Ternyata, Sahabatku Mertuaku

Ternyata, Sahabatku Mertuaku
Cinta Tak Bertuan 74


__ADS_3

“Saya yang nyetir.”


“No,” tolak Rafardhan singkat.


“Saya aja yang nyetir. Karena sepertinya kamu sedang tidak fokus sekarang,” cetus Quinsha.


“Saya hanya gugup aja, Quin.”


“Maksudnya?”


“Ya, duduk di dekat gadis cantik seperti kamu, konsentrasi saya terpecah kemana-mana,” jawab pemuda tampan itu sambil kembali menebarkan senyumnya yang menawan.


Apalagi ini? Sungguh Rafardhan sudah membuat Quinsha mengalami spot jantung berkali-kali di pagi ini. Tapi tenang. Quinsha sadar diri kok, kalau Rafardhan itu hanya membual.


Semobil bersama Quinsha, bukan pertama kalinya bagi Rafardhan. Pada waktu itu ia baik-baik saja, gak ada ucapan seperti ini. Apalagi ini maksudnya, kalau bukan hanya sekedar menggoda.


“kosakata kayak gitu, buat kamu pasti udah di luar kepala ya,” tukas Quinsha pada Rafardhan.


“Justru saya baru mengucapkannya sekarang sama kamu, Quin. Dan saya mempelajarinya dari tadi sambil menyetir,” kilah Rafardhan. Tapi kira-kira Rafardhan memang gak bohong. Sebagai artis terkenal yang berwajah tampan menawan. Ia tak perlu susah-susah mengeluarkan kata rayuan. Karena hanya dengan sedikit mengeluarkan senyum, yang melihatnya sudah dibuat salah tingkah dengan angan yang melambung.


“Masih ingin berdebat? Kamu bisa telat lho!” Rafardhan kemudian mengingatkan saat dilihatnya Quinsha masih diam saja.


“Saya memang sudah terlambat, dan semua ini gara-gara kamu,” ketus Quinsha.


“Kenapa gara-gara saya?” Rafardhan terlihat tidak terima. Padahal aslinya dia sadar, kalau ucapan Quinsha itu memang benar.


“Apa perlu saya uraikan panjang lebar?”


“Ya, silakan! Kalau kamu mau kasih saya kuliah di pinggir jalan, saya sih ikhlas saja.”


Tak perlu memberi jawaban, Quinsha segera masuk ke mobil kembali, di susul oleh Rafardhan yang lagi-lagi merasa menang kali ini.


“fokus! Jangan kayak tadi!” nasihat Quinsha saat mobil kembali melaju.


“Iya,” jawab Rafardhan singkat.


“Saya gak mau celaka,” tambah Quinsha.


“Kalau celaka, kan sama saya,Quin.”


“Maksudnya?”

__ADS_1


“Jadi kita terbang berdua ke Syurga, nanti.”


QUinsha hanya menatap Rafardhan sesaat, sebelum melafazkan istighfar sambil mengusap dada. Sikap Quinsha ini bisa diartikan dua hal. Pertama ia memohon perlindungan pada Allah, untuk terhindar dari kejadian seperti yang disebut oleh Rafardhan.


Dan kedua, bisa jadi ia sedang meminta Allah untuk menjaga hatinya agar tak terlena mendengar kata-kata Rafardhan yang beberapa kali mengandung rayuan maut dari tadi.


Sepanjang perjalanan kali ini, Rafardhan kembali mengulang sikapnya seperti tadi. Diam, dengan tatapan lurus ke depan. Sesekali Quinsha menoleh ke arahnya. Karena diamnya pemuda tampan ini tidak bisa diartikan kalau dia sedang berkonsentrasi. Buktinya tadi, ia terlihat fokus, nyatanya setengah kesadarannya sedang berkelana, hingga hampir saja membuat orang lain celaka.


“Baru tau ya, kalau saya tampan?” tiba-tiba saja Rafardhan bertanya demikian. Pada saat Quinsha menatap ke arahnya untuk ke sekian kali.


“Alhamdulillah, berarti kamu sedang sadar sekarang, bukan lagi melamun seperti tadi,” kata Quinsha sembari menarik napas lega.


“Justru saya sedang menikmati, diliatin sama kamu terus dari tadi,” sahut Rafardhan tak lupa dengan menyertakan senyuman.


Memang benar, Rafardhan memiliki sepasang bola mata hitam pekat seperti Alarik dan Damaresh William. Di mana bola mata pekat itu memang dimiliki oleh hampir semua keturunan William, kecuali Claudya dan Anthoni. Hanya bedanya di sini, kalau anggota keluarga William kebanyakan adalah orang-orang yang pelit dalam hal memberikan senyuman—apalagi Damaresh yang oleh Aura dulu disebut sebagai pria yang terlahir tanpa senyuman—Rafardhan justru sebaliknya, dia sering menyematkan senyum kala bicara.


Mungkin memberikan senyuman itu adalah tradisi dalam dunia artis yang harus ia ikuti. Tersenyum manis di depan kamera adalah hal wajib yang harus dilakoni. Tapi masalahnya kini, pemuda itu sedang bersama Quinsha, bukan sedang berhadapan dengan para fans yang cenderung memuja.


Seharusnya, Rafardhan lebih mengondisikan senyumnya. Hal ini, adalah deretan kata protes yang berjejer dalam benak Quinsha. Pasalnya, gadis itu harus beberapa kali tahan napas, karena melihat senyuman indah Rafardhan.


Sayangnya, Quinsha tak dapat mengajukan Protes itu secara langsung, karena sudah pasti, dirinya akan menjadi bulan-bulanan tawa oleh si artis tampan ini.


“Saya gak ada maksud apa-apa kok. Saya Cuma kawatir kalau kamu kembali gak fokus seperti tadi.”


“Terima kasih untuk apa?” tanya Quinsha.


“Pertama karena kamu sudah menghawatirkan saya, dan karena kamu sudah sering-sering melihat wajah saya. Semoga wajah saya ini tak akan pernah hilang dari ingatan kamu.”


“Semua orang pasti ingat wajah kamu. kamu 'kan artis terkenal," kata Quinsha.


“Tapi saat ini, saya ingin kamu yang mengingat wajah saya,” cetus Rafardhan.


“Semoga setiap kalimat kamu dari tadi itu, bukan karena kamu lagi menghafalkan dialog ya,” harap Quinsha yang merasa tak nyaman juga dijejali kalimat yang melambungkan perasaan seperti itu.


Rafardhan tertawa lepas mendengarnya. Dan sungguh, wajahnya itu jadi kian tampan saja dengan ekspresi lepas begitu.


“Wajah kamu mengingatkan saya pada seseorang,” ujar Quinsha sesaat setelah Rafardhan mengahiri tawanya.


“Siapa?”


“Damaresh William. Wajah kalian sekilas dilihat kayak ada kemiripan,” kata Quinsha seraya kembali menatap Rafardhan. Mungkin Quinsha sedang terlupa, kalau sebenarnya, ada yang wajahnya lebih mirip dengan Rafardhan selain Damaresh.

__ADS_1


“Damaresh William,” ulang Rafardhan.


“Iya, keturunan keluarga konglomerat William Pramudya. Mungkin kamu pernah dengar?”


“Ya, sedikit,” sahut Rafardhan. Dan pemuda itu segera menutup bahasanya hingga tiba di Nada Hikam.


“Kamu sudah terlambat, Quin,” kata Rafardhan setelah melihat yayasan sudah sepi.


“Ya, terlambat setengah jam.” Quinsha segera bersiap untuk turun dari mobil.


“Jam berapa kamu pulang?” tanya Rafardhan.


“Di atas jam 13.”


“Saya tunggu,” putus Rafardhan.


“Hah? Saya tidak salah dengar?” Quinsha menatap pemuda tampan itu keheranan.


“Saya tunggu kamu di sini sampai kamu pulang nanti,” ulang Rafardhan penuh kemantapan.


QUinsha jadi urungkan niatnya untuk membuka pintu mobil. Ia malah memperbaiki posisi duduknya dan menghadap Rafardhan. “Kamu lagi ada masalah ya? Atau kamu lagi berseteru dengan manajer kamu?”


“Gak,” jawab Rafardhan singkat.


“Lalu kamu kenapa?”


“Saya hanya sedang banyak pikiran,” jawab pemuda tampan itu, dan kali ini wajahnya terlihat datar saja.


“Ada yang bisa saya bantu?” Quinsha menawarkan. Seperti beberapa waktu lalu, saat Rafardhan menawarkan diri untuk membantu Quinsha yang bak kehilangan arah dan kehujanan di jalan.


“Beneran, kamu mau bantu saya?” kali ini Rafardhan menatap Quinsha dengan sorot mata penuh kesungguhan.


“Jika saya mampu,” jawab Quinsha.


“Hanya satu yang bisa kamu lakukan jika ingin bantu saya.”


“Apa?” tanya Qhinsha.


“Jadi pacara saya, Quin.”


*********

__ADS_1


adakah yang mau mewakili Quinsha untuk menjawab permintaan Rafardhan?? tunjuk tangan!....


__ADS_2