
“Sherin!”
Panggilan dari suara yang sudah sangat dikenali. Membawa setiap atensi teralih. Lelaki itu hadir juga akhirnya di sini. Ia sekarang tengah melangkah mendekati.
Sherin menatapnya dengan terpana. Mendapati seraut wajah yang semalam begitu ia kawatirkan—bahkan sampai tak dapat pejamkan mata walau sekejap saja—Sherin jadi tak mampu berkata-kata.
Beragam rasa bergolak dalam dada, ingin marah, ingin bertanya, ingin melampiaskan rasa kesal dan kecewa. Tapi dari semuanya tak tahu harus dimulai dari yang mana. Akhirnya, Sherin hanya menatap saja, dengan bibir yang enggan terbuka. Tapi sangat jelas kalau tatapan mata keduanya bertemu di ruangan hampa.
Aura dan Quinsha yang sama-sama bisa merasakan suasananya, segera berdiri dan keluar ruangan tanpa kata, dan tanpa permisi pula.
Alarik duduk di tepi hospital bed tempat Sherin berbaring. Tatapan matanya memindai wajah lembut istrinya itu dengan seksama. Sesaat Sherin pun membalas tatapannya, tapi segera netra cantik itu teralih karena adanya gumpalan air bening yang siap menggelinding.
“Maafkan aku, Sherin,” ucap Alarik dengan suara lembut.
“Maaf untuk apa, Mas?” tanya Sherin. Ia ingin suaminya itu memperjelas maksud dari ucapannya.
“Semua hal, semua kesalahan yang tak bisa kusebutkan.”
“Terus?” tanya Sherin lebih lanjut.
“Aku minta maaf.”
“Sudah aku maafkan. Dan apalagi selanjutnya?” Lanjut Sherin. Ia sudah bisa menebak, kalau kalimat Alarik itu belum selesai. Mungkin saja, meninggalkan atau perceraian yang akan menjadi pungkas dari semua kata-katanya. Sherin sudah pasrah, dan akan ia terima. Meski kini sudah ada satu nyawa yang harus ia perjuangkan di dalam rahimnya.
Dan ternyata Alarik menggeleng singkat. Dengan tak disertai satu pun kata sebagai pelengkap. Lelaki itu justru menundukkan badannya, hingga mencapai bagian tubuh Sherin. Dan hati wanita itu mencelos begitu saja, ketika menyadari kalau Alarik sedang mencium perutnya.
“Jaga dia baik-baik ya, Rin,” pintanya.
“Hanya aku saja ya, Mas yang harus menjaganya?” tukas Sherin.
Berdasarkan pemeriksaan oleh dokter yang menanganinya tadi di IGD, Sherin ternyata sedang positiv berbadan dua. Usia kehamilan ditaksir baru 4 minggu. Mengetahui fakta itu Sherin langsung menangis dengan perasaan yang tak menentu.
Di satu sisi, ia merasa bahagia, di sisi lain ia juga sedih. Sherin pernah ada dalam keputusan yakin untuk mengahiri pernikahannya dengan Alarik, ternyata Tuhan menjawabnya dengan cara seperti ini. Dengan cara meniupkan ruh kehidupan dalam rahimnya.
Bila sudah begini, masih mampukah ia menggaungkan perceraian dalam dirinya? Meskipun jika pada akhirnya, kalau Alarik yang memilih jalan itu, Sherin akan tetap menerima.
__ADS_1
Beruntunglah dalam suasana hatinya yang runyam, satu per satu sahabatnya datang untuk menguatkan. Mereka hadir sebagai penenang. Yang harus diakui, bahwa keberadaan Aura dan Quinsha dalam hidup Sherin adalah anugerah yang luar biasa.
“Tentu denganku juga,” sahut Alarik yang membuat Sherin diam-diam menghela napas lega. Ternyata Alarik sudah tahu perihal kehamilannya, mungkin dia sudah bicara dengan dokter yang menangani istrinya lebih dulu, sebelum menemui Sherin di ruangan perawatan. Dan kini ia memutuskan untuk menjaga anaknya itu bersama-sama Sherin.
Dan ternyata tak cukup hanya itu, usai mencium perut Sherin yang masih rata, Alarik juga mencium kening istrinya itu singkat. Meski tidak dengan durasi yang cukup lama, tapi cukup membuat Sherin berbinar bahagia.
“Mas dari mana?” tanya Sherin kemudian.
“Gak dari mana-mana, Rin.”
“Kenapa sampai gak pulang semalaman?”
“Aku hanya ingin sendiri saja, Rin,” jawab Alarik dengan tertunduk.
“Apa jika di rumah, kau tak bisa mendapatkan keinginanmu untuk sendiri saja, Mas? Apa aku mengusik kesendirianmu?” Atau kau ingin agar aku pergi dulu dari rumahmu agar kau bisa sendiri?” cecar Sherin dengan sepasang mata yang mulai mengembun.
“Bukan begitu, Sherin. Kamu ini bicara apa sih. Kemarin aku hanya sedang merasa sangat kecewa. Tapi aku sadar, aku juga yang menyebabkan kekecewaan itu ada. Dalam kondisi ini aku merasa tak bisa apa-apa, tapi di satu sisi aku harus tegar. Maka aku pilih sendiri dulu untuk menguatkan diriku,” urai Alarik atas sikapnya yang tak pulang ke rumah dan tak memberi kabar apa-apa.
“Kecewa karena hal apa, Mas?” tanya Sherin pelan.
Alarik menggeleng. “Nanti setelah kamu sehat, aku akan cerita. Sekarang kamu jangan pikirkan apa dulu, selain kesehatanmu dan anak kita!” Alarik mengucapkan kalimat itu dengan nada yang biasa, bahkan tak ada senyum sebagai penyerta. Tapi, entahlah, kenapa kalimat itu terasa begitu hangat bagi Sherin. Bahkan seakan memberikannya semangat untuk kuat dan tabah, dalam menjalani kehidupan pernikahannya yang mungkin masih akan terasa berat ke depannya.
“Kak Clau. Apa Aura yang menghubungimu?” tanya Sherin yang memang tak tahu kalau Claudya juga ada di rumah sakit itu. Padahal sebelum masuk menemui istrinya, Alarik sudah bicara dengan Claudya di depan ruangan rawat Sherin.
“Aku memang mau mengunjungi Aura, tapi di rumahnya gak ada orang sama sekali. Waktu aku telepon, ternyata dia ada di sini.” Claudya segera duduk di samping Sherin.
“Selamat ya, akan jadi ibu,” ucapnya sambil mengusap pundak Sherin.
“Terima kasih, Kak,” sambut Sherin sambil tersenyum.
“Jaga kesehatannya mulai sekarang dan seterusnya. Abaikan saja segala hal yang membuatmu tak nyaman, demi anak kalian. Aku tau ini tidak mudah. Tapi kita harus punya tekad untuk membuat ketidaknyamanan itu pergi dari hidup kita,” nasihat Claudya seraya terus mengusap usap pundak Sherin.
“Insya Allah, Kak. Terima kasih dukungannya,” ucap Sherin setulus hati.
Selanjutnya Claudya menatap pada Alarik, adik bungsunya itu menunduk sambil mengingat kembali perbincangannya dengan putri pertama William itu di depan ruangan setengah jam yang lalu.
__ADS_1
Flashback On
"Alarik, mau kemana?" Claudya mencegah langkah Alarik yang tergesa hendak masuk ke ruangan untuk menemui Sherin.
Claudya datang ke rumah sakit itu sekitar dua puluh menit sebelumnya. Dan ia sudah mendapat info tentang kondisi Sherin dari Aura. Dan menurut keterangan ART Sherin--mbok Sum--Alarij sudah bisa dihubungi dan diberitahu perihal kondisi Sherin, sekarang dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Karena hal itulah, Claudya memutuskan menunggu kedatangan Alarik sebelum menemui Sherin.
Sepasang kakak beradik itu duduk di seat sofa tapi masih sama-sama tak ada yang mulai berkata. Hingga Alarik yang berinisiatif bertanya lebih dulu.
“Aku dengar kak Clau ada di luar negeri.” Alarik membuka percakapan dengan Claudya.
“Ya. Aku hanya pulang untuk waktu dua hari. Besok aku akan kembali lagi. Jadi aku sempatin waktu untuk menjenguk Aura dulu,” terang Claudya.
Alarik tersenyum, ia merasa senang melihat Claudya sekarang yang terlihat sangat menyayangi menantunya.
“Ada urusan apa, Kak Clau ke luar negeri?”
“Menemukan Airlangga.”
“Jadi Damaresh belum memberitahukan padamu, di mana mas Elang sekarang?”
Alarik memang sudah tahu cerita tentang Airlangga—suami Claudya—yang ternyata masih hidup dari Damaresh.
“Biarlah, gak papa. Aku tak meminta Aresh untuk memberitahukannya padaku. Aku harus mencari sendiri di mana keberadaan Airlangga. Walaupun untuk itu, aku seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Aku akan tetap melakoni, itu sebagai penebus rasa bersalahku selama ini,” beber Claudya.
Terlihat Alarik menghela napasnya. Perihal rasa bersalah dan menyesal jangan tanyakan padanya. Alarik sudah ahlinya. Lebih dua puluh tahun dia berkubang dengan rasa bersalah itu hingga seakan membunuhnya pelan-pelan.
“Kita mungkin bisa mendapatkan kata maaf dari orang yang telah kita sakiti. Tapi rasa bersalah dalam diri kita atas kesalahan yang telah kita perbuat, itu cenderung lebih sakit dari pada kita tak pernah mendapatkan kata maaf sama sekali,” ungkap Claudya terkait apa yang dirasakannya selama ini.
“Benar, Kak. Dan aku sangat merasakan dua hal itu selama ini. Merasa bersalah dan tidak mendapatkan maaf. Rasanya segala hal apapun yang kita dapat, tak pernah memiliki arti.”
“Kau sudah mengalami hal itu selama lebih dari dua puluh tahun ya, Al?” Claudya terlihat menatap adiknya itu dengan miris.
“Iya.” Alarik mengangguk.
__ADS_1
“Dan kau masih akan merasakan hal itu lagi, Al. Mungkin untuk seumur hidupmu,” tukas Claudya.
“A-Apa maksud, Kak Clau?”