
Dua buah mobil mewah keluaran terbaru berhenti di halaman rumah megah milik Alarik. Beberapa orang turun dari tunggangan berkelas itu dan menuju teras rumah yang berbentuk panggung nan tinggi. Rupanya malam ini, Pemilik perkebunan dan pabrik teh itu kedatangan tamu istimewa yang tak pernah diduga sama sekali
Lalu, apakah Alarik dan istrinya sudah tahu, kalau ada sosok istimewa yang ingin bertamu?
Tidak. Alarik sedang mendekap tubuh istrinya yang bergelung nyaman dalam pelukan. Sedianya, lelaki yang masih terlihat sangat tampan di usia 40 tahunan itu hanya akan menemani istrinya sampai terlelap saja—karena sejak hamil, Sherin gak bisa tidur sebelum merasakan pelukan suaminya.
Tapi rupanya, Alarik ikut terbawa suasana, hingga ia malah tertidur juga. Lelaki itu baru membuka mata ketika mendengar ketukan lembut di pintu kamarnya.
“Siapa yang ketuk-ketuk pintu, Mas?” tanya Sherin dengan suara serak, dan sepasang mata yang masih enggan terbuka.
“Mungkin mbok Sum, aku buka pintu dulu ya.”
Dengan raut wajah tak nyaman—karena harus mengganggu istirahat sang majikan—mbok Sum berdiri di depan pintu. “Ada tamu, Tuan.”
“Siapa, Bi?”
“Itu, suaminya, Mbak Aura.”
“Oo, Damaresh. Iya, sebentar lagi aku turun.”
Mbok Sum mengangguk dan segera berlalu.
ALarik sudah meminta Sherin untuk melanjutkan tidur saja. Tapi istrinya itu keukeh ingin ikut menemui tamunya, saat tahu kalau yang datang bertamu adalah Damaresh.
Ternyata, yang datang ke rumah Alarik bukan hanya Damaresh saja, tapi juga ada Aura, serta Anthony dan istrinya, juga dua orang lelaki yang tak dikenal oleh Alarik. Dan tatkala melihat satu orang lagi yang datang, Langkah putra bungsu William itu langsung berhenti di tengah tangga. Ekspresi wajahnya terlihat mengeras, dan tatapannya berubah tajam dan berkilat.
Melihat suaminya menghentikan langkah, Sherin mengikut pula, dan segera mengutas tanya. Tapi Alarik tak memberikan jawaban apa-apa kecuali diam dalam gelora amarah yang dipendam.
Sherin beradu tatap dengan Aura, bertanya dengan isyarat mata. Dan tatkala jawaban Aura dimengerti olehnya, istri Alarik itu segera melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Yang ia hampiri pertama kali adalah seorang lelaki berumur yang duduk di atas kursi roda. “Tuan William,” sapanya dengan senyum ramah yang terkembang.
“Dia Sherin Mumtaza, Kakek. Istrinya om Alarik.” Aura memberikan penjelasan pada William yang menatap Sherin penuh tanya.
Mendengar penjelasan dari Aura, lelaki yang pernah memegang kekuasaan penuh atas Pramudya Corp itu mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat pada Sherin untuk memeluknya. Dengan haru, Sherin segera memenuhi keinginan William itu. Ia peluk ayah suaminya itu dengan rasa haru. “Panggil aku, papa,” pinta William sembari mengusap pundak Sherin yang sampai bertetesan air mata karena rasa bahagia.
Adegan itu menjadi pusat perhatian dari mereka semua, termasuk Alarik yang masih tetap berdiri di tengah tangga.
“Terima kasih, Papa, atas kehadirannya,” ujar Sherin setelah melepas pelukan. Wiliam tersenyum dan mengangguk. Tatapannya teralih pada perut Sherin yang mulai terlihat menonjol.
“Berapa bulan?” tanyanya.
__ADS_1
“Masuk bulan keempat,” jawab Sherin.
“Syukurlah,” respons William terlihat dengan wajah berbinar. Keduanya terus saling bicara lirih, sesekali Aura menyahuti. Saat itulah Damaresh menghampiri Alarik yang masih diam membeku bak patung batu, di atas tangga itu.
“Om, bisa kita bicara sebentar.”
Alarik tak dapat menolak keinginan keponakannya itu. Ia segera turun dan mengikuti Damaresh yang berdiri menyisih di dekat jendela.
“Setelah sadar dari koma, perlahan kakek mulai mendapatkan ingatannya. Dan yang paling sering ditanyakan belakangan ini adalah om Al. Awalnya, aku mengabaikan saja hal itu, Om. Bahkan aku pernah menyuruh kakek untuk datang sendiri kemari ketika dia mengatakan ingin bertemu dengan, Om Al.”
Semua yang diucapkan oleh Damaresh itu tak mendapat respons apa-apa dari Alarik, lelaki itu masih diam dan terlihat tak tertarik.
“Tapi istriku mengingatkanku, bahwa apapun kesalahan orang tua, anak turunnya tetap memikul kewajiban untuk menghormatinya. Apalagi kakek sudah menunjukkan sikap lebih baik dan menyatakan menyesal atas semua perbuatannya selama ini. Jadi aku memutuskan mengantarkannya kemari bersama Anthoni. Selebihnya kami serahkan pada Om Al, atas sikap apa pun yang kau ambil, kami menghargai.”
Alarik mengangguk singkat saat Damaresh telah menyelesaikan kalimat.
“Alarik.” William maju ke arah putra bungsunya itu dengan memutar kursi rodanya sendiri. Ia menolak bantuan dua orang asisten yang bersiaga di samping kanan dan kirinya. Melihat hal itu, Damaresh segera berlalu.
ALarik hanya melihat sekilas pada William lalu kembali alihkan pandangan.
“Aku datang untuk mengakui semua kesalahanku selama ini padamu. Aku tau sudah terlambat ... aku sadar juga di saat sudah sekarat ... mungkin ini pula salah satu maksud Tuhan memberiku kesempatan hidup lagi. Agar aku bisa menyadari semua kesalahan yang telah aku perbuat selama ini. Terkhususnya padamu, Al.”
“Aku minta maaf, Al. Aku minta maaf atas semua kesalahanku ... aku tau permintaan maafku tak akan bisa mengembalikan keadaan yang telah kacau karena ulahku. Tapi aku tetap harus minta maaf padamu. Meskipun kau tak bersedia untuk memaafkan aku.”
Beberapa orang sudah merasa trenyuh dengan ucapan dari William itu. Tapi tidak bagi Alarik. Lelaki itu masih bergeming. Pintu hatinya seperti sudah terkunci dan tak akan bisa dibuka lagi.
“Aku juga ingin menunaikan tugasku untuk memberikan pusaka keluarga pada mantu terakhirku, yaitu istrimu. Apa kau ijinkan, Alarik?”
Dalam keluarga William Pramudya memang berlaku pemberian perhiasan turun temurun untuk menantu perempuan. Perhiasan dengan harga puluhan M itu akan diberikan oleh ibu mertua pada menantunya. Dulu, Laura Dewi sudah memberikan perhiasan itu pada Christhine istrinya Alan William. Dan masih tersimpan satu perhiasan lagi yang dipersiapkan untuk istri Alarik.
Tapi perhiasan itu tak pernah diberikan, karena Alarik yang memilih keluar dari keluarga William.
Dan sekarang William ingin memberikannya pada Sherin, apakah Alarik akan mengizinkan?
Ternyata Alarik tak memberikan jawaban. Ia hanya menatap sebentar pada Sherin, dan hal itu oleh William dianggap sebagai persetujuan. Lelaki berumur itu menghampiri Sherin dan segera memberikan kotak perhiasan berisi batu mutiara ruby itu pada istri Alarik tersebut.
Sherin menerimanya, tapi ia tak segera membuka kotak perhiasan itu—meski sebenarnya sangat penasaran dengan isinya—ia hanya memegang erat kotak itu dan segera jongkok di hadapan ayah mertuanya.
“Papa, bolehkah aku menyampaikan sesuatu?”
__ADS_1
“Boleh saja, Nak, katakanlah!”
“Pertama yang paling berhak menerima perhiasan ini adalah mbak Kanaya. Karena dia bisa dikata sebagai istri mas Alarik yang pertama, dan yang telah melahirkan putranya.”
Baru ucapan Sherin inilah yang berhasil menarik perhatian Alarik untuk menatap keduanya.
“Aku juga berpikir demikian, Sherin. Cuma karena Kanaya telah tiada, jadi aku memberikannya kepadamu,” ucap William.
“Karena mbak Kanaya sudah tiada, maka perhiasan ini menjadi hak mas Alarik, Papa. Terserah dia, akan memberikan perhiasan ini pada siapa,” putus Sherin sambil tersenyum.
“Baiklah, jika itu keputusanmu. Serahkan perhiasan itu pada suamimu.” William menyetujui semua pendapat Sherin tanpa bantahan sedikit pun.
“Terima kasih, Papa. Atas ijinnya.” Sherin segera bangkit untuk menghampiri suaminya yang masih betah berdiri di posisi semula. Tapi ternyata, Alarik lah yang menghampiri Sherin lebih dulu. Ia meraih kotak perhiasan di tangan istrinya itu tanpa kata, dan segera membukanya. Keindahan kalung permata ruby memancar di dalam ruangan. Sherin hampir terbelalak karena keindahannya.
Alarik menatap perhiasan itu sembari menghela napas, dan lalu beralih tatap pada istrinya. “Tentu saja ini hakmu. Tak ada yang lebih berhak untuk memakainya sekarang selain kamu,” tegasnya yang segera mengembangkan senyuman indah di bibir Sherin.
Tak hanya Sherin, Aura dan Damaresh juga diam-diam saling melempar senyum. Cerdas juga cara Sherin menggugah perhatian suaminya. Bukankah dengan hal itu, secara tak langsung Alarik telah menahbiskan istrinya sebagai menantu terakhir dari William Pramudya—menantu dari jalur anak, bukan dari jalur cucu. Dan artinya pula, Alarik telah mengakui dirinya sebagai darah keturunan William yang dalam dua puluh tahun ini ia ingkari.
Setelah perhiasan indah itu dipakaikan oleh Alarik pada istrinya, Sherin sesaat memeluk suaminya itu penuh haru dan bahagia. “Aku akan siapkan makan malam untuk kita semua ya, Mas,” pamit Sherin kemudian dengan tanpa melepas senyum dari wajahnya.
Alarik mengangguk menyetujui. Saat Sherin hendak berlalu, William memanggilnya. “Sherin, papa juga ingin ketemu dengan Rafasya. Apa kau mau mengantarkan, Papa?”
“Besok saja kita kesana, Papa. Sekarang ‘kan sudah malam, mereka pasti sudah istirahat. Kasian juga, pengantin baru kalau diganggu. Jadi, Papa dan yang lain, malam ini menginap saja di sini,” sahut Sherin dengan wajah sumringah.
“Baiklah,” jawab William setuju.
“Apa Rafa ada di kota ini juga?” tanya Aura saat melangkah bersama Sherin menuju dadapu Hal itu ia tanyakan mengingat putra Alarik itu tengah ada di Jakarta.
“Iya, dia datang tadi siang, tapi mungkin besok udah pergi lagi. Tadi Quinsha ngasih tau aku.”
“Wahh, ada waktu senggang sebentar ia bela-belain pulang ya, pasti kangen pada istrinya,” seloroh Aura sambil tergelak. “Tapi tadi waktu ngobrol di grup, Quinsha gak ngasih tau ya,” lanjut Aura lagi.
“Mungkin dia takut dibully. Kamu juga gak ngasih tau kalau lagi dalam perjalanan kemari. Cuma ngabarin kalau papa udah sadar aja,” protes Sherin pada Aura.
“Ya, kan kejutan. Sebenarnya sih, kakek sadar dari seminggu yang lalu. Aku sengaja berkata demikian biar kamu gak tau kalau aku dan yang lain sedang menuju ke rumahmu.”
Aura dan Sherin pun saling tertawa.
Lalu apa kabarnya Quinsha dan Rafasya yang malam ini memulai tidur bersama?
__ADS_1
Akankah Rafasya mampu untuk membuktikan ucapannya yang tak akan mengusik tidur Quinsha, selagi istrinya itu belum siap untuk melakukan ibadah bersama.