Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Bab 8


__ADS_3

“Pilih saja yang kau mau!” kata Sherin saat melihat Quinsha memerhatikan deretan mobil mewah yang terparkir di halaman rumah sakit itu. Mungkin ia berpikir kalau temannya itu sedang mengagumi salah satu mobil yang ada di sana.


Quinsha tak menanggapi ucapan Sherin. Gadis cantik itu tetap tak mengalihkan atensi kedua mata dari titik fokusnya. Bahkan sesaat kemudian, Quinsha hentikan langkah, ketika netranya menangkap satu sosok di sana. Di ujung tatapannya.


“Ada apa, Sha?” tanya Sherin heran, melihat pandangan menelisik Quinsha, yang seakan tatapan seorang yang mendapatkan mangsa.


“Ikut aku, Sherin!” Bukannya menjawab,


Quinsha segera menarik tangan Sherin dan dibawanya bergegas.


“Mau kemana, Sha?”


“Ikut saja!” titah Quinsha gak bisa dibantah.


Kedua gadis itu menghampiri dua orang lelaki tampan menawan yang sedang berdiri di samping sebuah mobil lexus hitam, sedang bertelephonan. Di samping pemuda itu, berdiri seorang tampan juga, yang tangannya sibuk dengan layar pipih di tangan. Dua orang yang sama-sama sibuk dengan dunia masing-masing, tak menyadari kalau ada dua orang bidadari sedang menghampiri.


“Assalamualaikum.” Ucapan salam dari Quinsha, berhasil mengalihkan atensi kedua lelaki yang sibuk sendiri-sendiri itu, mereka sama-sama menoleh pada dua orang cantik berhijab yang tetiba saja sudah ada di hadapan mereka.

__ADS_1


“Tuan Damaresh William!?” Quinsha tak sabar segera ajukan tanya untuk lebih memastikan, padahal ucapan salamnya masih belum dijawab dengan sempurna oleh keduanya.


“ ya,” sahut lelaki tampan itu singkat, bahkan segera memutus tatapannya dalam sekejap, beda dengan Kaivan—sahabat sekaligus executiv asistan Damares—ia menatap kedua wanita berhijab itu dengan pandangan menelisik.


“Masih ingat pada kami?” masih Quinsha yang bertanya, karena Sherin memilih tetap diam saja.


“Tidak,” jawab Damaresh singkat. Singkat dan datar, ekspresinya ini sempat membuat Sherin mencolek lengan Quinsha, memberi isyarat peringatan.


“Saya Quinsha Daneen, dan ini Sherin Mumtaza, istrinya tuan Alarick William,” tutur Quinsha. Nama terkhir yang disebut oleh Quinsha, yaitu Alarick William, berhasil membuat Damaresh memberikan tatapan terfokus pada kedua gadis berhijab tersebut.


“Kita pernah ketemu di pesantren, Darul Falah beberapa waktu yang lalu, kami ini teman2nya Aura Aneshka,” timpal Sherin dengan bahasa lebih sopan. Untuk membantu lawan bicaranya itu mendapatkan ingatan akan perjumpaan mereka beberapa saat silam.


“Iya, kami ini sahabatnya Aura, mantan istri, Anda,” ucap Quinsha dengan nada tajam. Mendengar ucapan itu, terlihat Damaresh menampakkan raut tidak senang.


“Istri, bukan mantan istri,” ralat lelaki itu cepat.


“Oya, jadi Aura masih berstatus istri? Lalu mengapa, Anda yang masih berstatus suami Aura, malah bertunangan dengan wanita lain? Dan bahkan mengumumkannya di depan media?” Pertanyaan bernada sindiran dilayangkan oleh Quinsha seiring tatapan tajam.

__ADS_1


Damaresh yang sudah bisa membaca situasinya—kalau berita tentang dirinya dengan Naila Anggara sudah menyebar—tak memberikan jawaban ia hanya menatap saja pada salah satu teman istrinya itu yang kini tengah berbicara padanya dengan semangat berapi-api.


“Anda tidak tau apa yang terjadi pada Aura saat melihat berita itu? Dia syok, dia pingsan dan harus dirawat di rumah sakit ini sekarang,” terang Quinsha lagi tetap dengan nada tajam, yang segera mendapat teguran dari Sheriin.


Ekspresi tenang dan santai yang ditampakkan Damaresh dari awal, kini telah tergusur hilang, setelah mendengar penuturan Quinsha sekarang. Tak pernah terbersit dalam pikirannya, kalau Aura akan berada di kota ini. “Jadi, dia ada di sini?”


Kaivan, yang semula hanya jadi pendengar pembicaraan sang atasan pun kini, juga ikut memerhatikan dengan seksama, bahkan segera meletakkan ponsel ke dalam saku bajunya.


“Ya.” Sahut Quinsha singkat.


“Di mana dia dirawat?” tanya Damaresh cepat. Hasratnya langsung memuncak untuk dapat segera bertemu dengan Aura.


“Untuk apa, Anda tau? Untuk memintanya mengucapkan selamat?” tandas Quinsha. Damaresh diam, baginya tak guna melawan ucapan tajam Quinsha yang sedang meluapkan kemarahan pada Damaresh, atas nama Aura. Lelaki itu segera mengulang pertanyaannya.


“Di mana dia dirawat?”


“Di lantai 3, ruangan anggrek.” Sherin yang mengambil alih memberikan jawaban. “Mari ikuti kami! Kami juga akan ke sana,” ajak wanita itu lagi.

__ADS_1


Dalam ruang rawat anggrek lantai 3 yang dimaksud. Lukman duduk sendiri di samping bed hospital dengan pandangan tak lepas dari wajah pucat sang putri yang memejam rapat. Berkali Lukman meraih tangan Aura dan mengusap-usapnya lalu berakhir dengan helaan napas berat. Dari sejak semalam tatapannya seakan enggan beralih dari sang putri tunggal, dengan susunan doa dan harapan-harapan untuk kembalinya Aura Aneshka ke pangkuan.


Pintu ruang terbuka dari luar, namun tak segera ada yang memasuki ruangan. Membuat Lukman memutar kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Sepasang mata tua Lukman menjadi terkesima melihat lelaki tampan berdiri di tengah pintu ruang yang terbuka, dengan tatapan sepenuhnya terarah pada Aura.


__ADS_2