
“Mbak Quinsha.”
Di antara suara mesin mobil yang melaju, di antara hembus angin yang menderu, di antara bunyi klakson yang menggebu, menyeruak sebuah panggilan itu.
Quinsha yang sedang duduk menunggu, terdiam dan terpaku, merasa terusik dengan panggilan itu. Segera kepala yang tertutup hijab merah jambu, digiringnya menoleh ke satu arah tertentu. Arah di mana namanya disebut oleh suara yang merdu.
Mobil sedan berwarna hitam berhenti tak jauh darinya. Merasa familiar dengan mobil itu, Quinsha masih memerhatikan dengan seksama. Seorang gadis cantik berhijab panjang keluar dari dalamnya. Gegas menghampiri Quinsha sambil membawa senyuman ramah.
“Mbak, Quinsha.” Sekali lagi ia menyapa. Sedang sang empunya nama, hanya terdiam menatap saja. Mungkin sederet tanda tanya telah berbaris rapi dalam benaknya.
“Sudah lupa ya, Mbak? Saya Zahwa tunangannya mas Arfan,” tutur gadis cantik pemilik senyum lembut itu.
QUinsha pun bereaksi mendengar penuturan Zahwa. Wajah yang semula datar saja kini menampilkan senyuman juga. “Ah iya,” sambutnya seperti terlonjak.
Quinsha bukan lupa pada seraut wajah lembut yang padanya telah ia letakkan rasa iri dan cemburu. Karena nama gadis itu yang dipilih Arfan dalam kalbu. Bukan nama Quinsha yang selalu menyebut Arfan dalam lantunan doa syahdu.
Tapi rasa itu telah berlalu pergi. Quinsha pun tak tahu apa masih ada sisa walau sekulit ari. Ia terpaku melihat kedatangan Zahwa bukan karena tak mengenali, tapi justru sedang bertanya-tanya untuk apa tunangan Arfan itu menghampiri.
“Saya lihat, Mbak dari mobil, ada apa dengan mobilnya, Mbak?” tanya Zahwa dengan nada sangat akrab. Raut wajahnya sumringah. dan senyumnya terkesan sangat ramah.
“Iya ini mogok, gak tau kenapa,” sahut Quinsha sambil melayangkan tatap pada mobilnya yang siang ini tak bisa diajak kompromi. Pertama kali dalam sejarah hidup Quinsha, si putih ini ngambek dan enggan berjalan lagi.
Belakangan ini, Quinsha lebih sering menyetir sendiri, karena pak Dimas yang sedang sakit dan belum bisa bekerja lagi.
“Mas, ini mobilnya mbak Quinsha mogok, bisa bantuin, gak?” tanya Zahwa pada pemuda tampan yang berdiri di dekatnya. Ya, sesaat setelah Zahwa keluar dari mobil dan menghampiri Quinsha, seorang pemuda tampan menyusul menghampiri. Tapi Quinsha seakan tak melihat hadirnya, tatap matanya hanya terfokus pada Zahwa. Mengimbangi tunangan Arfan itu dalam keakraban dan keramahannya.
__ADS_1
Arfan mengangguk atas ucapan Zahwa, tapi tatapannya masih memindai wajah Quinsha, yang sedari awal menampakkan raut tak peduli.
“Gak usah,” tolak Quinsha, sebagaimana yang sudah diduga oleh Arfan, kalau kalimat ini yang akan menjadi keputusan. “Saya sudah telepon bengkel langganan. Mungkin sebentar lagi datang,” imbuhnya.
Sebenarnya tidaklah demikian, Quinsha sedang menghubungi uminya untuk menanyakan nomer telepon bengkel, ketika Zahwa datang menghampiri. Dan sampai saat ini, panggilannya belum juga direspons oleh sang ummi.
“Pernah seperti ini sebelumnya?” Tak tahan dengan sikap Quinsha yang begitu jelas kalau sedang mendiamkannya, Arfan segera mengajukan tanya.
Quinsha mewakilkan jawabannya pada gelengan saja. Ia berharap dua orang ini segera berlalu dari hadapannya. Tapi malah Zahwa mengatakan sesuatu yang membuat Quinsha tersembunyi menahan napasnya.
“Mas, kita di sini dulu temanin mbak Quinsha sampai orang bengkel datang ya,” pinta Zahwa pada Arfan, yang segera mendapat persetujuan dari pemuda itu tanpa bantahan.
Tentu saja atas hal itu, Quinsha tak tinggal diam. Ia segera mengatakan, “Eh, saya gak mau merepotkan. Lanjutkan saja perjalanan kalian. Sebentar lagi bengkelnya pasti datang.”
Sebenarnya, Quinsha sangat merasa risih berdiri di pinggir jalan seperti itu sendirian. Memang itu tempat umum, di mana banyak orang berlalu lalang. Tapi tatapan orang-orang yang melihatnya, terlihat heran dan penuh tanya, tapi mereka enggan bertanya, apalagi datang untuk membantunya.
“Gak papa kok, Mbak, kami juga tidak sedang terburu,” ucap Zahwa. Ia terlihat tulus ingin membantu. Dan Arfan? Pemuda itu sekarang seperti sedang mengikuti apa maunya Zahwa saja.
“Kalian dari mana?” Akhirnya Quinsha membuka obrolan, selain kalimat-kalimat penolakan yang ia lontarkan dari tadi.
“Dari kantor KUA, mbak. Mengurus perlengkapan,” jawab Zahwa. Terlihat binar bahagia dari tatapan matanya.
QUinsha mengangguk dan tak ada tanggapan apa-apa darinya. Terlihat Zahwa ingin berkata lagi, tapi urung karena ada panggilan telepon di ponselnya yang menyelai.
Zahwa gegas meraih benda pipih itu, dan melihat siapa yang menghubungi. “Mas, ini ummi telepon. Sebentar ya,” pamit Zahwa pada keduanya. Dan gadis itu memilih berdiri menyisih. Hal ini sangat tak disukai oleh Quinsha, karena dengan itu, kini ia hanya tinggal berdua dengan Arfan saja.
__ADS_1
Awalnya hening menyelimuti. Arfan yang seperti tak tahu harus memulai pembicaraan apa. Dan Quinsha yang sama sekali memang tak ingin menyapa.
Tapi tentu saja Arfan tak menyiakan waktu yang singkat itu, setelah cukup lama, ia menyadari kalau Quinsha menghindarinya selama di yayasan.
“Sehat-sehat saja, Quinsha?”
“Seperti yang Akhi lihat,” sahut Quinsha cepat. Sedangkan tatapan matanya menafikan kalau Arfan itu ada. Layar ponsel menjadi fokus pandangannya saat ini.
“Saya minta maaf ya, Quinsha.” Mengabaikan ke takpedulian Quinsha padanya, Arfan mengucapkan apa yang sudah menjadi niatnya dari semula.
“Apanya yang perlu dimaafkan, Akhi?” Quinsha balik tanya disertai sekilas senyum di wajah cantiknya.
“Saya banyak salah, itu pasti. Dan saya tak bisa menebus semua kesalahan saya, kecuali hanya dengan permintaan maaf ini.”
“Baik.” Quinsha menghela napas sejenak. “Saya maafkan, jika kata maaf itu, yang Akhi butuhkan. Sejak saat itu, semuanya sudah dimulai lagi dengan hal-hal baru. Dan apa yang terjadi itu hanyalah masa lalu, yang tak perlu diingat lagi. Kecuali pelajaran terbaik, yang bisa kita ambil di dalamnya,” putus gadis itu diiring senyuman, yang kian menegaskan kemantapan hatinya dalam memutuskan.
Memangnya mau apalagi? Mau memertahankan cinta yang tak disertai Takdir? Itu hanya kesia-siaan saja.
QUinsha sudah memutuskan mengucap wassalam pada sebaris nama, Bayhaki Arfan.
***
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan..semoga di bulan berkah, kita pun menuai berkah..amin.
Bab berikutnya insya Allah menyusul satu jam lagi, untuk yang masih menunggu kelanjutan cerita ini.
__ADS_1
Terima kasih banyak ya,..banyak cinta buat kalian semua.