
“Bagaimana caranya agar berita tentang aku dan Rafardhan itu tak semakin merebak begini ya?” tanya Quinsha serius. Ia sudah bisa membayangkan kalau selanjutnya, hidup Quinsha akan terusik jika berita yang tak benar itu tidak segera ditampik.
“Pihak artisnya yang lebih punya kekuatan untuk menghentikan berita ini menurutku,” sahut Aura “Tapi dilihat barusan, Rafardhan itu seperti enggan untuk memberikan keterangan apapun,” lanjut Aura lagi. Dan memang benar seperti penilaian Aura. Rafardhan yang baru keluar dari lokasi syuting segera dicecar dengan beberapa pertanyaan oleh beberapa awak media yang telah menunggunya.
Tapi, tak ada keterangan apapun yang terucap. Ia hanya tersenyum singkat sebelum masuk ke mobil. Setali tiga uang dengan manajernya yang hanya mengucapkan kata ‘maaf’ tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.
Menurut Aura, seharusnya sang artis segera menglarifikasi berita tentang dirinya, jika itu memang tidak benar dan berpotensi mengganggu kenyamanan. Lain halnya jika dengan adanya berita ini, ada sisi keuntungan yang ia dapatkan, entah berupa hal apa. Dan Aura lebih cenderung pada kemungkinan yang kedua. Karena tak mungkin seorang artis terkenal membiarkan dirinya jadi bulan-bulanan berita yang tak benar, kalau tidak ada sisi lain dari berita tersebut yang membuatnya berada di pihak yang diuntungkan.
“Tapi ini hanya menurut penilaianku saja, sih,” pungkas Aura di akhir penjelasannya.
“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Quinsha dengan raut mulai panik.
“Tanyakan padanya! Jika kalian punya kesempatan bertemu. Atau jika kau tau alamatnya, dia sekarang ada di kota ini juga ‘kan? Temui dia langsung!” usul Sherin.
“Tapi harus hati-hati juga, jika kedatanganmu padanya diketahui wartawan, itu bisa menambah kuat pemberitaan,” sambung Aura.
“Hadeuhh.” Quinsha jadi menepuk jidatnya. Ia benar-benar kebingungan sekarang.
“Atau ambil jalan tengahnya saja, Sha," usul Sherin.
__ADS_1
“Apa?” Quinsha dan Aura sama-sama menatap pada istri Alarick itu.
“Nikmati saja pemberitaan ini. Toh, tidak ada yang dirugikan juga ‘kan? Malah sesuatu lho, kamu tiba-tiba saja jadi pacar seorang artis,” kata Sherin sambil cekikikan. Quinsha sudah siap untuk menyembur sahabatnya itu dengan kata-kata, tapi urung karena Alarick yang masuk ke ruangan bersama Claudya dan Damaresh.
Quinsha hanya bisa memendam segenap kalimat yang hampir mencuat itu dalam tatap. Sherin yang paham akan adanya aura kekesalan yang menggumpal dalam tatapan Quinsha, saling melempar senyum dengan Aura. Tapi ketiganya sama-sama fokus pada beberapa orang yang baru memasuki ruangan itu.
Claudya sejenak berbasa-basi dengan Aura dan kedua temannya, sebelum pamit pulang, dan disusul oleh Alarick yang akan segera pergi ke pabrik. Sepeninggal keduanya, Damaresh segera duduk di samping Aura seperti ada sesuatu yang ingin ia ucapkan pada istrinya itu. Sherin cepat melempar kode pada Quinsha untuk keluar ruangan.
“Besok, aku akan ke Jakarta,” ucap Damaresh seraya meraih tangan Aura dan menggenggamnya lembut. Aura perlahan mengangguk menyetujui, tapi tatapannya menyiratkan kekawatiran yang tak bisa ditutupi.
“Besok hari ulang tahun kakek. Tapi aku hanya sebentar saja di sana. Aku tak akan menginap,” ucap Damaresh lagi. Dan kali ini Aura tersenyum sambil kembali menganggukkan kepala.
“Aku sudah sehat, Aresh.”
“Maafkan aku, Arra.”
“Jangan selalu minta maaf, Aresh. Kamu gak salah.” Aura meraih tangan Damaresh dan mencium punggung tangan itu berkali-kali.
“Jangan pergi lagi!” pinta Damaresh sepenuh hati.
__ADS_1
“kamu juga jangan pergi, Aresh!” Aura menatap lekat sepasang mata Damaresh yang hitam pekat.
“Aku gak pernah pergi dan gak pernah punya niat untuk pergi darimu, Arra. Aku sedang berjuang untuk kita,” ungkap Damaresh.
(Author: Kisah ini terjadi bersamaan dengan saat Damaresh akan menghadiri ulang tahun William Pramudya—kakeknya—yang mana di sana, Damaresh memberikan hadiah ultah pada sang kakek berupa pengunduran dirinya sebagai CEO Pramudya Corp, demi mempertahankan rumah tangganya dengan Aura. Yang pernah baca CTT atau CINTAKU TERHALANG TAHTAMU, pasti ingat dengan alur cerita ini.)
“Maafkan aku, Aresh. Aku janji, aku gak akan pernah pergi. Tapi ...“
“Tapi apa?”
“Aku suka tinggal di sini,” jawab Aura dengan berbinar.
“Di kota ini?”
“Ya, tepatnya di sekitar rumah Om Alarick. Di sana pemandangannya sangat bagus. Hijau dan asri.”
Damaresh menanggapi dengan senyum celotehan istrinya itu sambil mengusap-usap keningnya. Tapi segera sebuah rencana ia susun untuk memenuhi keinginan sang istri tanpa perlu basa-basi.
Itulah sosok Damaresh William, cintanya pada sang istri tak terbatas, meski tak banyak kata yang bisa ia ungkap. Tapi rasa cintanya segera dibuktikan dengan bertindak. Manis sekali bukan?
__ADS_1