
Tak ada yang tahu, dan juga tak sempat mencari tahu, bagaimana tiba-tiba para awak media itu sudah berkumpul di luar gedung Polda. Dan mereka mendekat tanpa dapat di cegah, saat Rafardhan beserta keluarga keluar hendak menuju mobil masing-masing.
Sebenarnya para pengawal Damaresh akan sangat mampu mengatasi mereka yang berjumlah belasan orang itu, jika saja ada isyarat dari penguasa Pramudya Corp tersebut. Tapi kali ini ia tak memberikan perintah apa-apa. Membuat semua orang kepercayaannya hanya berdiam saja. Namun, mereka tetap siaga, andai akan ada hal-hal yang tak terduga.
Adam saling melempar tatap dengan Rafardhan, untuk berbagi tugas siapa yang akan memberikan penjelasan pada wartawan—yang sudah menjejali mereka dengan pertanyaan. Sementara bidikan kamera sudah tak henti mengambil gambar. Pun rekaman yang tak hanya berdurasi singkat tapi pasti cukup panjang, sejak awal sudah diarahkan.
Adam mengangguk kecil, menyatakan diri siap untuk menjadi juru bicara, menjawab segala pertanyaan yang ada. Namun, belum sempat ia membuka suara, tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berhenti di dekat kerumunan itu. 4 orang bodyguard berbadan tinggi besar segera mengelilingi mobil tersebut untuk mengamankan.
Melihat gelagat itu, hampir semua perhatian jadi teralihkan. Dan Kini mereka dapat melihat saat seorang lelaki yang sudah berumur tapi masih terlihat berwibawa, keluar dari tunggangan mewah tersebut dengan dibantu seorang ajudan. Selanjutnya, pria itu duduk di atas kursi roda, yang segera di dorong ke tengah kerumunan.
“Kakek.” Damaresh dan Alarik sesaat saling pandang heran. Tak menyangka kalau William Pramudya ikut menyusul ke Bali. Padahal, saat Alarik menghubungi Damaresh terkait kasus yang tengah menimpa Rafasya, suami Aura itu hanya memberitahu istrinya saja, tidak pada keluarga yang lain. Tapi jika sampai William tahu berita ini, tak perlu diherankan. Karena Rafardhan memang artis terkenal, ketika ia tersandung kasus, semua media pasti memuat tentang beritanya dan menyiarkan.
“Ijinkan aku yang menjawab pertanyaan mereka,” ujar William pada Alarik dan Damaresh yang memang berdiri berdampingan.
Belum lagi Alarik dan Damaresh menjawab, terdengar salah satu awak media yang mengajukan pertanyaan dengan cukup lantang dan jelas. “Tuan William, ada hubungan apa keluarga William dengan Rafardhan? Kenapa kalian semua ada di sini?”
__ADS_1
“Rafasya Aditya Zaidan, atau yang kalian sebut Rafardhan itu adalah anggota keluarga William. Dia cucu kandungku. Dia putra Alarik William anak bungsuku.” Demikian jawaban tegas dan lantang dari William Pramudya.
Sontak jawaban itu menciptakan keheningan, hingga seakan hanya suara semilir angin saja yang terdengar. Mereka masih speachless untuk beberapa saat. Dan keheningan itu seketika tersulap menjadi kegaduhan, karena dari tiap mereka saling tanya seakan tak percaya.
“Dan atas kasus yang sedang menimpa cucuku sekarang.” Sesaat William menatap pada Rafardhan yang juga menatapnya—dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
“Kami tidak ingin mengatakan kalau dia difitnah, dijebak, dan lain sebagainya. Karena untuk hal itu perlu adanya pembuktian secara jelas. Tapi aku tekankan, atas hal ini, kami keluarga besar William tidak akan tinggal diam.” Suara William terdengar jelas dan lantang. Ekspresi wajahnya juga menampakkan kesungguhan. Ditambah lagi dengan sorot matanya yang tajam, menampakkan betapa marahnya ia, ketika salah satu keluarganya diusik dengan berita yang tak benar.
Sementara kamera wartawan yang mengarah kepadanya kian mempertegas tekad yang telah ia cetuskan. “Kami akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini hingga selesai. Dan aku tak akan berhenti, sampai cucuku mendapatkan keadilan,” tambahnya lagi.
“Aku pikir, keterangan ini sudah cukup. Dan selanjutnya, teman-teman wartawan bisa memantau sendiri kasus ini hingga selesai.” William mengakhiri orasinya dengan senyum penuh wibawa.
Pada saat itulah, para pengawal melakukan perannya, dengan menghalau para wartawan untuk menjauh dari keluarga besar pengusaha kelas atas itu.
William memutar kursi rodanya dan menatap pada sang cucu kebanggaan. “Aresh!”
__ADS_1
Damaresh menjawab dengan tatapan saja pada sang kakek.
“Kau tau, apa yang harus kau lakukan?”
“Orang-orangku sudah bergerak, Kakek.”
“Bagus.” William mengangguk puas. “Berapa lama waktu, aku harus menunggu kabar dari mereka?” tanyanya lagi.
“Tidak akan lebih dari 2 kali 24 jam,” sahut Damaresh memastikan.
William menatap kurang puas setelah mendengar jawaban dari cucunya itu.
“Jika saja kasus ini tidak terkait dengan kepolisian, aku bisa menyeret pelakunya ke hadapanmu dalam 24 jam, Kakek. Tapi di sini ada batas-batas hukum yang tidak boleh kita langgar,” urai Damaresh yang merasa paham arti tatapan kakeknya.
William mengangguk setuju. “Aku serahkan padamu. Aku hanya ingin, siapa pun pelaku di balik semua ini. Jangan biarkan dia merasa aman, karena sudah berani mengusik cucuku,” putus William penuh penekanan.
__ADS_1
Damaresh mengangguk. Karena memang hal itu pula yang menjadi tekadnya sekarang.