Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 98


__ADS_3

Merasakan degup jantungnya, mendengarkan aroma tubuhnya, menyandarkan kepala di dadanya yang bidang, dan berselindung dalam rengkuhan kedua tangannya yang kekar, sungguh bagaikan candu yang melenakan, memabukkan dan merampas segenap kesadaran. Bak terbius obat-obatan terlarang, serasa terbang, melayang, ringan tanpa beban. Hingga deheman keras itu membuyarkan, merampas kesadaran, dan memaksa pulang.


Quinsha dan Rafardhan kompak melepas pelukan dan sontak menoleh pada sumber suara yang datang.


“Maaf ganggu,” ucap Arfan dengan tatapan tanpa lepas pada dua orang yang sedang bertaut rasa dalam kerinduan. Ia tak sendiri. Ada lila dan Risma di sampingnya, juga beberapa rekan guru yang lain. Bahkan di lain tempat ada beberapa siswa-siswi Nada Hikam juga. Yang tentunya sudah sama-sama melihat romantisme Quinsha dan Rafardhan barusan.


“Ee—kami tak bermaksud mempertanyakan apa yang kalian lakukan apalagi menghakiminya. Cuman, karena ini di Yayasan, dan ...” Arfan menjeda sejenak ucapannya yang sepertinya dilontarkan dengan sangat hati-hati itu, pada beberapa siswa siswi yayasan yang semakin berdatangan dan melihat kejadian “Banyak siswa-siswi yang melihat kalian, tentunya mereka memiliki penilaian. Apalagi ukhty Quinsha sebagai pengajar di bidang agama di yayasan ini.”


Kata-kata yang lembut dan sopan. Namun, jelas kalau maksudnya adalah sindiran. Quinsha langsung beradu tatap dengan Rafardhan dan sedetik kemudian wanita cantik itu sudah siap dengan jawaban. Akan tetapi Rafardhan segera menahan dengan menggenggam tangannya dan memberi isyarat, agar dia saja yang menjawabnya.


Rafardhan maju beberapa langkah ke arah beberapa siswa siswi yayasan yang sedang menatapnya dengan seksama, dan tak sedikit pula yang mengarahkan kamera. Tapi Rafardhan tak peduli dengan semuanya. “Maaf ya adik-adik, kalau saya sudah membuat ketidak nyamanan di sini,” ucapnya sambil mengulas senyum manis. Sungguh, wajah Rafardhan terlihat begitu tampan saat ini.


“Saya hanya seorang suami yang merindukan istri saya setelah lewat setengah bulan kami berpisah. Maaf, kalau ekspresi kerinduan saya, yang memeluk istri di depan kalian semua, dianggap tidak pada tempatnya.” Lelaki tampan itu kembali mengakhiri ucapannya dengan senyuman. Tapi setelah apa yang diucapkannya itu, yang terjadi malah kegaduhan. Mereka semua jadi Saling tatap, saling tanya satu sama lain. Dan suara-suara mereka bak dengungan lebah yang terusik.


RAfardhan berbalik dan meraih tangan Quinsha. Tapi langkahnya tertahan karena pertanyaan dari Arfan. “Suami? Apa saya tak salah dengar?”


“Tidak. Anda tak salah dengar,” sahut Rafardhan.


“Apa itu maksudnya kalian berdua, sudah menikah?” tanya Arfan dengan tatapan yang menyiratkan ketidakyakinan.


“Begitulah,” jawab Rafardhan santai.


“Hal itu memang benar, atau hanya sekedar ...” Arfan memutus ucapannya begitu saja. Pasalnya ia sangat tak percaya. Kalau Quinsha akan memilih menikah dengan Artis setelah patah hati darinya.


“Mas Arfan pasti lebih mengenal siapa dan bagaimana Quinsha Daneen. Bahkan kalian sama-sama alumni dari pesantren yang sama ‘kan? Menurut, Mas arfan, kira-kira Quinsha akan mau atau tidak dipeluk oleh laki-laki yang tidak halal untuknya?”


Arfan terdiam. Cukup jelas bukan apa maksud dari ucapan Rafardhan.


“Apa itu benar, Mbak Quinsha?” tanya Lila dan Risma hampir bersamaan.

__ADS_1


“Iya. Dia suami saya,” jawab Quinsha.


Berita ini sungguh mengejutkan dan tak terduga sama sekali. Bahkan kendati Quinsha sudah memberikan pernyataan, mereka tak terlihat langsung percaya, malah masih saling pandang seakan kesadaran tak lagi ada di kondisi 100%.


“Saya undang kalian semua ke rumah saya. Untuk mendapatkan klarifikasi tentang pernikahan kami, dari keluarga kami masing-masing,” tandas Quinsha, yang langsung menghentikan atensi saling beradu pandang dari mereka.


“Kita pulang,” ajak Rafardhan pada Quinsha. Selanjutnya mereka semua hanya bisa melihat ketika mobil mewah Rafardhan itu meninggalkan area parkir yayasan dengan membawa Quinsha di dalamnya.


Keheningan itu tercipta dalam mobil sepanjang perjalanan pulang. Keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masing, dan sama-sama enggan berbagi apa yang dipikirkan satu sama lain.


“Dua hari lalu aku bertemu dengan sepupuku dan istrinya.” Akhirnya keheningan itu dipecahkan dengan suara Rafardhan.


Quinsha mengangguk. “Iya, Aura sudah bercerita padaku tentang pertemuan kalian. Dan juga ...” Quinsha sejenak menoleh pada Rafardhan sebelum melanjutkan ucapannya. Ternyata suami tampannya itu sedang menatapnya dengan seksama, tepatnya sedang menanti, untuk selanjutnya Quinsha akan berkata apa. “Dan juga tentang kedekatanmu dengan aktris itu,” lanjut Quinsha.


“Aura sudah menjelaskan semuanya, berdasarkan keterangan darimu,” katanya lagi.


“Jadi aku sudah tidak perlu klarifikasi?” tanya Rafardhan sambil tersenyum.


“Ok, setelah sampai di rumah. Setelah berdua saja di kamar.”


“Maksudnya?” tanya Quinsha cepat, setelah mendengar ucapan Rafardhan yang dianggapnya ambigu.


“Saat kita hanya berdua, aku akan menjelaskan semuanya. Apa kau juga ingin aku klarifikasi di depan ummi dan paman?”


“Gak perlu.” Quinsha menggeleng. “Aku mau tanya,” katanya lagi.


“Ya, tanyakan saja!”


“Kenapa kamu mengakui ikatan kita di depan semua orang?”

__ADS_1


“Emang gak boleh ya Quin?” Rafardhan malah balik tanya.


“Bukan. Bagaimana jika berita itu tersebar. Itu pasti ada akibatnya pada profesimu.” Quinsha terlihat kawatir.


“Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan.”


“Dan bagaimana dengan konsekuensinya?” tanya Quinsha cepat.


RAfardhan memelankan laju mobil, dan lalu menoleh pada wanita di sampingnya itu, memindai wajah cantiknya dengan seksama. “Ini sebenarnya, yang merasa kawatir kalau pernikahan kita tersebar itu, aku atau kamu ya, Quin?”


“Ah, gak. Bu-bukan begitu,” ralat Quinsha cepat. “Aku hanya mendengar selentingan kabar tentang artis yang menikah diam-diam, itu bisa menurunkan pamornya dan lain sebagainya.”


“Tidak sepenuhnya benar. Dan tidak sepenuhnya salah,” jawab Rafardhan. “Aku berpikir begini, banyak artis yang mengumumkan kebersamaan mereka dengan orang lain, dalam tanda kutip pacaran. Sedangkan kamu tau, pacaran itu bagaimana. Walau dalam dunia kami itu bukan hal yang tabu. Tapi mereka berani mengumumkan dan tidak takut konsekuensinya.” Rafardhan menghentikan sejenak ucapannya untuk melihat ke jalan raya.


“Bagaimana dengan kita, kita yang terikat secara halal. Jika kabar ini tersebar, apa ada konsekuensi moral yang harus kita tanggung, Quin? Jika yang kamu maksud itu aku akan kehilangan penggemar. Ok, aku memang bukan apa-apa tanpa dukungan penggemar. Dan aku rasa penggemar yang cerdas, tentu lebih suka jika artis idolanya itu kemana-mana bersama dengan wanita yang halal.”


“Kamu berpikir demikian?” tanya Quinsha heran.


“Iya. Seperti ini pola pikirku. Salah?”


“Gak. Hanya gak nyangka aja,” tutur Quinsha sambil menghela napas berat.


“Mari kita saling mengenal Quin. Setelah sama-sama kenal, kita pacaran.”


“Pacaran?” tanya Quinsha diselingi tawa.


“Iya, pacaran setelah halal katanya. Apa kamu mau menolak ajakanku?”


“Apa aku boleh menolak?” Quinsha malah balik tanya.

__ADS_1


“Kamu yang lebih tau,” sahut Rafardhan sambil tersenyum. Kali ini ia menang. Tak percuma ia turunkan gengsi lebih dulu, dan mengakui kalau ia rindu. Karena dengan itu, perlahan tapi pasti, hati Quinsha akan ia dapati.


__ADS_2