Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 65


__ADS_3

Setelah sesaat masih berbincang mengenai kejadian barusan, Aura dan Sherin memutuskan untuk membersihkan diri dan melakukan sholat dhuhur bersama, karena waktu saat itu sudah menunjukkan lewat jam satu siang.


Aura hendak melipat mukena dan ingin beristirahat sejenak sebelum pulang ke rumahnya. Dilihatnya Sherin masih duduk di atas sajadah dengan tubuh berbalut mukena.


Aura hendak beranjak dari ruangan itu lebih dulu, kalau saja sepasang matanya tidak menangkap sesuatu dari Sherin.


Sherin yang diam terpekur seakan lena dalam doa dan tafakkur, terlihat tubuhnya terguncang, seakan sedang menahan isakan.


“Sherin.” Aura gegas menghampiri, dan benar saja, wajah cantik Sherin tengah basah oleh air mata. “Kamu masih kepikiran?” tanya Aura lembut.


Sherin segera mengusap air matanya, dan menatap Aura dengan berusaha menampilkan senyum. “Aku sedang menangisi diriku sendiri,” ucapnya lirih.


“Kenapa, Rin?” Aura segera duduk dengan sempurna di depan sahabatnya itu untuk mulai mendengarkan ceritanya.


“Kepikiran mas Alarik atas semua kejadian ini. Aku seperti dapat merasakan kesusahannya, kesedihannya, beban tanggung jawabnya, harapan-harapan dan keinginannya. Semua tentang dirinya aku resahkan, aku mintakan pada Allah. Di saat itu, aku sadar, kalau aku sangat menyayanginya, Aura ...” Sherin tercekat karena suara yang tersumbat. Hingga tak ada lagi kata yang dapat terucap, kecuali air mata yang bertutur akan luka yang menancap.


“Aku sadar, aku sangat menyayanginya, aku juga mencintainya, seakan tak sanggup untuk meninggalkannya apalagi dalam keadaan seperti sekarang, Aura. Aku jadi bingung,” isak Sherin dengan suara sedikit terbata.


Aura segera mendekap tubuh sahabatnya itu dan mengusap usap pundaknya dengan lembut. “Ingat apa yang dikatakan Quinsha kemarin, kalau apa yang akan menjadi pilihanmu tak hanya cukup dipikirkan. Tapi laksanakan istikharah minta petunjuk pada Allah.”


Sherin mengangguk lemah. Ia memang telah melakukan semua itu, tapi malah ini yang terjadi sekarang. Kejadian ini seakan peringatan, kalau Sherin tidak boleh meninggalkan. Wanita itu terkapar dalam bimbang, terombang ambing oleh pikiran, yang berubah silih berganti tak menemukan ketetapan.

__ADS_1


“Aku bimbang, Aura,” resah Sherin dengan suara mengadu.


“Iya aku dapat merasakannya, Sherin.” Aura kembali mengusap pundak Sherin lembut. “Jangan tuntut dirimu untuk memutuskan sekarang, biarkan saja dulu sampai kau betul-betul mendapatkan kemantapan. Petunjuk Allah itu hadir dengan rasa nyaman dan tenang. Tapi saat kamu bimbang, itu hanya tipu daya pikiran.”


Aura menyampaikan kalimat yang diambil dari keterangan Kyai dulu, saat ngaji kitab di pesantren. Sherin bukan tidak tahu perihal itu. Hanya memang saat seseorang dalam masalah, separuh dari kecerdasan dan kepahaman itu seakan hilang. Berpindah pada sahabat atau saudara, yang kepadanya kita bercerita akan keluh kesah yang ada.


Penting untuk memiliki teman yang saling berbagi dan menasihati dalam hal kebaikan.


Sherin terdiam, dan perlahan ia mengangguk paham. “Astaghfirloh,” desisnya.


“Sherin, Aura, ada apa?” tiba-tiba saja terdengar tanya dari Claudya, entah sejak kapan mertua Aura itu sudah hadir di sana.


Aura dan Sherin hanya bisa saling pandang, dan tak segera memberikan jawaban.


Sherin hanya menggeleng pelan dan menunduk. Melihat hal itu, Claudya mengalihkan pandangan pada Aura yang juga masih diam, karena merasa kalau Sherin lah yang lebih pantas memberikan jawaban.


“Apa Alarik tak memperlakukan Sherin dengan baik?” tanya Claudya.


“Baik, mas Alarik bersikap baik selama ini pada saya,” sahut Sherin segera, sebelum Claudya terjebak dalam penilaian yang salah.


“Lalu? Kenapa barusan aku dengar kalian berbicara demikian?” tuntut Claudya.

__ADS_1


“Om Al, baik Momm sama Sherin. Hanya saja selama ini om Al itu seakan hanya hidup untuk masa lalunya saja,” terang Aura pada ibu mertuanya itu.


“kanaya?” gumam Claudya.


Aura mengangguk, sedangkan Sherin hanya bisa tertunduk.


“Terima kasih, Kak,” ucap Alarik pada Claudya saat kakak sulungnya itu berpamitan hendak pulang dulu bersama Aura. Sedangkan Damaresh masih tetap di sana untuk mengurus beberapa hal bersama Alarik.


Claudya mengangguk seraya menepuk pundak adik bungsunya itu.


“Segala hal itu pasti berlalu, begitu juga dengan musibahmu. Semua akan kembali baik-baik saja.”


Claudya menyampaikan kalimat bijak yang membuat Alarik mengangguk mengiyakan sepenuh hati.


“Mudah-mudahan, Kak. Terima kasih suportnya.”


“Begitu pun dengan hidupmu, Al. Jangan membiarkan dirimu terus terluka, jika kau punya kesempatan untuk sembuh,” lanjut Claudya yang membuat Alarik seketika mengatup mulutnya rapat.


“Aku memang tak pantas mengucapkan ini, karena aku adalah orang yang telah berkubang dengan banyak kesalahan. Justru karena itu, aku tidak ingin kesalahanku diulang oleh adikku,” tutur Claudya.


“Kak, aku ...”

__ADS_1


“Jika kau terus tenggelam dengan masa lalumu, kau akan kehilangan masa depanmu. Sedangkan hidup itu berjalan ke depan, Alarik. Bukan ke belakang.”


__ADS_2