
“Setuju, setiap cinta yang lahir dari hati itu pasti ‘luar biasa’. Cuma setiap orang punya cara yang berbeda dalam menunjukkan rasa cintanya,” ujar Quinsha seraya mengangguk patah-patah.
“hmm, aku pingin masuk jadi menantu di keluarga William nih, masih ada kesempatan, gak sih?” kata Quinsha lagi setelah beberapa jenak. Ucapannya itu mendapat sambutan tawa renyah dari Aura.
“Ya, benar. Bisa dicintai dengan luar biasa, tuh pasti ‘sesuatu banget’, ya,” timpal Sherin.
“Ho-oh, tapi tunggu, Rin kamu, Kan adalah menantu keluarga William juga. Jangan lupakan fakta itu lho!”
“Iya, aku gak lupa, kok,” sahut Sherin dan sesaat ia diam sambil menggeser tubuhnya agak ke depan, untuk bisa lebih dekat dengan dua orang temannya yang duduk di depan.
“Dan seperti yang sudah diberitakan, kalau anggota keluarga William punya cinta yang luar biasa. Alarick juga punya cinta yang luar biasa,” lanjut Sherin.
“Alhamdulillah,” sambut Aura dan Qhuinsha hampir bersamaan.
“Tapi cinta yang besar itu untuk wanita di masa lalunya, bukan untukku,” ralat Sherin segera, sebelum Aura dan Quinsha salah menanggapi ucapannya.
“Kanaya?” tanya Aura. Sherin mengangguk.
“Apa om Alarick sudah menceritakan perihal Kanaya kepadamu?” tanya Aura lagi. Dan kali ini Sherin juga kembali mengangguk.
“Kamu pasti sudah tau tentang Kanaya dari dulu ya, Ra?” tanya Sherin pada Aura.
“Gak, Rin. Aku juga baru tau belakangan ini. Itu pun hanya cerita sekilas saja. Aresh gak mau cerita lebih lanjut tentang masa lalu om Alarick. Katanya itu privasi dia,” terang Aura.
Sherin mengangguk, dan terlihat tatapannya menerawang.
__ADS_1
“Apa kita berhenti dulu? Aku cari tempat yang enak buat kita ngobrol ya,” tawar Quinsha.
“Mau ngapain?”
“Ya, buat kamu bisa cerita, Sherin,” sahut Quinsha.
“Kita ini mau ke Darul-Falah, mau menghadiri acara reuni. Kok, Masih mau berhenti untuk ngobrol,” protes Sherin.
“Gak papa, Rin. Aku dan Quinsha prioritaskan kamu dulu. Biar kamu baik-baik aja,” kata Aura yang mendapat isyarat persetujuan dari Quinsha.
“Aku baik-baik aja, kok.”
“Bener?”
“Ya, Insya’Allah,” jawab Sherin meyakinkan. Aura dan Quinsha saling pandang, seakan meragukan jawaban dari Sherin.
“Tapi tunggu! Sherin, kenapa kamu barusan bilang, setelah tamat? Apa itu maksudnya?” Quinsha menatap Sherin penuh selidik. untungnya hanya sesaat, karena gadis itu sadar kalau sedang mengemudi dan segera mengembalikan fokus pandangan ke arah jalan.
“Jangan aneh-aneh ya, Sherin!” Quinsha memperingatkan.
“Dan jangan macam-macam!” sambung Aura.
“Aku gak aneh kok, dan gak bermacam-macam. Hanya satu macam saja,” jawab Sherin kembali berkelakar.
Dan seperti yang sudah diperkirakan, mereka memang datang terlambat. Saat tiba di pesantren, acara reuni sudah dimulai sejak hampir satu jam yang lalu. Akan tetapi ketiga wanita cantik berhijab yang memang sudah bersahabat sejak dari pesantren itu, tetap antusias mengikuti acara dan bergabung dengan seluruh alumni yang lain.
__ADS_1
“Terima kasih ya, hadirnya.” Itu ucapan Bayhaki Arfan yang tetiba saja sudah menghampiri ketiganya, seusai acara.
Sherin dan Aura hanya saling melempar pandang, dan lalu beralih tatap pada Quinsha—meminta gadis itu saja untuk menjawab pertanyaan Arfan—tapi Quinsha malah hanya mengangguk kecil saja.
“Saya tadi sempat berpikir, kalian tak akan datang,” lanjut Arfan.
“Ya, kami sedikit terlambat, karena masih ada proses pemeriksaan ketat, tapi syukurlah kami lulus,” jawab Sherin. Ia berinisiatif untuk menjawab, mana kala dilihatnya, Quinsha masih menunjukkan tanda enggan berkata-kata. Wanita cantik itu memang cenderung kehilangan segenap kosa kata dalam kepalanya kalau sudah berhadapan dengan ‘sang raja hati’ yang kini berdiri tepat di depan mata.
“Ada pemeriksaan? Di mana?” tanya Arfan tak mengerti. Karena sepengetahuannya, tak ada proses pemeriksaan sama sekali untuk masuk ke area pesantren ini.
“Di pos depan rumah,” celetuk Aura diiring tawa renyah.
“Oo.” Arfan mengangguk saja, walau tak sepenuhnya paham maksudnya.
Selanjutnya Arfan mengalihkan fokus pandangan dan ucapan hanya pada Quinsha seorang. “Ada hal yang perlu saya bicarakan, apa kamu ada waktu? Sebentar saja.”
Sebelum menjawab, Quinsha terlebih dahulu menatap Sherin dan Aura seakan meminta pendapat. Kedua orang sahabatnya itu segera mengangguk menyilakan. Namun belum lagi Quinsha menyampaikan jawaban, tetiba ada sapaan akrab dari beberapa alumni Darul-Falah yang menghampiri mereka.
“Apa kabar, trio VVIP Darul-Falah?”
Tentu saja yang dimaksud adalah, Aura, Sherin dan Quinsha. Ketiga orang yang bersahabat sejak dari pesantren itu memang sempat mendapat julukan demikian karena eksistensi mereka sebagai santri teladan, yang beberapa kali menyabet penghargaan.
“Kabar baik pastinya ya, kalian benar-benar luar biasa deh. Yang satu jadi istri juragan perkebunan teh, yang satu istri pemilik perusahaan,” seloroh yang satunya. Tentu saja yang dimaksud itu adalah Sherin dan Aura.
“Dan yang satu, akan jadi istri seorang artis terkenal. Luar biasa kalian,” timpal yang satunya lagi.
__ADS_1
Haduhh. Berita itu lagi. Ternyata sudah sampai ke Darul-Falah ini. Quinsha memilih diam, ketika penjelasannya tak diindahkan. Sedangkan Arfan, pemuda itu segera pergi menghindar, sebelum maksud kedatangannya tersampaikan.