterbangan.


“Nah untuk itu juga gue perlu ingetin lu. Profesional, Raf! Lu jangan ancurin imej lu di mata publik.” Mas Adam menarik kaki Rafardhan dari atas kursi. Lelaki ganteng itu mengaduh kecil.


“Wahh, KDRT ini, Mas,” protes Rafardhan. Tapi mas Adam tidak peduli, ia segera memutar kursi tersebut dan mendudukinya sendiri.


“Lu jalan ke mol bareng Ayunda. Jangan pikir gue gak tau!” tuding Mas Adam, bukan pakai telunjuk, tapi pakai gulungan tabloid yang ia pegang. Sudah dua hari mas Adam menyimpan rasa jengkel pada Rafardhan karena tiba-tiba saja hilang dari Hotel Aston tempat di mana acara Fotoshoot itu akan dilakukan.


Mas Adam harus mondar-mandir layaknya strikaan sibuk mendeteksi keberadaan Rafardhan dengan ponsel pintarnya, telepon sana sini, bertanya sana-sini, karena artisnya itu tak mengangkat teleponnya sama sekali. Dan mas Adam seketika merasa masalah itu selesai saat Rafrdhan datang. Walau dalam hati ia menyimpan sebaris khotbah yang perlu disampaikan pada Rafardhan, karena dari seorang informan ia tau, kalau lelaki ganteng itu jalan bersama Ayunda di sebuah Mal.


Mas Adam tak habis pikir, seberapa tak cerdasnya Rafardhan, kenapa malah memilih tempat keramaian seperti itu untuk berjalan dengan seorang model majalah pria dewasa yang belakangan ini sedang digosipkan dengan dirinya. Sedangkan Rafardhan sendiri saat ini sedang membintangi sebuah web serial cerita religi –di mana dia menjadi seorang tokoh alim di sana. Secara logika, kedekatannya dengan Ayunda akan menumbangkan image baik yang sedang melekat padanya. Begitu menurut mas Adam.


Nyatanya, masalah tak selesai sampai di sana. Usai fhotoshot itu, Rafardhan melaporkan kehilangan dompet yang entah jatuh di mana. Padahal ada lebih dari satu kartu kredit di dalamnya. Ditambah lagi beberapa ATM dan sejumlah uang tunai.


Mas Adam harus menunda lagi untuk memberikan khotbahnya karena masih mengurusi itu semua. Tak hanya itu, keesokannya Rafardhan juga mangkir dari acara kunjungan ke sebuah yayasan, yang mana hal tersebut juga untuk kepentingan syuting. Ternyata benar, bukan Rafardhan namanya kalau tak berhasil membuat mas Adam pusing.


“Lah mau gimana lagi, Mas? Udah gue lakuin juga.” Lagi-Lagi Rafardhan memberikan jawaban santai. Semua peristiwa yang disebutkan mas Adam dalam rentetan khotbahnya itu, sudah berlalu. Mau diulang lagi, juga sudah tak mungkin. Jadi untuk apa dibahas dan dipermasalahkan. Begitu menurut pemikiran simple seorang Rafardhan.

__ADS_1


Sungguh saat ini, laki-laki tampan rupawan itu tak ingin membebani dirinya dengan peraturan apa pun. Ia ingin menikmati kebebasannya untuk bisa melakukan segala hal yang dia mau. Walau ia tahu, semua itu hampir tak mungkin. Sebab, ia telah menggantungkan kebebasannya di bawah aturan agensi dan Manajemen artis. Dan salah satunya, adalah Mas Adam


“Gue gak peduli Raf, Lu mau ada hubungan beneran ma dia atao kagak. Tapi buat saat ini, setidaknya sampek web serial lu kelar, jaga imej lu sebagai artis yang kalem dan alim. Jangan sampek rating cerita ini turun gara-gara lu terlibat ama Ayunda itu!” Ancam Mas Adam penuh keseriusan. Ia sudah merasa cukup lelah klarifikasi sana-sini terkait hubungan Rafardhan dengan model panas tersebut. Langkah tepat saat ini adalah meng-ultimatum Rafardhan. Semoga saja mempan. Harap mas Adam.


Rafardhan menghembus napasnya pelan. Hal ini yang sebenarnya sangat tidak ia sukai ketika namanya sebagai artis muda sudah melambung tinggi. Ia hampir tak punya privasi. Bahkan untuk berjalan dengan orang lain saja, harus mengikuti aturan dari agensi. Tapi jauh sebelum semua ini terjadi, Rafardhan sudah tau kalau ini bakal menjadi konsekuensi setelah ia tenar nanti. Maka kini, mau marah atau tidak terima itu sudah tak bisa lagi. Hidup Rafardhan sudah dipegang dan diatur oleh mas Adam selaku manajernya saat ini.


“Ok, Mas. Gue mau mandi dulu.” Rafardhan segera berdiri dari duduk santainya. Ia ingin segera mengakhiri kuliah tuju menit mas Adam itu dengan ritual mandi.


“Gue belum selesai,” cegah mas Adam dengan mimik wajah sangat serius.


“Udah panjang lebar juga khotbahnya, masih ada yang ketinggalan?” cebik Rafardhan.


“Nih lihat!” Mas Adam melemparkan gulungan tabloid yang dipegangnya dari tadi.


“Apaan?” Rafardhan hanya menatap sekilas, terlihat malas untuk hanya sekedar melihat apalagi membaca.


“Udah biasa kali, Mas. Apanya yang aneh?” Rafardhan terlihat ogah-ogahan. Sebagai artis terkenal, wajar jika namanya selalu muncul di halaman utama media cetak. Bahkan dengan itu akan semakin membuat popularitasnya terdongkrak. Aneh sekali jika mas Adam justru mempermasalahkan.


“Wah! Beneran minta gue plintir nih anak.” Mas Adam menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya bersedekap di depan dada. Tatapannya mengarah tajam pada Rafardhan. Kalau sudah seperti ini, keseriusan mas Adam tak perlu dipertanyakan lagi.


Rafardhan segera meraih tabloid itu. Di halaman utama terpampang foto dirinya bersama wanita cantik berhijab. Sebuah tulisan besar berwarna hitam pekat terpampang di atas gambar tersebut dengan sangat jelas.


ARTIS RAFARDHAN MALIK KEPERGOK JALAN BERDUA DI MAAL DENGAN SEORANG HIJABERS CANTIK. SIAPA DIA?


Rafardhan meletakkan tabloid itu lagi, tak ada expresi apa-apa yang dapat terbaca dari wajahnya. Kecuali tetap tenang dan santai.

__ADS_1


“Dia siapa?”


“Gue gak kenal.”


“Lu bilang gak kenal? Tapi berpose kayak gitu? Bilang ke gue, kali ini lu bikin masalah apalagi sih, Raf?”


“Beneran gue gak kenal, Mas. Gue gak sengaja nubruk dia saat gue ngehindarin kejaran wartawan yang mergokin gue bareng Ayunda”


“Lalu?”


“Gue numpang di mobilnya dia, waktu balik ke hotel. Tapi gue bahkan gak tau siapa namanya. Asli.”


“Terus sekarang gue musti klarifikasi gimana?”


“Napa nanya ke gue? Itu kan dah keahlian mas Adam.” Rafardhan mengedikkan bahunya dengan santai. Seperti ini salah satu sisi enaknya jadi artis. Selain segala keperluan ada yang mengurusi. Dan juga Tiap kali membuat masalah, ada manajernya yang mengatasi.


Di sisi ini, terkadang mas Adam juga merasa iri pada Rafardhan. Ingin sesaat saja berada di posisi lelaki itu. Tapi atas nama apapun, sebenarnya mas Adam itu menyayangi Rafardhan seakan adiknya sendiri. Dalam setiap aturan yang ia buat untuk artis muda rupawan itu, bukan hanya semata-mata untuk karir keartisannya saja. Tapi juga demi kebaikannya.


“Tapi kalo menurut gue, Mas Adam gak perlu klarifikasi tentang ini,” usul Rafardhan tiba-tiba.


“Maksud lu?”


“Ya hitung-hitung berita ini bisa nutupin kabar kedekatan gue ama Ayunda. Mas Adam, kan yang minta gue nyiptain imej yang baik selama web series ini. dengan gue dekat ama cewek berhijab, kan itu juga bisa ikut mencetak imej alim ke gue, Mas.”


Mas Adam terdiam sesaat mendengar celoteh Rafardhan. Namun kemudian ia arahkan telunjuk jarinya pada Artis muda tampan itu. “Tumben kali ini lu berpikir bener,” ujarnya sambil ketawa lebar.

__ADS_1


“Yaelah, gue selalu berpikir benar kali. Gue yang berpikir salah tuh, pas gue nunjuk Mas Adam sebagai manajer gue,” ucap Rafardhan dengan tanpa rasa berdosa sedikit pun.


“Lu bilang apa?” Adam segera naik pitam dan hampir mendaratkan pukulan pada Rafardhan dengan tabloid di tangan. Tapi lelaki itu segera menghindar seraya tertawa lebar.


__ADS_2