Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 55


__ADS_3

“Mau Shalat Magrib berjamaah, Mas?


Pertanyaan Sherin itu mengejutkan Alarik yang tengah terpekur diam di balkon kamar, sambil melepas pandang ke kaki langit jingga nun di kejauhan.


Tak segera menjawab, Alarik masih menatap Sherin yang wajahnya basah oleh air wudhu’, titik air itu bak kemilau mutiara yang membuat kecantikan Sherin kian terpancar.


“Mas,” tegur Sherin, karena dilihatnya Alarik yang masih tetap diam.


“Duluan saja, Rin.”


“Baiklah.” Sherin segera berbalik badan, dengan memendam kecewa yang dirasakan. Besar niatnya ingin shalat jamaah bersama sang suami. Ternyata Alarik masih tak ingin diusik dari kelana pikirannya, yang mengembara. Mungkin sedang menuju waktu puluhan tahun yang telah terlewat.


Di sini Sherin sekarang, di atas hamparan sajadah panjang, di antara butiran tasbih yang terus berputar, dalam lantunan doa dan dzikir penuh permohonan. Mencoba merebahkan jiwa sepenuhnya dalam pangkuan kasih sayang Tuhan. Karena tersadar, bahwa setiap perkara dan urusan, Dia Yang Pegang.


Wanita itu sempat tersenyum lega, mana kala Alarick menghampiri dan melaksanakan Shalat Magrib di dekatnya. Sherin percaya, bila seorang hamba menjaga Shalatnya, Allah akan menjaganya pula.


Kalaupun sekarang Alarik ibarat kata seorang musafir yang tengah tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Allah Maha Kuasa untuk menunjukkannya arah.


Masih ada secercah harapan dalam diri Sherin agar suaminya kembali, walaupun ia sudah pasrah, tentang hal apa pun nanti yang akan terjadi.


“Apa ada solusi yang diberikan Aresh, terkait permasalahan di pabrik?” tanya Sherin. Kini keduanya duduk bersama di ruang santai seusai menunaikan Shalat Maghrib barusan.


“Entahlah, Aresh tak mengatakan apa pun, ia hanya minta waktu tiga hari untuk menyelesaikan semuanya.”

__ADS_1


“Kalau begitu, kita tunggu saja, Mas. Aku percaya dia bisa,” ucap Sherin penuh keyakinan.


Alarik mengangguk saja, dan segera menyesap minumannya, kemudian membiarkan waktu terlewat dengan diamnya. Sherin yang memerhatikan itu dengan seksama segera berkata,” kalau kau ingin sendiri saja, aku ke kamar dulu ya, Mas.”


“Ah, gak kok Rin. Duduk saja gak papa. Memang ada satu hal yang sangat memberatkan pikiranku,” resah Alarik dengan tatapan yang lelah.


“Tentang putramu?” tebak Sherin.


Alarik mengangguk pelan.


“Bagaimana, jika selamanya dia tidak mau bertemu denganku?”


“Jangan mendahului apa yang belum terjadi, Mas.”


“Kita tidak pernah tau, nanti akan terjadi apa. Apalagi besok atau lusa. Menebak sesuatu yang berada di luar jangkauan kuasa kita, itu hanya sia-sia saja, Mas,” urai Sherin yang membuat Alarik seketika terdiam.


“Seperti kamu dan aku, Mas. Dilihat dari tekadmu untuk tetap setia dengan kepedihanmu, dapat ditebak, kalau ikatan kita akan berakhir. Tapi hal sebenarnya yang akan terjadi pada kita, itu hanya diketahui oleh Sang Penguasa Takdir.”


Terlihat Alarik menghela napas pelan, mendengar semua yang diucapkan istrinya dengan datar. Lelaki itu seperti baru tersadar, kalau istrinya kaya akan pemahaman. Jiwanya begitu kokoh dalam meyakini kekuatan Allah.


“Begitu juga dengan putramu, saat ini, hatinya merasa sakit dan tak bisa menerimamu, tapi besok atau lusa, tiada yang tahu. Jika Allah berkehendak merubah perasaannya, dalam satu detik pun bisa. Benar kata Mas Rendi, kamu harus meminta kelapangan hati putramu pada Allah.”


“Terima kasih, Sherin. Perasaanku jadi tenang mendengar ucapanmu,” ungkap Alarik. “Aku memang tidak tahu dalam hal seperti ini. Aku bukan hamba Tuhan yang baik,” akunya lagi.

__ADS_1


“Bukan seperti itu, Mas. Hanya saja selama ini kau sibuk dengan dirimu sendiri. Kau menutup diri dari kemungkinan lain yang bisa terjadi ... Maaf, Mas kalau aku sudah terlalu banyak bicara,” putus Sherin. Dan pembicaraan mereka benar-benar terputus dengan adanya panggilan telepon di ponsel milik Sherin yang tergeletak di atas meja.


Assalamualaikum, Sherin. Ini tante Firda


“Waalaikum salam, Tante. Apa kabarnya?”


Baik, Alhamdulillah. Sherin tante mau tanya. Apa Quinsha main ke rumahmu, sekarang?


“Quinsha? Gak ada tante. Memang dia kemana, Tante?”


Quinsha belum pulang sampai sekarang. Biasanya jam 2 siang dia sudah datang *dari mengaja*r.


“kan biasanya diantar pak Dimas, Tante?”


pak Dimas disuruh pulang duluan karena masih ada kepentingan katanya. Tapi sampai sekarang dia belum datang.


“Sudah ditelpon, Tante?”


Ponselnya gak aktif, Nak.


“Ya Allah, Quinsha. Dia kemana ya? Tante, saya coba tanya ke Aura ya, mungkin dia tau Quinsha kemana.”


Iya, terima kasih ya, Sherin.

__ADS_1


Setelah sambungan telepon dengan tante Firda—ibunya Quinsha—itu terputus, Sherin segera menelepon Aura, untuk menanyakan perihal Quinsha. Dan hasilnya, Aura juga tidak tahu, gadis itu kemana. Jadilah kepanikan melanda keduanya. Apalagi setelah dihubungi berkali-kali nomor sahabat mereka itu memang tidak aktif.


__ADS_2