
Arrgghhh
Nataniel mengusap wajahnya kasar sambil mengerang frustasi. Dia lalu berdiri dengan berkacak pinggang melihat layar laptop tersebut dan menuju jendela kamar, memukul tembok dengan keras. “Sialll,” umpatnya tajam.
Hanum memerhatikan itu dengan kening berkerut beberapa tingkat. Perhatiannya lalu beralih pada laptop Niel yang masih terbuka. Hanum beringsut turun dari posisinya yang bak ratu di atas ranjang. Ia duduk menghadapi laptop itu dan mulai melihat apa saja isi USB yang telah membuat Niel terlihat panik dan kalut.
Dalam rekaman menunjukkan sebuah peristiwa di lobi sebuah hotel. Terlihat dua orang lelaki yang berbicara dengan Resepsionist wanita yang berdandan cantik dan memesona. Sepertinya masih terjadi negosiasi lebih dulu di antara ketiganya. Dan ternyata dua lelaki yang menutupi sebagian wajahnya dengan topi itu adalah negosiator handal, karena Resepsionist cantik itu segera menuruti permintaan mereka dengan memberikan kunci kamar.
Hanum memerhatikan bentuk lobi hotel itu yang sepertinya sangat ia kenal. Wajah cantiknya jadi melongo saat melihat siluet dirinya, juga ada dalam rekaman tersebut dan tengah berjalan melintasi dua orang lelaki itu—yang masih bicara dengan sang Resepsionist—menuju lift untuk naik ke kamarnya.
“Ini hotel di Bali, tempat kejadian itu,” monolog Hanum dengan sangat lirih. Ekor matanya menatap Niel yang masih berdiri membelakanginya menatap ke luar jendela.
Selanjutnya dalam video itu, terlihat dua orang laki-laki itu menuju sebuah kamar yang diyakini Hanum sebagai kamar yang ditempati oleh Rafardhan. Seorang di antara mereka masuk dan seorang lagi menunggu di luar dengan posisi siaga.
Degg. Perasaan tak nyaman tiba-tiba menguasai jiwa Hanum saat melihat hal itu, seiring debar jantung yang tak beraturan. Sepasang matanya semakin awas melihat pada video itu, dimana kini tengah memperlihatkan aktivitas seorang yang masuk ke dalam kamar Rafardhan.
Suasana terlihat remang, karena lampu kamar tidak dinyalakan. Tapi Hanum melihat dengan jelas ketika laki-laki tak dikenal itu meraih bantal di ranjang tidur Rafardhan yang memang memakai tilam berwarna putih.
Hanum meraba dadanya, kini semua peristiwa yang terjadi padanya dan Rafardhan—yang membuat keduanya digelandang menuju kantor polisi—terbayang semuanya dengan sempurna. Keringat dingin membasahi kening wanita cantik itu.
“Jadi, ini semua adalah jebakan, Niel?” Suara Hanum terdengar menggelegar saat mengajukan pertanyaan.
NIel menoleh dan kini ia harus merutuki kebodohannya lagi, kenapa membiarkan laptopnya tetap terbuka, sehingga Hanum dapat melihat rekaman video itu juga. Niel mendesis tertahan, mana kala melihat sepasang mata Hanum menatapnya dengan nyalang.
“Honey, itu ...”
“Dan kamu yang berada di balik semua ini, iya?!” sentak Hanum. Niel harus menelan salivanya melihat ekspresi kemarahan yang terpancar nyata di wajah Hanum.
“Aku bisa jelasin.” Niel melangkah menghampiri.
“Dan termasuk aku, kau pun menjebakku?” Suara Hanum bergetar, kini sepasang matanya melihat kelanjutan dari video itu yang menampilkan dua orang lelaki tersebut sama-sama telah meninggalkan kamar Rafardhan. Yang satu terus berlalu, sedang yang satu masih bicara pada seorang pelayan hotel yang sedang membawakan pesanan untuk Hanum di kamarnya.
__ADS_1
Malam itu, Hanum memang pulang lebih awal dari lokasi Shooting ketimbang Rafardhan. Di samping sinnya sudah selesai, wanita itu juga merasa sedikit tidak enak badan. Sampai di kamar ia memesan minuman hangat. Tapi setelah meminumnya ia malah segera tertidur dan bermimpi menyeramkan.
Bahkan mimpi itu seperti terus berlanjut saat ia sudah terjaga. Hanum seperti melihat bayangan-bayangan menyeramkan di jendela kamarnya. Karenanya ia bergegas keluar kamar dan berpapasan dengan Rafardhan. Di saat itulah ia membujuk lawan mainnya itu untuk bertukar kamar.
Kini Hanum sudah tahu jawabannya—mengapa ia sampai berhalusinasi melihat penampakan menyeramkan—setelah melihat video itu. Di mana salah satu lelaki di sana menuangkan serbuk putih pada minuman yang dipesan Hanum, di hadapan petugas kamar itu sendiri yang hanya terdiam, karena telah dibungkam oleh lelaki tersebut dengan sejumlah uang.
“Ini.” Hanum menunjuk rekaman itu dengan napas memburu. “Apa penjelasanmu tentang ini!”
Niel hanya bisa menghempaskan napas kasar seraya membuang pandangan ke sembarang arah.
“Kenapa, Niel? Kenapa?” cecar Hanum meminta penjelasan.
“Demi kamu, Honey,” jawab Niel.
“Demi aku? Dengan menjebakku juga?” cibir Hanum diiring tawa miris.
Niel menggeleng pelan. Diikutkannya Hanum sebagai korban sebenarnya adalah trik agar tak ada tuduhan yang mengarah pada Niel. Setelah Rafardhan tertangkap, opini pasti terus bergulir dan semakin liar, terutama di kalangan sesama artis dan Agency film yang menaunginya.
Maka atas tertangkapnya Rafardhan atas sebuah kasus narkoba—padahal sebelumnya Rafardhan dinilai bersih dari pemakaian barang haram tersebut—beberapa pihak akan menganggap ini hanya sebuah permainan. Kemudian dugaan akan mengarah pada Niel yang dianggap memiliki motif untuk menjebak Rafardhan.
Atas hal itulah, Niel mengikut sertakan Hanum dalam misi itu tanpa sepengetahuan kekasihnya tersebut. Agar namanya bersih dari dugaan.
“Aku melakukan semua ini karena tak ingin kehilanganmu, Honey,” ucap Niel dengan suara merendah.
“Hah? Bisa diperjelas maksudnya,” desak Hanum dengan tatapan tetap berselimut amarah.
“Karena projeck film itu kamu semakin dekat dengan Rafardhan. Sering jalan bersama dan ...”
“Niel!” Hanum setengah teriak membuat Niel seketika bungkam. “Kita hidup di dunia yang sama, Niel. Kamu pasti sudah tau tujuannya, kenapa aku dan Rafardhan harus menjalin kedekatan. Dan kami, setiap berjalan bersama tak pernah hanya berdua saja. Ada manajer masing-masing yang posisinya menjaga jarak dengan kita.” Hanum menarik napasnya kuat dan menghempaskannya dengan kasar.
“Harus ya, aku jelaskan semuanya. Sementara kamu sudah paham.” Hanum melanjutkan ucapannya dengan tatapan penuh kekecewaan.
__ADS_1
“Tapi kamu terlalu menjiwai itu,” kilah Niel.
“Oh jadi, kamu meragukan aku? Tak cukup ya aku menjadi p-e-l-a-c-ur-mu selama ini, tak cukup Niel?”
“Apa? Kenapa kau sebut dirimu sekotor itu, Honey.” Niel terlihat tidak terima atas ungkapan Hanum atas dirinya sendiri.
“Lalu apa namanya bagi seorang wanita yang kapan saja kau buat mengangkang di depanmu tanpa hubungan yang jelas? Hubungan atas nama cinta? Suka sama suka? Bulshit.” Hanum membuang pandangan dengan cepat seiring sepasang matanya yang berkaca-kaca.
Sudah sering ia meminta kejelasan hubungan mereka pada Neil. Bagaimana pun bagi seorang Hanum, ia tak ingin menjadi pacar abadi Niel, ia butuh ikatan yang lebih kuat, yaitu sebuah pernikahan. Hanya tinggal akad saja yang belum mereka lakukan, sedangkan aktifitas suami istri yang lain, sudah menjadi makanan keduanya tiap kali bersama.
Tapi jawaban Niel selalu nanti dan nanti saja. Tak memberi kejelasan, dan tak pernah memberi kepastian. Dan Hanum tetap setia menanti meski tahun demi tahun telah terlewati.
Tak cukupkah kesetiaan yang ia persembahkan untuk Nataniel, sang kekasih hati? Mengapa pria itu kini tega menjebaknya dengan Rafardhan hingga harus berurusan dengan polisi. Meski Hanum dinyatakan tak bersalah dan segera dibebaskan, tapi tetap saja nama besarnya sudah ternodai.
Wajar jika kini wanita itu meradang dan memuntahkan kemarahan tanpa henti.
Niel sendiri hanya bisa menahan napas. Di satu sisi ia merasa bersalah pada Hanum, di sisi yang lain, ia pun kian merutuki kebodohannya sendiri.
Hanum tidak tahu saja, kalau alasan yang sebenarnya Niel melakukan semua ini bukan atas dasar kecemburuan pada Hanum semata. Tapi lebih pada kemarahan, karena Rafardhan yang sudah beberapa kali menyerobot peran yang seharusnya menjadi miliknya. Sejak artis muda itu kian tenar, kedudukan Niel sebagai aktor papan atas mulai tergeser oleh Rafardhan. Ini sebenarnya yang menjadi pokok kebencian Niel pada artis muda tampan yang berasal dari daerah Malang itu.
“Aku akan menikahimu, Honey. Aku janji,” ucap Niel pelan tapi pasti.
“Kapan? Setelah kau keluar dari penjara? Berapa tahun lagi?” cibir Hanum sambil mengusap air matanya dengan kasar.
“Penjara,” gumam Niel dengan air muka berubah pucat.
“Dengan dikirimkannya bukti kejahatan ini kepadamu, bukankah itu sudah jelas kalau keluarga William sudah tahu semuanya. Dan apa mereka akan membiarkanmu bebas?” Urai Hanum yang lagi-lagi membuat Niel terperangah.
“keluarga William.” Laki-laki itu bergumam pelan.
“Apa kau pikir yang mengirimkan bukti ini kepadamu adalah pihak kepolisian? Tidak seperti ini cara kerja polisi. Ini adalah tindakan keluarga William, keluarganya Rafardhan,” pungkas Hanum yang sontak membuat Niel bungkam.
__ADS_1