
“Tapi kamu gak mengonsumsi itu ‘kan?” Tanya Quinsha dengan suara bergetar.
Rafardhan menatapnya lembut dan menggeleng pelan. “Gak, sayang. Kalau Narkotika dengan segala jenisnya, aku belum pernah. Meski aku hidup di dunia seperti ini. Tapi kalau alkohol, aku cukup sering.” Rafardhan menunduk, menyadari kalau istrinya tak akan senang dengan jawaban ini. Tapi ia hanya berkata jujur, dari pada Quinsha malah tahu dari orang lain.
Sedangkan Adam tetap tenggelam dengan kemarahannya yang memuncak. “Gue akan sewa pengacara handal di Jakarta, gak peduli berapa bayarannya,” ucapnya sambil berdecak. “Gue yakin lu dijebak,” sungutnya.
Adam tak habis pikir sebesar apa kekuatan orang yang ada dibalik peristiwa ini, sampai untuk menemui Rafardhan saja sampai sesulit ini. Bahkan pengacara yang ia ajukan juga tak segera mendapatkan persetujuan. Ini sungguh di luar kewajaran.
Tak hanya itu, Adam juga dipusingkan dengan telepon yang berdering tiada henti dari sejak berita penangkapan Rafardhan itu bergulir. Belum lagi ancaman kalau peran Rafardhan dalam film yang sedang digarap itu akan digantikan oleh orang lain. Atau paling parahnya, proses Syuting akan berhenti total, dan pihak Rafardhan terancam harus membayar kerugian.
Adam benar-benar pusing bukan hanya tuju putaran. Tapi lebih dari sepuluh kali lipatnya. Ia terus memutar otak, memikirkan cara bagaimana bisa mengatasi semuanya. Hal ini berbeda dengan Quinsha yang terlihat duduk tenang di samping Rafasya dengan tangan yang saling menggenggam. Sementara dalam hati senantiasa terlafaz doa, semoga Yang Maha Menolong memberikan pertolongan di saat yang dibutuhkan.
Tapi baik Quinsha dan Rafasya, maupun Adam sama-sama melihat dengan seksama, tatkala dua orang petugas berseragam lengkap datang ke arah mereka. Sudah dapat diduga, mungkin mereka akan mengatakan kalau jam kunjung mereka sudah habis.
Quinsha kian mempererat genggaman tangannya di tangan Rafardhan. Seakan memberi isyarat, kalau tak ingin jauh dari suaminya itu. Rafardhan pun mengusap punggung tangan istrinya itu dengan lembut, untuk menenangkan. Meski dirinya juga berada dalam kekawatiran yang tak kalah besar.
__ADS_1
“Rafardhan Malik,” sapa salah satunya. Menyapa apa memanggil ya? Dari intonasinya gak bisa dibedakan.
“Iya.” Rafardhan sigap segera berdiri.
“Ikuti kami!” titahnya dan segera berbalik badan.
“Dia mau dibawa kemana?” tanya Adam segera.
“Ikuti saja,” jawab yang satunya.
Adam segera memberi isyarat pada Quinsha untuk mengikuti pula. Mereka melangkah hampir beriringan dengan perasaan tak karuan, serta debaran yang susah dikondisikan.
Sesekali Quinsha menoleh pada Rafardhan, mengutas tanya dalam diam. Dan setiap kali ditatap, pemuda itu selalu memberikan senyuman. Seakan mengatakan, aku baik-baik saja, kamu tidak perlu kawatir.
Quinsha pun segera menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Husnudzon, atau berbaik sangka, itu yang selalu ia terapkan. Lebih tepatnya, belajar diterapkan sekarang.
__ADS_1
Langkah mereka terus terayun mengikuti dua petugas yang terus membawa mereka pada bagian depan gedung kantor yang megah. Dan terus menuju sebuah ruangan berpintu besar yang bertuliskan, DIREKTORAT RESERSE NARKOBA. Entahlah, kenapa terasa ada desir halus yang menjalar dalam dada Quinsha saat membaca tulisan itu.
Gadis itu bahkan hentikan langkahnya untuk sesaat, tapi Rafardhan menarik tangannya untuk terus melangkah, mengikuti Adam dan dua petugas itu yang sudah ada beberapa langkah di depan.
“Harusnya aku yang menguatkan kamu, tapi malah kamu yang selalu menguatkan aku,” ucap lirih Quinsha dengan tertunduk.
“Kamu pasti merasa lebih sakit dari padaku, atas semua kejadian ini,” sahut Rafradhan pelan, seraya menggenggam erat jemari Quinsha.
“Maafkan aku, sayang.”
“Berhentilah meminta maaf. Tak ada dalam dirimu yang harus kuberi maaf. Kamu gak salah. Dan aku akan terus dukung kamu sampai akhir,” tegas Quinsha dengan tekad yang membara di dada.
“Terima kasih, dukunganmu sudah sangat lebih dari cukup.” Rafardhan membawa tangan Quinsha ke depan wajahnya dan mengecupnya pelan.
Pasangan ini merasa lebih tenang sekarang setelah saling menguatkan. Hal ini berbeda dengan Adam yang justru semakin tak nyaman saat menyadari kalau kini mereka menuju ke ruangan Direktur DITRES Narkoba. Entah hal apa yang telah menghadang mereka di depan sana. Adam menghela napasnya kuat, saat pemikiran buruk kian menggelayut
__ADS_1