Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 106


__ADS_3

“Aku tidur di kamarmu aja, Raf.”


“Apa?”


“Kita tukeran kamar.” Dan tanpa menunggu jawaban dari Rafardhan Hanum segera melenggang menuju ke kamar lelaki itu yang memang berada di koridor yang lain, meski di lantai yang sama.


“Hanum tunggu!” Rafardhan segera menyusul wanita itu yang sudah hampir mencapai pintu kamar Rafardhan. “Kamu tukeran kamar sama yang lain aja.”


“Plis, Raf. Malam ini aja. Aku benar-benar trauma gak mau balik ke kamarku. Mana kepalaku sangat pusing sekali.” Sepasang mata Hanum terlihat berkaca-kaca. Ia terlihat begitu depresi dengan gangguan-gangguan yang sering dialaminya malam ini.


“Kalau kamu gak mau tidur di kamarku. Kamu bisa tidur dengan Mas Adam dulu malam ini.” Dan Hanum segera masuk ke kamar itu tanpa basa basi lagi.


Rafardhan menghembus napasnya kasar. Ia jelas tidak suka dengan sikap Hanum ini. Tapi atas nama kepedulian sesama rekan, dia pun mau menuruti.


RAfardhan ikut masuk ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dulu sebelum numpang tidur di kamar Adam. Terlihat Hanum sudah naik ke atas tempat tidur dan sudah menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang dipakai oleh Rafardhan. “Aku suka wangi parfummu Raf,” ucapnya.


Rafardhan hanya menatap sekilas, lalu meraih ponsel di atas nakas dan segera hendak bergegas. Namun, terdengar Hanum mengaduh cukup keras. “Kenapa?”


“Perutku mendadak sakit.”


“Gak telat makan?”


“Aku mang belum sempat makan sih, tadi nyampai kamar langsung tidur aja.” Hanum memang kembali lebih dulu dari lokasi Syuting, karena sinnya sudah selesai lebih dulu. “Kamu ada sedia makanan, gak Raf? Biar aku masak lebih dulu.”


“Emang bisa masak?” Rafardhan terlihat tak yakin dengan ucapan Hanum itu. Dan benar saja, wanita cantik itu hanya tertawa renyah memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.


“Aku gak yakin masih ada persediaan makanan. Kamu pesan layanan kamar aja.” Rafardhan segera berniat teruskan langkahnya keluar kamar. Bersamaan dengan Hanum yang segera beringsut hendak turun dari ranjang. Tapi lagi-lagi wanita itu mengaduh kuat.


“Kenapa lagi?”

__ADS_1


“Aduh sumpah perutku sakit banget, Raf. Aku gak kuat gerak nih.” Hanum menunduk menekan perutnya kuat.


“Aku bangunkan asistenmu ya.” Rafardhan berkata begitu dengan tetap berdiri di posisinya.


“Boleh. Tapi bisa ambilkan air minum dulu, gak?” pinta Hanum sambil berdesis menahan sakit.


“Ok.” Rafardhan segera menghilang sesaat dan kembali lagi dengan segelas air minum di tangannya. Hanum masih tetap duduk dengan posisi membungkuk menekan bagian perutnya. “Ini airnya, Num.”


Hanum hanya mengangguk. Rafardhan segera berinisitif membantunya minum. “Kamu tidur aja, aku panggilkan asistenmu dulu.”


Hanum mengangguk patuh, ia segera merebahkan tubuh. Rafardhan pun gegas menuju pintu. Tapi dua langkah sebelum mencapai pintu, malah terdengar ada yang mengetuk dari luar.


Rafardhan sontak menghentikan langkah. Sudah hampir jam 3 dini hari, siapa yang datang dan mengetuk pintu kamarnya. Lelaki itu bertanya-tanya dalam hati.


Ketukan pintu terdengar lagi dan lebih keras dari sebelumnya. “Siapa yang datang, Raf?” tanya Hanum dari balik selimut.


“Kami petugas dari kepolisian. Kami mendapat laporan kalau dalam kamar ini sedang ada pesta narkoba.”


“pesta narkoba? Yang benar saja,” decak Rafardhan, ia terlihat sangat terkejut sekaligus ingin tertawa. Tapi ekspresinya ini tak mendapat sedikit pun perhatian dari polisi. Mereka terus maju untuk tunaikan tugasnya.


“Mohon ijin untuk memeriksa.”


“Silakan!” Rafardhan santai saja, karena segala apa yang disebutkan itu jauh dari dirinya. Tak ada pesta di kamarnya, apalagi yang terkait dengan narkoba. Yang ada malah Hanum yang sekarang menjajah kamar Rafardhan dan mengusir pemiliknya keluar.


Hanum berdiri di samping Rafardhan sambil menahan sakit, saat tiga orang petugas menggeledah setiap sudut dalam kamar itu. “Perasaanku gak nyaman, Raf,” ucapnya lirih.


Rafardhan tak menanggapi. Ia yang awalnya tenang-tenang saja—karena memang tak melakukan apa-apa—kini juga mulai dihinggapi perasaan yang tak nyaman. Dan benar saja, sebuah serbuk kemasan ditemukan di bawah bantal tidurnya. Setelah diperiksa oleh komandan satuan itu, mereka saling memberi isyarat bahwa itu adalah barang bukti yang telah mereka cari.


Maka semua pasti sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Hanum dan Rafardhan pun digelandang ke kantor polisi.

__ADS_1


**************


Rafardhan mengakhiri ceritanya sambil mengusap wajah berkali-kali.


“Fix, lu dijebak,” cetus Adam segera. “Dan mungkin Hanum juga terlibat,” lanjutnya lagi.


“Dia juga ditahan, Mas.”


“Dia sudah bebas tadi pagi, dan hanya dikenakan wajib lapor,” kata Adam.


“Apa?” Rafardhan tampak heran. Sementara Quinsha hanya bisa mengusap air matanya berkali-kali, karena titik bening itu senantiasa keluar tanpa henti.


“Hasil tes urine kalian sama-sama dinyatakan negatif. Tapi hanya lu yang tetap ditahan, sedangkan Hanum bisa keluar,” ucap Adam dengan nada geram.


“Mungkin karena barang bukti ditemukan di kamarku,” ucap Rafardhan dengan lesu.


“Tapi kamu gak mengonsumsi itu, kan?” tanya Quinsha dengan suara bergetar. Rafardhan menatap istrinya itu lembut dan menggeleng pelan.


*****


******%%


**********


sudah gak digantung lagi kayak jemuran kan? sekarang mumpung masih pagi dan mentari berseri pagi ini, jemuran yang tak kering bisa segera dikeluarkan..


mudah2an nanti ketemu lagi, sambil kalian melipat jemuran yang udah kering itu, sambil lanjut baca cerita Rafa. jangan lupa like komen dan vote nya ya...biar jari-jariku ini gak menjerit waktu diajak ngetik...biar dia semangat dapat gift dari para pembaca..


love u All

__ADS_1


__ADS_2