
Quinsha Daneen tak perlu bersembunyi menghela napas. Bahkan Dengan terang-terangan dan jelas terdengar, ia menghela napas berat sekarang. Sepasang matanya menatap satu per satu rekan guru yang sama-sama menatap ke arahnya—sedang meminta jawaban—dari yang berdiri tepat di depannya, atau yang tetap duduk di kursinya. Yang intinya mereka semua sama-sama menanti jawaban dari Quinsha.
“Santai saja, Mbak, Kita hanya bertanya aja, kok.” Itu ucapan Lila, guru paling senior di antara mereka sekarang. Walaupun usianya tak sampai 40 tahunan.
‘Gimana bisa santai, kalau mendadak diinterogasi begini’. Batin Quinsha.
“Ya, kalaupun memang benar kalian ada hubungan, gak papa kok, Mbak, Kita malah ikut senang. Mana tau suatu saat jadi ikut terkenal,” sambung Lila kemudian yang disambut gelak tawa renyah dari yang lain.
“Gak ada hubungan apa-apa, mbak,” jawab Quinsha dengan cepat. Sebelum pemikiran mereka semua yang membuat kemungkinan-kemungkinan sendiri itu kian bergulir dan tak bisa lagi dicegah.
Quinsha merasa dirinya seakan didudukkan di kursi panas. Padahal, mereka semua hanya sekedar bertanya saja, berdasarkan berita yang sudah mereka lihat atau yang sekadar mereka dengar. Itu hal yang wajar. Tapi Quinsha merasa ini bukan hal yang menyenangkan untuknya. Keraguan yang semalam sempat menyusup dalam jiwa untuk menemui Rafardhan, kini berganti menjadi keyakinan dengan seketika. Bertemu Rafardhan dan berbicara dengannya, itu menjadi agenda wajib Quinsha sekarang.
Pasti sudah bisa ditebak, apa yang dialami Quinsha saat ini. Ya, gadis itu diinterogasi oleh sesama rekan guru di Yayasan. apalagi yang menjadi pokok permasalahan, kalau bukan berita kedekatannya dengan seorang artis terkenal, yang beritanya sudah kian menyebar.
Terhitung sudah dua kali dalam satu hari ini, ia di dudukkan sebagai "pesakitan" di kursi interogasi. Pertama oleh ibunya sendiri, dan kedua oleh rekan-rekan gurunya di sini. Dan itu dengan satu masalah yang sama. Kalau saja Quinsha tahu pada buku catatan Takdirnya, bahwa ia akan dipertemukan dengan Rafardhan, Gadis itu pasti akan menolak habis-habisan.
__ADS_1
“Saya gak begitu kenal Rafardhan. Saya hanya sebatas tau saja, itu pun karena kami gak sengaja bertemu. Saya bahkan gak pernah nonton web series yang dibintangi dia sekarang. Jadi, saya gak tau apa-apa tentang dia,” terang Quinsha.
Sebagian dari mereka menganggap jawaban Quinsha ini sudah cukup, tapi tidak pada sebagian yang lain, yang masih meretas tanya, “katanya, dua hari yang lalu, Rafardhan menemuimu ya, Di sini?”
“Ya.” Quinsha menganggukkan kepalanya.
“Nah itu dia, kalau gak begitu kenal, kenapa dia sampai menemui Kamu di sini?” satu pertanyaan kecil dan wajar saja, mengingat Rafardhan itu seorang artis terkenal, tiba-tiba dia menghampiri Quinsha di yayasan. Semua orang pasti mempertanyakan.
Lagi-Lagi Quinsha merasa disudutkan. Tapi haruskah ia menjelaskan kepada semua orang kronologi pertemuannya dengan Rafardhan? Capek banget pastinya. Quinsha berharap jam masuk pelajaran segera tiba, agar ia segera terbebas dari interogasi tak resmi dari ibu-ibu yang mungkin adalah fans berat Rafardhan Malik ini. Dan saat dia melirik jam tangannya, waktu istirahat masih tinggal 10 menit lagi. Cukup lama.
“Paket!” terdengar seruan pengirim paket dari arah teras kantor. Setelah beberapa jenak saling pandang, terpilihlah satu orang yang segera keluar untuk melihat. Sesaat topik pembicaraan mereka pun teralihkan. Momen ini dipergunakan oleh Quinsha untuk segera beranjak. Tapi baru juga ia berdiri. Risma, yang keluar untuk memeriksa kiriman paket itu, masuk kembali bersama seorang laki-laki yang membawa buket bunga.
“Paket untukmu, Mbak Quinsha,” kata Risma sambil tangannya menyilakan pembawa paket itu untuk meletakkan bucket bunganya di atas meja depan Quinsha.
“Dari siapa, Pak?” tanya Quinsha.
__ADS_1
“Ada nama pengirimnya, Mbak. Silakan diperiksa!”
Quinsha mengangguk dan segera membaca nama si pengirim. Wajahnya seketika berubah pias saat tau siapa pengirimnya. Hal mana membuat Lila dan Risma yang berdiri di dekat Quinsha, ikut melihat pada kertas yang dipegang gadis itu. Di kertas putih berukuran tak terlalu besar itu, tertulis nama Rafardhan Malik.
“Rafardhan Malik? Wauu!” seru Risma dan Lila secara bersamaan.
“Jadi ini kiriman bunga dari Rafardhan? Benar gak ada hubungan apa-apa, Mbak Quinsha?” sindir Lila diikuti gelak tawa Risma.
Quinsha hanya bisa diam. Mau bilang tidak ada apa-apa setelah dikirimi serangkai bunga mawar? Pasti tak akan mempan. Fix, dia harus menanyakan maksud dari semuanya kepada Rafardhan. Mau lari kemana pun pemuda itu akan ia kejar, tekad Quinsha sekarang.
'Apa sih maunya Rafardhan, dia seperti sengaja memancing di air keruh'.
rutuk Quinsha dalam diam.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1