Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 37


__ADS_3

“Lho, Mbak Quinsha, apa Rafardhan sudah pergi?” Tanya Lila yang baru saja keluar dari kantor dan melihat Quinsha sendiri saja.


“Ya, Mbak.”


“Yah!” Lila menepuk jidatnya. “Baru aku mau minta tanda tangan dan foto bersama, dia sudah pergi,” sesalnya.


Quinsha hanya menatap Lila sekilas, sebelum memutuskan untuk segera bergegas.


“Apa saya minta tanda tangan pada Mbak Quinsha saja ya, sebagai perwakilan Rafardhan? ‘Kan kalian sepasang?” goda lila sambil senyum-senyum. “Kalau pun sekarang belum sepasang, mungkin suatu saat,” tambahnya.


“Mbak Lila ...”


“Gak papa kok, Mbak Quinsha. Memiliki hubungan dengan seorang artis itu, bukan sebuah kesalahan,” nasihat Lila.


“Ya, saya tau. Tapi saya dan Rafardhan tidak ada hubungan apa-apa. Tidak sekarang atau nanti,” tegas Quinsha.


“Eh, jangan mendahului takdir, lho,”


‘Takdir? Dia membawa-bawa Takdir? Apa-apaan ini? Kalaupun benar, aku ditakdirkan dengan Rafardhan, akan aku tolak Takdir itu dengan doa’. Sungut Quinsha dalam batinnya saja.


Keputusan Quinsha ini mengacu pada sebuah hadist, yang diriwayatkan oleh Tarmizi, Hakim, Ahmad dan Ibnu Majah. Layaruddul Qodhro illa bi ad duai. Artinya, Tidak bisa merubah Takdir, kecuali dengan doa.


"Benar, Mbak Quinsha, jangan mendahului Takdir," timpal Risma. tahu-tahu ia sudah berdiri di belakang Lila. "Kan di dunia ini ada sesuatu kekuatan tak terbatas, yang tak pernah bisa kita lawan. Yaitu kekuatan Takdir Tuhan," imbuh Risma.

__ADS_1


"Iya, saya tau. Tapi antara saya dan Rafardhan itu memang tidak apa-apa. kalian hanya salah paham saja."


"Kalau gak ada apa-apa, gak mungkin dia sampai datang kemari. Dia artis terkenal lho, waktunya sangat sibuk. Gak mungkin meluangkan waktu di tengah kesibukannya, kalau tidak untuk sesuatu yang sangat berarti," kata Lila. Dan ini pasti pendapat sebagian besar orang.


Quinsha diam, ia juga merasa lelah untuk menjelaskan. Karena setiap penjelasannya akan dinafikan. Sebab mereka sudah mempunyai penilaian sendiri yang tidak mau diluruskan.


"Kalau, Mbak Quinsha tidak mau, buat saya saja," kelakar Risma.


"Boleh," jawab Quinsha, dan segera berpamit pergi dengan mengucap salam.


Selanjutnya gadis itu melenggang menuju ke mobilnya yang sudah menunggu sang nona di tempat parkir biasanya.


“Sudah, Non?” tanya pak Dimas dan segera berinisiatif membukakan pintu. Namun Quinsha menolak dengan isyarat tangan. Ia gegas membuka sendiri pintu mobilnya, dan mendapati sebuah buket bunga di atas kursi yang biasa ia duduki.


“Itu tadi ada yang ngasih, Non. Seorang perempuan. Katanya itu buat Non Quinsha, ya bapak taruk aja di kursinya, Non,” jawab pak Dimas.


“Perempuan?” gumam Quinsha penuh tanya sambil sibuk menerka-nerka, tapi berujung pada kesia-siaan belaka, karena tetap tak tahu, itu dari siapa. Akhirnya Quinsha menyerah dan segera bertanya, “Siapa, Pak?”


“Gak tau juga, Non. Saya pikir Non Quinsha kenal.”


Jawaban pak Dimas membuat Quinsha terheran. Sementara ia terdiam dalam kelana pikiran, terdengar notif pesan di ponselnya. Sebuah chat terkirim memakai privat number.


Suka dengan bunganya, ya?

__ADS_1


QUinsha tersentak dan segera mengedarkan pandangan ke segala penjuru arah, tapi tak ada hal mencurigakan yang dapat ditangkap oleh ujung matanya. Gadis itu segera mengetik pesan balasan.


Ini siapa?


Dan tak butuh waktu lama, pesannya dibaca, dan tak lama pula sebuah jawaban terkirim kepadanya.


Calon imammu.


Quinsha langsung berdecak kesal dan emosi, menyadari kalau ada orang menerornya seperti ini. Dengan tangan gemetar karena menahan marah ia mengetikkan balasan lagi.


Jangan main-main ya! Tunjukkan siapa dirimu!


Dan kali ini pesan dari Quinsha hanya dibaca saja dan tak ada balasan. Untuk beberapa saat gadis itu menunggu tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Terluput dari perhatian Quinsha sebuah mobil mercy yang akan melintas di dekat gadis yang sedang berdiri di dekat mobil dengan pintu terbuka itu.


Mobik mewah warna putih itu mengejutkannya dengan bunyi klakson begitu telah berada tepat di samping Quinsha. Gadis cantik berhijab itu reflek menoleh, dan pandangannya melihat kaca samping bagian penumpang mobil yang terbuka. Seraut wajah tersembul dari sana. Wajah pria yang sebagiannya tertutup dengan masker.


“Rafardhan,” Quinsha bergumam.


Tangan pria itu melambai singkat sebelum kaca mobil segera tertutup bersamaan dengan lajunya yang melesat cepat meninggalkan halaman yayasan Nada Hikam.


Atmosfer kekesalan dalam diri Qhuinsha yang barusan sempat menguap, kini justru bertambah jadi dua kali lipat.


‘Jadi ini ulah Rafardhan? Dia yang telah mengirim bunga ini’. Monolog Quinsha dengan tatapan tajam pada mobil yang selayang pandang sudah menghilang.

__ADS_1


__ADS_2